30.5.15
Makanan Bayi Perlukah Diberi Garam???
Hai bunda sebenarnya makanan bayi belum perlu garam, berikut ini penjelasannya, semoga bermanfaat...
Hasil penelitian di Jerman menunjukkan bahwa makanan bayi tak perlu dibubuhi garam. Mengapa? Rasa ingin tahu Anda terjawab di sini.
Bolehkah menambahkan garam pada bubur bayi? Jangan! Karena, reaksi bayi terhadap garam sangat sensitif. Begitu dia menerima garam dari makanannya, tekanan darahnya akan melonjak tinggi. Hal ini dapat berdampak jangka panjang. Di satu tahun pertama, usahakan makanan yang diberikan pada bayi tidak diberikan garam sama sekali. Dalam ASI, sayuran, kacang-kacangan dan daging sebenarnya sudah terdapat kandungan garam alami yang mencukupi kebutuhan bayi.
Jadi, haruskah makanan bayi hambar? Kitalah yang merasakan bubur bayi hambar, karena selera makan kita sudah terbiasa dengan rasa asin. Sementara pada bayi, langit-langit mulutnya belum berkembang sempurna dan dia belum memiliki preferensi rasa asin! Jadi, makanan yang kita anggap hambar, untuk bayi enak-enak saja.
Apakah ginjal bayi belum dapat memproses garam? Ya, ginjal bayi belum dapat memproses garam dalam jumlah tinggi. Bayi memiliki sistem pencernaan yang masih sangat rapuh, dan ginjal adalah salah satu organ bayi yang paling rapuh. Terlalu banyak garam dari sumber selain makanan alami seperti ASI, susu formula, sayur dan buah-buahan, dapat merusak ginjal bayi, bahkan dapat menyebabkan kerusakan otak.
Apa yang terjadi pada garam di ginjal? Setelah tubuh mengambil sari-sari makanan yang dibutuhkan dari makanan yang dikonsumsi, sisanya akan dibawa darah menuju ginjal. Jika ginjal tidak membuang sisa sari makanan tersebut, maka akan menumpuk dan merusak tubuh. Tugas ginjal adalah memastikan zat-zat seperti natrium (salah satu unsur garam), fosfor dan kalium dilepaskan ke darah untuk diedarkan kembali dalam tubuh. Dengan cara inilah ginjal menjaga keseimbangan zat-zat tersebut.
Jadi, kapan makanan anak boleh diberi garam? Kebutuhan garam bagi anak usia 6-12 bulan hanya 1 gram per hari dengan kandungan natrium 0,4 gram. Jumlah ini sudah terpenuhi dari ASI dan makanan pendamping ASI. Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kebutuhan garam sedikit lebih banyak: usia 1-3 tahun butuh sampai 2 gram per hari (mengandung natrium 0,8 gram). Di usia ini Anda dapat manambahkan garam maksimal ¼ sendok teh garam dapur sehari.
Bagaimana dengan keju, margarin dan mentega sebagai penambah rasa? Keju, margarin dan mentega (butter) memiliki rasa yang dapat membangkitkan selera makan anak. Mengingat anak yang lebih besar yang sudah dapat mentolelir lebih banyak garam, maka akan lebih baik bila keju, margarin dan mentega diberikan pada anak yang sudah siap menerima produk ini, yaitu usia 8 bulan. Carilah keju, margarin dan mentega yang rendah natrium dengan memeriksa label kemasan. Biasanya, dengan keterangan unsalted pada kemasannya.
Lalu, bagaimana dengan kebutuhan kolesterol untuk tumbuh kembang otak bayi usia 6-8 bulan yang belum boleh mengonsumsi margarin dan mentega? Kebutuhan tersebut bisa diperoleh dari ASI yang memenuhi 80% kebutuhan bayi. Bila Anda akan menambahkan kolesterol “baik” (High Density Lipoprotein –HDL) pada bubur bayi, bisa dengan minyak extra virgin olive oil. Tambahkan setelah makanan bayi matang dan dalam kondisi hangat.
Apakah bayi mau makan makanan dengan tambahan rempah dan bawang putih? Bayi adalah kosumen makanan yang pasif. Artinya, dia akan menerima makanan apa pun yang kita hidangkan untuknya. Namun, perlakukan tambahan “perasa alami” berupa rempah-rempah dan bawang putih seperti makanan baru bagi bayi Anda. Berikan tambahan satu per satu setidaknya selama empat hari, untuk membantu Anda mengidentifikasi dan menghindari bayi alergi pada makanan tambahan alami ini.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
11.5.15
Tips Agar Balita Aman Bergerak
Hai bunda,... berikut ini beberapa tips agar balita anda aman bergerak, semoga bermanfaat...
Selain menggemaskan, anak yang aktif berlarian, bergulingan, hingga melompat dari tempat satu ke tempat lain dianggap tengah menapaki tumbuh kembangnya dengan baik. Namun, karena koordinasi dan keseimbangan tubuh anak belum matang, balita kerap jatuh, terbentur dan menabrak apapun yang berada di dekatnya. Jangan langsung dilarang dan tidak perlu panik. Ikuti tip berikut ini, agar balita terhindar dari kecelakaan kecil ataupun besar saat beraktivitas.
- Amankan lingkungan. Singkirkan barang-barang yang berpotensi mengganggu ruang gerak anak, seperti meja, kursi, dan barang pecah belah. Tutup akses menuju tangga dengan memasang pintu yang dilengkapi kunci. Tinggi pintu tersebut harus melebihi tinggi badan anak agar tak bisa dilangkahi. Pilih perabot yang kokoh dan berat agar tidak mudah terguling ketika tersenggol atau menjadi tempatnya berpegangan. Gunakan pelindung perabot (rounder) yang tersedia di toko-toko furnitur, untuk membuat sudut tajam pada perabot menjadi lebih aman.
- Bantu anak bergerak. Di usia ini, wajar bila rasa ingin tahunya tinggi. Jika si kecil ngotot ingin menaiki tangga, biarkan saja. Namun, di langkah pertamanya jangan lupa untuk memegang tangan anak sambil terus mengikutinya turun-naik menapaki anak tangga. Bunda boleh melepaskan tangan anak jika sudah yakin keseimbangan dan langkahnya dalam berjalan sudah mantap.
- Kenakan pelindung saat main di luar. Biarkan anak bermain di luar rumah jangan dikurung terus. Untuk keamanan, siasati dengan menggunakan alat pelindung, seperti helm. Biasanya terbuat dari foam tebal yang telah teruji dapat melindungi kepala dari benturan yang menyebabkan cedera parah. Bahannya yang ringan dan elastis terasa nyaman di kepala, sehingga mendukung pertumbuhan kepala anak.
- Ajarkan anak bergerak dengan hati-hati. Beri contoh bagaimana seharusnya ia berjalan. Lakukan langkah kecil bersama dengan anak, akan lebih seru jika Ayah juga ikut. Agar tidak bosan lakukan sambil menyanyi lagu favorit anak. Beritahu anak untuk tidak berlari dan lebih baik berjalan perlahan hingga ia dapat memerhatikan benda di sekelingnya. Tekankan pada anak, tak apa jika ia ingin berpegangan pada benda di dekatnya.
- Pilih sepatu yang tepat. Saat berada di rumah, anak tak perlu diberi alas kaki untuk mengasah kemampuan koordinasinya. Sementara itu, untuk aktivitas di luar rumah, sebaiknya Bunda jangan memilih sandal. Karena hanya tertutup di bagian depan saja, pemakaian sandal justru akan mempersulit anak dalam melangkah dan kerap tersandung.
- Pilih sepatu bersol datar dan lembut. Dan hindari sepatu dengan pengganjal di bagian lekukan kaki dan yang ujungnya meruncing karena akan menghambat ruang gerak jemari. Pastikan sepatu anak berukuran pas, tidak sempit dan tidak terlalu longgar. Pilih sepatu dengan tali, kancing atau perekat yang dapat mengatur kekencangan sepatu secara tepat.
- Pijat perkuat otot kaki. Dengan rekomendasi dokter yang kompeten, lakukan pijat yang bertujuan menguatkan otot-otot kaki anak. Jangan sembarang membawa anak ke tukang pijat tradisional, dengan berbekal rekomendasi dokter yang kompeten, akan lebih baik jika Anda membawa si kecil ke fisioterapis.
- Perhatikan berat tubuh anak. Anak dengan berat badan berlebih lebih sulit menjaga keseimbangan tubuh saat berjalan atau berlari. Upayakan asupan makanannya seimbang, tidak berlebih dan tidak kurang. Fisioterapis dapat membantu anak yang memiliki berat berlebih dengan program yang tepat. Misalnya dengan teknik mendorong bola untuk melatih kemampuan motoriknya.
- Saat anak terjatuh dan perdarahan tak kunjung berhenti. Hal pertama yang dapat dilakukan saat anak terjatuh lalu mengalami luka terbuka yang menyebabkan perdarahan hebat adalah menekan dan membersihkan lukanya menggunakan handuk bersih. Jangan pernah mengoleskan gula ataupun pasta gigi, karena dapat menyebabkan infeksi. Secepatnya bawa anak ke rumah sakit.
Beberapa Tanda Perubahan Pola Makan Anak Sesuai Perkembangan Usianya
Hai bunda,... berikut ini beberapa tanda perubahan pola makan anak sesuai perkembangan usianya, semoga bermanfaat...
Secara alami, bayi konsumsi aneka makanan dari air susu ibunya. Awalnya, ketrampilan makan anak dikendalikan oleh berbagai refleks termasuk mengisap. Setelah usia 3 atau 4 bulan, refleks ini menghilang dan diganti oleh gerakan yang dikendalikan oleh aktivititas motorik. Bagaimana menandai perubahan ini?
Usia 4-6 bulan. Bayi mulai melakukan gerakan seperti mengunyah dan mulai tertarik makanan. Sudah bisa menggerakkan lidah dan makanan dari depan ke belakang. Kesiapan bayi konsumsi makanan dapat ditandai dengan mulai memasukkan benda-benda ke dalam mulut, atau tetap merasa lapar setelah menyusu. Di usia 6 bulan, bayi sudah dapat dikenalkan makanan semi cair seperti bubur biskuit atau bubur beras satu rasa.
Usia 6-8 bulan. Kesiapan makan masih sama dengan usia sebelumnya. Namun sudah bisa dikenalkan dengan makanan padat lain, seperti buah avokad, pure apel dan pure kentang. Bila saat pertama kali diberi makanan padat, ia mengeluarkannya kembali, tak perlu buru-buru menyimpulkan ia tidak doyan makan. Ini hanya bagian dari proses perkembangan ketrampilan makan. Rasa dan tekstur makanan yang berbeda dari ASI, belum terbiasa di lidah bayi. Kemampuan lidahnya untuk mendorong makanan, yaitu proses menelan pun belum sepenuhnya dimilikinya, karena jenis makanan yang dimakannya lebih padat ketimbang ASI.
Usia 8-10 bulan. Ketrampilan makan bayi sama dengan usia sebelumnya. Dengan kemampuan memegang dan memindahkan benda dengan cara menjumput, memindahkan benda dari satu tangan ke tangan satunya dan memasukkan benda ke dalam mulut, bayi usia ini sudah diberi finger food untuk dimakannya sendiri. Hingga usia 9 bulan, bukan menjadi masalah jika sesekali ia mengeluarkan makanannya dan itu bukan tanda ia tidak suka dengan makanannya. Jika anak sudah terampil menelan, ia butuh pembiasaan untuk beragam jenis rasa makanan. Secara alami, anak punya rasa takut pada makanan baru. Beri dia kesempatan untuk mengenalnya dengan mengulang-ulang mencobanya.
Usia 10-12 bulan. Gigi sudah mulai tumbuh lebih banyak sehingga ketrampilan mengunyah dan menelannya kian meningkat. Ketrampilan motoriknya berkembang dengan usahanya untuk makan sendiri menggunakan sendok. Di usia ini, bayi sudah dapat makan buah tanpa dihaluskan. Ia sudah bisa menggigit, mengunyah, dan menelan. Makanan seperti makaroni panggang atau kaserol, sudah dapat dimakannya dengan lancar.
Usia 12-18 bulan. Anak usia ini sudah dapat makan sendiri menggunakan sendok. Tekstur makananyapun sudah lebih kasar, seperti nasi, sayur brokoli, wortel, daging cincang, dan lainnya.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
9.5.15
Tips Menghadapi Anak Yang Suka Berebut Mainan
Hai bunda,... anak anda suka berebut mainan? Berikut ini tips menghadapinya, semoga bermanfaat...
Masih agak sulit memang meminta anak tiga tahun bermain bersama tanpa berebut. Meski, sebagai orang tua, Anda sudah berkali-kali melatihnya, dan membelikan mainan yang sama di antara anak-anak.
Fase egosentris. Konsep kepemilikan anak-anak usia ini masih pada tahap milikku milikku, milikmu milikku juga. Kalau sesuatu itu mirip punyaku, maka itu punyaku juga. Meski sebetulnya mereka sudah punya minat bermain bersama teman sebaya, "saya" dalam dirinya masih menjadi pusat dunia. Oleh karena itu, segala sesuatu diklaim menjadi miliknya. Perilaku demikian wajar saja dan orang tua tak perlu gusar saat mendapati anaknya berperilaku demikian. Tetapi bukan berarti orang tua boleh membiarkan. Anak perlu dibebaskan dari fase egosentris. Orang tua perlu melatih anak untuk berperilaku sesuai yang dikehendaki lingkungannya.
Beri pengertian. Menegur anak usia ini dengan mengatakan ia mencuri, bukan tindakan yang dianjurkan. Anak belum paham konsep kepemilikan, apalagi mencuri. Mengatakan "serakah" saat anak ingin menguasai seluruh mainan juga tidak tepat. Duduklah bersamanya, katakan dengan baik-baik bahwa mainan yang dibawanya itu bukan miliknya. Besok, saat ia bermain bersama temannya, ia harus mengembalikan mainan itu. Atau, saat anak bermain bersama kakaknya, Anda dapat berada di dekatnya. Ketika dia mulai merampas semua mainan sambil berkata, "Ini punyaku! Jangan Kakak, ini punyaku!" Katakan pada anak bahwa Anda membelikan mainan itu untuk ia mainkan bersama kakak atau teman lain. Kalau bersikap demikian terus, ia tidak akan punya teman bermain. Semua orang akan meninggalkannya.
Satu hal penting lain, Anda adalah model paling kuat yang dicontoh anak. Oleh karenanya, beri ia contoh dengan tidak mengambil atau meminjam sesuatu milik pasangan Anda tanpa lebih dulu minta izin.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
Bebaskan Anak Bereksplorasi Namun Tetap Aman
Hai bunda, balita senang dan gemar bereksplorasi? Meski membuat berantakan, bereksplorasi memberinya kesempatan untuk banyak belajar tentang dunia sekitar. Perhatikan beberapa hal ini, agar anak aman bereksplorasi.
- Amankan ruangan. Bagi balita, dapur, kamar mandi, laci-laci lemari adalah tempat menarik! Namun, tanpa pengawasan Anda, dia bisa terluka. Pastikan rumah adalah tempat yang aman untuk anak bereksplorasi. Beri kesibukan bereksplorasi. Jangan terlalu banyak melarang, sejauh hal-hal yang dieksplorasi anak tidak berbahaya. Sediakan material yang diperlukan. Tahan keinginan untuk selalu mengatur kecuali jika aktifitas tersebut memang perlu bimbingan.
- Koreksi bila balita Anda sudah melakukan sesuatu yang berbahaya, tidak sehat atau merusak. Misalnya dia sudah mulai melemparkan mainan atau memukul orang lain dengan sendok. Jelaskan padanya, “sendok itu untuk makan bukan untuk memukul orang.” Usahakan untuk tidak bereaksi berlebihan, tetap tenang ketika menghadapi hal tersebut. Jika dia tetap melakukannya, alihkan perhatiannya dengan aktifitas atau benda lainnya.
- Ajak anak mengeksplorasi dunia luar, jangan hanya di dalam rumah. Seperti, taman, pantai, atau playground. Selain mengenal dunia luar, anak juga bisa bertemu dengan anak-anak lain dan belajar sosialisasi.
- Ajak balita beraktifitas fisik. Menurut National Association for Sports & Physical Education, anak usia 1-2 tahun disarankan untuk melakukan kegiatan terstruktur selama 30 menit sehari. Kegiatan terstruktur adalah kegiatan yang dirancang dan diarahkan oleh orang tua yang bertujuan mengasah keterampilan tertentu. Misalnya melompat 5 menit sehari untuk menguatkan otot batang tubuh. Bermain puzzle setiap hari selama 10 menit untuk mengasah keterampilan motorik halus. Bermain di taman selama 30 menit setiap sore untuk mengasah keterampilan sosial. Selain itu, anak juga perlu setidaknya 60 menit untuk aktivitas tidak terstruktur atau bermain bebas.
- Sabar. Ikuti irama anak. Jangan paksa anak untuk melakukan berbagai hal dengan cepat sesuai waktu Anda, karena otak anak tidak mampu menyerap informasi yang diberikan dalam waktu singkat. Tak perlu mengomel saat anak membuat berantakan. Dan tak perlu panik jika sesekali anak terbentur atau tergores karena jatuh. Jatuh dan sakit akan membuat anak lebih berhati-hati.
Beberapa Cara Merangsang Otak Bayi
Hai bunda,... berikut ini beberapa cara merangsang otak bayi, semoga bermanfaat...
Otak bayi baru lahir terdiri dari 100 milyar sel sebagian sudah terhubung sejak lahir dan akan berakhir di usia 3 tahun. Hingga usia 6 bulan, otak bayi 75% besar otak dewasa. Sampai usia 8 bulan, otak bayi cukup untuk menanggapi kejadian-kejadian di sekitarnya. Beri stimulasi yang tepat!
- Lakukan pijat bayi dengan santai. Setiap pijatan merangsang sel saraf otak untuk saling terhubung.
- Lakukan senam ringan untuk bayi, misalnya gerakkan tangan bayi menyilang di depan dada sebanyak 4 kali.gerakkan kaki sperti mengayuh, sebanyak 4 hitungan. Bayi senang menikmatinya, asalkan tidak terlalu lama.
- Bicaralah dengan bayi apapun yang sedang Anda lakukan, dia akan belajar bicara dan berbahasa. Dengan memberi jeda di akhir kalimat, Anda mengajarkan pola bicara dan percakapan.
- Bicara dengan intonasi yang berubah ekstrem untuk merangsang otak.
- Menyanyilah untuk bayi setiap hari lagu yang sama, dengan mengulang-ulang nyanyian ini, bayi belajar memprediksi dan menghafal lagu.
- Tunjukkan gambar-gambar dari buku bayi dengan warna-warna terang dan kontras, tetapi tidak lebih dari dua gambar supaya bayi tidak bingung.
- Ajak bermain ciluk ba untuk mengajarnya tentang objek permanen, meski dia tidak melihat Anda bukan berarti Anda tidak ada. Ini memberikan landasan kepercayaan bayi terhadap Anda.
- Tirukan ekspresi dan suara bayi supaya dia belajar bahwa dia bisa memberi pengaruh pada lingkunganya.
- Ubah posisi bayi setiap 30 menit agar dia dapat melihat sekeliling dari beberapa sudut pandang. Berdiri tegak, tengkurap dan telentang. Pangku dia di pangkuan, goyang dengan lembut kaki Anda untuk mengajarnya tentang terak.
- Untuk menguji pendengarannya, bunyikan rattle di dekat telinganya, kemudian kea rah belakang. Dia akan belajar memusatkan pendengarannya pada bunyi.
- Beri bayi benda-benda aneka tekstur untuk disentuh.
- Berikan mainan yang aman untuk digigit-gigit supaya bayi belajar mengenal tekstur lewat lidahnya.
- Bernyanyi dan bertepuk tanganlah supaya bayi menirukan gerakan tepuk tangan. Tepuk tangan penting untuk koordinasi kedua belahan otak bayi.
- Ajak anak keluar rumah, tunjukkan berbagai mahkluk hidup dan benda-benda di luar rumah.
- Beritahu bayi Anda mencintainya. Bayi akan segera belajar arti cinta Anda sebelum dia mampu membalasnya.
- Kenalkan bayi dengan anak lain, misalnya mengajaknya keluar rumah untuk melihat anak lain yang lebih besar sedang bermain, atau, seringlah bertemu saudara sepupunya.
7.5.15
Tips Mengajarkan Pada Balita Supaya Menjadi Balita Yang Mandiri
Hai bunda,... berikut ini tips mengajarkan pada balita anda supaya menjadi balita yang mandiri, semoga bermanfaat...
“Bangun tidur ku terus mandi tidak lupa menggosok gigi, habis mandi ku tolong ibu membersihkan tempat tidurku…” lagu yang sudah pasti tak asing di telinga Anda. Tanpa Anda sadari, lagu ini mengenalkan ritual pagi pada anak, yaitu menggosok gigi dan membersihkan tempat tidur. Jika rutinitas ini dilakukan secara berkala, artinya anak sudah belajar disiplin. Tak hanya itu, anak juga sekaligus belajar menjadi anak yang mandiri. Ia tak lagi butuh bantuan Anda untuk merapikan tempat tidurnya.
1. Merapikan tempat tidur
Ada yang mengatakan, terlalu dini menyuruh anak membereskan tempat tidurnya sendiri. Ya, hal ini memang masuk akal, mengingat kemampuan motorik halus anak belum terlatih secara maksimal. Sehingga ia belum bisa melipat selimut dan merapikan seprei selicin Anda. Namun, tak ada salahnya jika Anda libatkan si 2 tahun dengan kegiatan ini. Tak harus rapi seperti Anda, cukup dengan menata bantal dan guling, serta melipat selimut saja. Nilai yang perlu dikenalkan sebenarnya adalah kebiasaan merapikan kembali apa yang sudah dipakai.
Tips:
• Awali dengan tugas ringan seperti merapikan letak bantal, guling, dan
melipat selimut yang ia pakai.
• Hindari membiarkan si kecil melakukan hal ini sendiri pada tempat tidur Anda juga, apalagi jika ia sudah tidur sendiri. Karena anak butuh contoh pada setiap kegiatan yang Anda ajarkan.
2. Memilih pakaian
Keterampilan melepas dan memakai baju sendiri biasanya muncul di usia 1,5 tahun. Usia 2 tahun, kemampuannya bertambah menjadi mau memilih baju sendiri, tidak mau dipilihkan lagi. Biarkan ia berkreasi dengan gayanya sendiri. Hal ini akan membantu anak Anda dalam berani mengambil keputusan. Namun bila pakaian yang ia pilih sangat tidak sesuai dengan momen yang akan dihadiri, segera berikan penjelasan.
Tips:
• Pisahkan pakaian anak berdasarkan kegiatan, misalnya pakaian rumah, pakaian jalan-jalan, dan pakaian pesta. Kenalkan anak dengan pengelompokan pakaian ini, selebihnya, biarkan ia yang memilih.
• Tahan keinginan Anda untuk menawarkan bantuan pada si kecil jika tidak diminta. Baginya, bantuan Anda adalah bentuk interupsi terhadap kemandiriannya.
3. Menyisir rambut
Berikan panduan pada anak untuk menyisir rambut setelah mandi. Mulailah dengan menarik rambut ke belakang lalu merapikannya sesuai dengan belahan rambut yang sesuai dengan gaya rambut anak. Dan lakukan di depan cermin untuk memudahkan anak.
Tips:
• Pilih sisir khusus anak yang mudah digenggam, bergigi jarang, dan memiliki ujung yang lembut.
• Agar rambutnya tidak susah disisir, gunakan sampo khusus balita dan tambahkan sedikit lotion rambut.
4. Sarapan
Sarapan dengan jumlah kalori yang tepat setiap pagi merupakan kebiasaan yang tepat sebab akan memberikan energi pada anak untuk menjalankan aktivitasnya sepanjang hari. Ada penelitian di Amerika Serikat terhadap anak-anak yang membuktikan anak yang tidak suka sarapan memiliki prestasi yang rendah, serta bermasalah dalam belajar dan berperilaku, dibandingkan dengan anak yang sarapan.
Tips:
• Pilih menu makanan sehat yang cocok untuk usia balita dan sajikan sesuai dengan porsinya. Jangan lupa untuk memberikan kreasi menu, plus hiasan menarik, agar anak makin semangat melahap masakan Anda.
• Temani si kecil sarapan karena makan sendiri tidak asyik, Bunda.
5. Sikat gigi
Si dua tahun sudah menyantap makanan seperti yang Anda makan, sehingga ia perlu dikenalkan dengan kegiatan menyikat gigi. Ia pun sudah bisa dipercaya untuk melakukannya sendiri. Sikat gigi dilakukan dua kali sehari, yaitu satu kali sesudah sarapan dan satu kali sebelum tidur malam. Berikan contoh gerakan menyikat gigi pada anak di depan cermin, dan lakukan kegitan ini bersama-sama dengan Anda agar ia lebih semangat.
Tips:
• Pilih sikat gigi khusus anak, ciri-cirinya: ukuran kepala sikat kecil kira-kira 1,5 cm sama dengan panjang bulu sikat, bulunya halus, serta memiliki gagang cukup lebar dan tebal. Bila perlu, biarkan memilih warna atau gambar yang ia suka.
• Cipta suasana yang menyenangkan selama gosok gigi, seperti sambil bernyanyi atau bercerita tentang sosok jagoan yang rajin sikat gigi.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
Subscribe to:
Posts (Atom)


