20.1.16
Tips Ciptakan Bayi Yang Bahagia Dan Sehat
Hai bunda,... berikut ini tip ciptakan bayi yang bahagia dan sehat, semoga bermanfaat ya?
Anda boleh bangga, tiga minggu setelah melahirkan, Anda mulai mahir membedakan ‘irama’ tangis pertanda si kecil lapar, dan pertanda popoknya basah. Hari demi hari pun, kemampuan Anda sebagai orangtua baru terus meningkat. Anda pun semakin percaya diri. Namun tetap saja ada rasa cemas menyelinap di benak. Cukupkah makannya? Apakah tangisnya itu normal? Bahagiakah ia? Inilah beberapa hal yang bisa mencirikan bayi sehat ,dan bahagia lewat perilaku, temperamen, dan penampilannya.
1. Sering ganti popok
Sebagai ibu baru, Anda mungkin merasa ASI tidak mencukupi kebutuhannya, apalagi ia sering menangis. Anda menduga ia kelaparan. Anda pun khawatir si kecil tidak tumbuh dan berkembang dengan baik. Ternyata, jika Anda sering mengganti popoknya, paling tidak 8 - 10 kali sehari, Anda tak perlu khawatir. Itu adalah pertanda yang baik jika kebutuhan makannya terpenuhi.
2. Senang tersenyum dan menatap
Senyum dan tertawa, menurut, Dr Caspar Addyman dari Birkbeck College London, Inggris yang melakukan riset tentang senyum dan tawa bayi, kedua hal tersebut merupakan alat komunikasi yang penting bagi bayi sebelum kemampuan bahasa mereka berkembang. Saatnya bagi Anda untuk sering mengajaknya bermain agar senyumnya berkembang beriringan dengan kemampuan bahasanya, karena ia sering mendengar Anda mengajaknya bicara.
3. Tangis mereda oleh suara
Menangis adalah alat komunikasi utama bayi di awal kehidupannya. Lewat itu ia mengungkapkan rasa ngantuk, lapar atau ingin ganti popoknya yang basah. Tangisnya akan reda jika Anda memenuhi kebutuhannya. “Saat ia menangis dan orangtua merespon tangisnya, bayi akan belajar bahwa Anda bisa membuatnya tenang,” kata Linda Gilkerson, Ph.D. Direktur The Irving B. Harris Infant Studies Program, Erikson University, Illionis, AS. Respon si kecil yang tenang itu juga sebagai tanda mulai terbangunnya hubungan yang baik antara si kecil dengan Anda.
4. Sering tampak diam
Di minggu awal kelahirannya, aktivitas utama si kecil adalah minum susu dan tidur. Hampir setiap 2 jam sekali ia minum susu. Ia pun tidur 16 jam. Namun di usia 1 bulan, bayi mulai berkurang jam tidur. Saat bangun ia mulai ‘mengamati’ dan ia mulai fokus saat melihat sesuatu. Coba saja Anda menunjukkan mainan berwarna cerah di dekatnya. Anda akan melihat, benda itu mencuri perhatiannya. Jika ia sedang rewel, benda itu pun bisa membuatnya tenang. Di usia ini, si kecil sedang berusaha untuk mengamati sekelilingnya dan memproses semua informasi itu di benaknya.
5. Tertarik suara musik
Sebetulnya, sih, bayi sudah bisa mendengar sejak lahir, namun membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mendengar suara secara jelas. Suara AC yang berdesis, suara musik dari televisi atau yang terdengar saat melewati toko musik, cukup akan membuatnya mencari-cari datangnya suara. Suara itu juga membuatnya ‘terhibur’. Coba saja Anda membuat suara konyol, membunyikan bibir, membuat suara mobil atau motor menderu misalnya, bisa membuatnya tertawa. Semua reaksi yang ia berikan itu menandakan telinganya sehat dan pendengarannya baik.
6. Terpana melihat warna dan bentuk
Anda akan melihat pandangannya terpana dan tertuju kepada benda yang berputar-butar seperti kipas angin. Itu pertanda perkembangan padangannya telah mengalami kemajuan. Bayi baru mampu melihat secara jelas dalam rentang 8 – 12 inci, sama dengan jarak dari wajahnya saat menyusu ke wajah Anda. Beberapa riset menemukan, bayi lebih menyukai gambar wajah dibanding gambar yang lain. Di usia 2 bulan rata-rata bayi mulai senang melihat pola, warna cerah dan benda-benda yang berputar.
7. Semakin kuat
Di usia satu bulan, saat tidur tengkurap, Anda akan mulai melihat ia mencoba mengangkat kepala. Ia akan berusaha menggerak-gerakkan lehernya saat berada di gendongan Anda. Di usia 3 bulan, bayi semakin ahli dan senang menahan kepala, kemudian menggerakkan lehernya. Itu pertanda si kecil sedang melatih otot-ototnya. Mulailah memberinya waktu untuk tummy time, yang akan membantu mengembangkan perkembangan otot termasuk kemampuannya berguling dan duduk. “Bayi yang tak memiliki cukup tummy time, cenderung telat berguling duduk dan merangkak dibanding normal,” kata Dr. Jennifer Shu, penulis buku Heading Home With Your New Born, bersama Dr. Laura Jana.
8. Tenang dan tidur teratur
Anda mulai tidak lagi sering mendengar tangisnya. Ia kini ia mulai sering tampak tenang. Secara perlahan ia mulai pandai beradaptasi dengan lingkungan barunya di luar rahim. Tidurnya pun semakin nyenyak. Bahkan, beberapa bayi mulai memiliki jam tidur rutin di usia 4 bulan yang akan membuat Anda bisa merencanakan dan mengatur kegiatan. Anda bisa merencanakan me time untuk mengajak teman menonton film terbaru, dan mengunjungi restoran yang selama hamil tidak bisa Anda datangi. Namun, jika bayi usia 4 bulan masih makan dan tidur dalam jam yang tidak teratur, cobalah untuk mengatur ulang jadwal aktivitasnya sehari-hari.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
19.1.16
Beberapa Kebiasaan Yang Akan Membuat Anak Tumbuh Dengan Bahagia Dan Percaya Diri
Hai bunda,.... berikut ini beberapa kebiasaan yang akan membuat anak tumbuh dengan bahagia dan percaya diri, semoga bermanfaat ya?
Anak pun akan menjadi lebih bahagia, percaya diri dan menjalani hubungan sosial yang sehat saat dewasa nanti jika menguasai 7 kecakapan dalam hidup berikut :
Kesadaran Diri
Penting bagi anak menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Dengan begitu, ia tahu bagaimana harus bereaksi dan mengelola emosinya. Saat di luar rumah,misalnya, arahkan anak memehartikan berbagai hal yang ada. Ketika melihat mobil-mobil berseliweran di jalan, Bunda bisa bilang, karena banyak mobil, maka si kecil harus berhati-hati saat menyeberang agar tidak tertabrak dan luka. Kesadaran diri juga akan membantu anak mengingat secara jelas dan kuat.
Kebaikan
Pada dasarnya, kebaikan sudah ada di dalam diri anak, dan Bunda tinggal menolong ia mengenali dan mengasahnya. Untuk itu, Bunda bisa memasangkan ia dengan seorang teman, dan meminta ia menyebutkan hal-hal baik tentang temannya itu, begitu juga sebaliknya. Jika mereka belum bisa mengekspresikannya, Anda dapat membantu, Bunda.
Rasa Ingin Tahu
Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Biasanya ia akan antusias saat melihat hal baru, dan berusaha mempelajarinya. Tidak heran kalau ia sering bertanya tentang semua yang dilihat. Yang bisa Anda lakukan adalah memberikan perhatian ekstra dan ikut terlibat saat si kecil tertarik akan suatu hal. Seperti, bermain hujan. Biarkan saja ia melakukannya agar tahu rasanya, tetapi tetap temani dan batasi waktunya ya, Bunda. Cukup sebentar saja.
Empati
Empati bisa menjadi nilai yang kuat saat ia dewasa. Ketika ada seorang anak yang tersesat di mal meminta bantuan Anda menemukan orang tuanya, perhatikan reaksi anak Anda. Setelah Anda menjelaskan kondisi anak itu kepada si kecil, ajak ia ikut membantu menemukan orang tua anak tersebut. Dengan begitu, ia pun bisa memiliki kepedulian sosial.
Menerima Kenyataan
Sebagai orang tua, Anda akan berupaya keras untuk tidak mengecewakan buah hati. Namun, mengesampingkan hal-hal yang tidak baik dapat membuat ia sulit mengatasi kekecewaan yang mungkin timbul. Saat ia kecewa karena tidak memenangkan suatu perlombaan, Anda dapat menghibur dengan tetap memberikan pujian dan mengatakan bahwa tidak masalah meski tidak juara, karena yang penting ia mendapat pengalaman baru dan bisa berlatih. Lebih baik Anda fokus kepada usaha yang sudah dilakukan anak daripada hasilnya.
Kepercayaan
Balita sudah belajar mempercayai sesuatu sejak dilahirkan. Saat seorang anak mempercayai lingkungannya dan merasa aman serta nyaman berada di dekat orang tuanya, ia akan berani mengekspresikan diri. Berikan rasa sayang, cinta dan perhatian yang tidak terbatas agar anak merasa nyaman saat berada di dekat Anda, dan ia akan memiliki kepercayaan penuh kepada Anda, sehingga menjadi pribadi yang terbuka.
Mendengarkan orang lain
Jika Anda memiliki waktu untuk mendengarkan buah hati Anda, maka kemungkinan besar ia juga akan mengikuti perilaku Anda dan menjadi pendengar yang baik. Orang tua adalah role model yang tepat untuk anak. Maka, jika ia memiliki sesuatu yang penting untuk diberitahukan kepada Anda, sebaiknya Anda menghentikan sejenak kegiatan yang sedang Anda lakukan, berjongkok hingga Anda sejajar dengan tubuhnya, dan memberikan perhatian saat ia sedang berbicara. Berikan respons yang positif dan gembira agar ia tahu bahwa Anda mendengarkan dirinya.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
14.1.16
Tips Agar Anak Tidak Takut Ke Dokter Gigi
Hai bunda,... berikut ini tips agar anak tidak takut ke dokter gigi, semoga bermanfaat ya?
Wajar jika anak di usia ini merasa takut dan sering menangis jika diajak ke dokter gigi. Tak hanya kunjungan pertama kali, saat harus berkunjung ke dokter gigi untuk kedua kalinya pun masih sering membuat anak takut. Bantu anak agar tak takut lagi ke dokter gigi, dengan beberapa cara berikut ini:
Bangun Image Positif
Tanamkan pemahaman bahwa ke dokter gigi itu bertujuan untuk membuat gigi sehat. “Caranya, ajak anak memeriksakan gigi berkala semenjak usia 1 tahun atau sejak gigi susu pertamanya tumbuh,” pesan Rhea Haugseth, D.M.D., Presiden The American Academy of Pediatric Dentistry, AS. Jangan ajak anak saat Anda ke dokter gigi, karena bisa muncul persepsi yang salah, apalagi jika tempat praktik dan perawatan yang Anda lakukan menyeramkan.
Tak Kenal, Tak Sayang
Salah satu cara mengenalkan gigi dan memberitahu anak tentang pentingnya merawat gigi adalah melalui permainan tentang gigi. Saat ini, sudah tersedia aplikasi game mobile berjudul “Toothsavers” yang dibuat oleh Ad Council the American Dental Association dan Partnership for Healthy Mouths, AS. Permainan ini mengajak anak menyelamatkan tokoh utama dari mantra pembusuk gigi si penyihir jahat. Anak juga diajak menyikat gigi dua kali sehari selama dua menit, untuk membunuh bakteri dan membuka peta kerajaan yang terkunci kutukan. Ada lagi, game “Little Dentist” yang bercerita tentang cara dokter gigi merawat gigi anak.
Dongeng juga bisa membantu anak mengenal gigi, seperti The Tooth Book (Dr.Seuss) yang bercerita tentang cara menjaga gigi. Atau Maisy, Charley, and the Wobbly Tooth: A Maisy First Experience (Lucy Cousins), yang bercerita tentang pengalaman pertama Maisy ke dokter gigi yang menyenangkan.
Bersikap Biasa
Sebelum berangkat ke dokter gigi, cobalah bersikap biasa dan buat persiapan sesederhana mungkin. Jika bunda nampak terlalu sibuk bersiap, anak akan semakin gusar dan banyak pertanyaan. “Hindari mengatakan ‘semua akan baik-baik saja’, karena justru akan meningkatkan ketidakpercayaan anak terhadap bunda maupun dokter gigi,” ungkap Joel H. Berg, D.D.S., M.S., Direktur Departemen Kedokteran Gigi dari Seattle Children's Hospital, AS.
Bermain Peran
Ajak balita bermain peran ‘dokter gigi’, misalnya Anda sebagai dokter gigi dan anak sebagai pasiennya. Berpura-puralah Anda sedang memeriksa gigi anak, sambil menunjukkan gigi-giginya melalui cermin dan memberi komentar seperti “Wah, giginya bersih ya. Pasti rajin sikat gigi. Supaya giginya tetap sehat dan tidak berlubang, harus rutin diperiksa ke dokter gigi, nih.”
Dokter Gigi Anak
Dokter gigi anak memiliki standar perawatan yang sudah disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan anak. Semua elemen di klinik dokter gigi anak, mulai dari dokter, perawat, aroma ruangan, alat-alat medis, juga dekorasi ruangan, dirancang khusus agar balita nyaman. Tenaga medis juga sudah terlatih menangani anak-anak saat perawatan gigi. Tak jarang, dokter dan perawat di sana rela bertingkah lucu agar anak tak menangis lagi.
Cari informasi tentang dokter gigi anak terbaik melalui teman, kerabat, rekan, maupun tetangga. Jika perlu, datangi langsung tempat dokter berpraktik untuk mendapat informasi layanan dan biaya.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
Tips Ajarkan Balita Bersalaman
Hai bunda,... berikut ini tips mengajarkan anak bersalaman dengan setiap orang dewasa yang ditemuinya sebagai bentuk pengajaran etika yang baik, semoga bermanfaat....
Bersalaman bukan sekadar menjabat tangan dan menaruhnya di hidung atau dahi, tapi merupakan bentuk kesopanan dan penghormatan anak terhadap yang lebih tua. Informasi lebih lengkap simak di sini.
Bunda pasti sering bertemu dengan orang lain sambil mengajak anak, kan. Pada momen tersebut, biasanya Anda meminta balita untuk bersalaman dengan orang tersebut. Bagaimana reaksinya? Apakah ia langsung melakukan yang Anda minta, atau malah malu dan bersembunyi di belakang Anda? Mengajarkan anak untuk bersalaman dengan setiap orang dewasa yang ditemuinya merupakan bentuk pengajaran contoh etika yang baik kepada anak sejak dini. Dengan begitu, ia akan terbiasa bersikap sopan kepada orang lain hingga ia beranjak dewasa nanti.
Bersalaman ke Siapa?
Bersalaman bukan hal yang sulit dilakukan, namun, tak jarang anak tidak mau melakukannya. Saat bunda dan ayah mengunjungi rumah teman, keluarga, atau tamu yang sedang mengunjungi rumah, jangan ragu untuk memanggil anak lalu mengajarkan mereka untuk bersalaman. Beri tahu anak dengan memberikan kata salam di depan orang lain dengan baik.
Bagaimana Cara Bersalaman?
Pastikan tangan anak bersih dan jangan lupa mengajarkan anak menggenggam tangan tamu dengan benar, seperti menggenggam tangan orang lain jangan terlalu keras dan salim dengan meletakkan tangan di kening, hidung, atau mulut. Anda bisa memberikan contoh cara bersalaman pada keluarga, kerabat, atau orang lain, karena anak akan melihat perilaku dari orang tuanya.
Mengatur Anak Bersalaman
Saat ingin memperkenalkan anak ke orang lain, anak malah berlari dan susah diatur. Maka, bunda dan ayah perlu membimbing si kecil belajar untuk bersalaman. Misalnya ikut mengiringi anak untuk bersalaman dengan nenek, “Nak, ayo sini kita salim ke Nenek, coba liat bunda, nah sekarang giliran kamu...”
Ucapkan Nama
Ketika si kecil bersalaman dengan orang lain, jangan lupa mengajarkan dia untuk memperkenalkan dirinya di depan orang lain. Ucapkan namanya dengan tegas dan sopan, dan berikan senyum yang manis. Dengan begitu, dia menjadi percaya diri karena ketika berinteraksi dengan orang lain, tidak terjadi hal-hal yang menakutkan dan dia menjadi mudah untuk bersosialisasi.
Posisi Salaman yang Benar
Ajarkan anak untuk bersalaman dengan posisi berdiri, atau, jika orang yang diberi salam lebih tinggi dan susah dijangkau si kecil, ayah dan bunda bisa menggendong si kecil agar dia bisa menatap mata orang tersebut dan memberikan senyum. Hal tersebut memperlihatkan bahwa dia menunjukkan rasa hormat kepada orang lain.
Anak Tidak Mau Bersalaman
Memang penting mengajarkan anak untuk memberikan salam kepada orang lain, tapi jika situasinya anak sedang merasa sangat lelah, bunda dan ayah tidak perlu memaksakan. Biarkan dia istirahat, dan ketika dia sudah lebih baik, bunda dan ayah bisa memberitahu bahwa kalian bertemu dengan tamu tersebut.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
7.11.15
Waspada, Begini Gejala Anak Terserang Pnemonia...!!!
Hai bunda,... berikut ini ciri-ciri anak yang terserang pneumonia, semoga bermanfaat ya?
Jakarta, dr Nastiti Kaswandani, SpA(K), Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan selain batuk, pilek dan demam, anak yang terserang pneumonia biasanya bernapas dengan cepat. Dalam istilah kedokteran, hal ini disebut sebagai tachypnea.
"Jadi anak bernapas dengan cepat, atau istilah awamnya ngos-ngosan padahal tidak sedang lari," tutur dr Nastiti, dalam temu media di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2015).
Ada batasan tertentu terkait frekuensi napas cepat yang merupakan gejala pneumonia. Dijelaskan dr Nastiti, napas cepat dihitung berdasarkan jumlah frekuensi napas per menit.
- Usia di bawah 2 bulan frekuensi napas 60 kali per menit.
- Usia 2 sampai 12 bulan frekuensi napas 50 kali per menit.
- Usia 1 sampai 5 tahun frekuen napas 40 kali per menit.
"Kalau pada dewasa itu 20 kali per menit cukup. Nah jika anak terlihat ngos-ngosan dan frekuensinya di atas batasan tadi kemungkinan besar terserang pneumonia," tutur dr Nastiti lagi.
Ciri lain yang harus diperhatikan adalah adanya tarikan dinding dada ke arah dalam. Jika antara dada dan perut anak terdapat cekungan ke dalam (chest indrawing) hal ini juga merupakan tanda pneumonia.
Ditegaskan dr Nastiti bahwa orang tua tak boleh lengah melihat kondisi anak yang seperti ini. Terlambat sedikit saja anak bisa terserang pneumonia berat. Ciri pneumonia berat adalah bibir yang membiru karena tubuh kekurangan oksigen dan tubuh kejang-kejang.
"Semakin berat semakin tinggi risiko kematian. Bahkan meskipun sembuh, efek kekurangan oksigen akibat pneumonia berat tadi akan memengaruhi otak anak dan tumbuh kembangnya bisa terhambat," pungkasnya.
(Sumber : detikhealth.com)
5.11.15
Dampak Buruk Yang Akan Dialami Si Kecil Jika Dimarahi Didepan Umum
Hai bunda,... berikut ini dampak buruk sering memarahi anak di depan umum, semoga bermanfaat...
Diberkahi dengan buah hati dalam keluarga kecil yang kita miliki adalah anugerah besar yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita.
Apalagi, jika keinginan ini sudah kita nantikan sejak dulu, namun baru saat ini Tuhan mendengar doa kita dan mengabulkan mimpi kita menimang buah cinta kita bersama dengan pasangan.
Ketika si anak baru lahir, melihat lugu wajahnya, polos matanya dan mungil tubuhnya, membuat kita begitu terpukau dan tersentuh sehingga rasa cinta kita kepada si buah hati teramat sangat besar. Berlanjut ke masa dimana si buah hati sudah bisa berjalan dan baru bisa melapalkan beberapa kosakata, rasa senang kita tak terbendung dan mengharapkan si anak segera besar agar kemampuannya semakin terasah dan tergali. Kemudian, si anak sudah mulai bisa berlarian kesana-kemari, ia pun kini sudah mulai bisa mengungkapkan rasa senang, sedih, kecewa bahkan kekesalannya terhadap kita. Salah sedikit saja, orangtua akan langsung dihadapkan pada kekesalan anak.
Perilaku yang ditunjukan oleh si buah hati pun beragam. Ada anak yang menunjukan kekesalannya dengan ngambek kecil dan adapula anak lain yang menunjukan sikap ini dengan amarah dan tangisan keras yang akan membuat bunda kewalahan menghadapi sikapnya ini. Alhasil, bunda akan dibuat pusing dan merindukan akan si buah hati ketika masih kecil dimana ia akan menurut dan tidak melakukan pemberontakan apapun pada sikap yang bunda berikan. Bahkan kini, rasanya si kecil yang dulunya lugu telah berubah menjadi begitu nakal dan tak terkendali.
Tak jarang si kecil bisa berlarian kesana-kemari, berteriak, mengamuk atau bahkan menjahili anak-anak lainnya. Tak tanggung pula, aksinya ini mereka lakukan tanpa mengenal tempat dan waktu. Kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja, saat perilaku bandelnya "kambuh", ia akan membuat masalah dan onar.
Nah, jika sudah begini apa mau dikata, tak jarang bunda pun akan dibuat malu, kesal dan merasa tak enak hati dengan orangtua temannya si anak yang dijahili. Alhasil, bunda akan cenderung dengan spontan memarahi si buah hati saat itu juga. Tak peduli berada di tempat umum, maupun dihadapan teman-temannya, amarah yang membendung dalam benak bunda akan bunda luapkan dalam waktu itu pula.
Lantas, sudah tepatkah sikap kita yang demikian? Apakah dengan begini si anak akan menurut? Tergantung.
Pribadi setiap anak berbeda-beda, ada anak yang akan langsung terdiam dan menyadari kesalahannya ketika dimarahi oleh orangtuanya dihadapan umum. Namun, adapula sebagian diantara anak-anak yang justru malah akan merasa kesal dan benci pada perilaku orangtuanya. Alhasil bukan menyelesaikan masalah, hal ini malah akan semakin membuat si anak melakukan tindakan tersebut dengan lebih parah lagi.
Selain itu, memaharahi anak didepan umum dengan melontarkan kata-kata kasar atau bahkan ancaman pada si anak saat teman-teman lainnya menyaksikan, akan berpengaruh buruk untuk perkembangan mental dan kejiwaannya. Untuk itulah, seberapa kesal dan besarnya amarah kita terhadap si buah hati sebaiknya hindari meluapkan amarah seketika dihari dan tempat yang bersamaan padanya.
Nah, berikut ini ada beberapa dampak buruk yang akan dialami oleh si kecil ketika anda memarahinya di depan umum. Yuk, kita langsung simak beberap halnya berikut ini.
1. Perasaan Minder Pada Diri Si Anak
Ketika anda mendapati si anak berulah dihadapan umum anda lantas melontarkan kata-kata kasar dan melakukan tindakan fisik pada si anak dengan menjewer atau memukulnya, tentu saja ini akan berdampak buruk untuk psikologis si anak. Meski masih berusia sangat kecil, akan tetapi sama halnya seperti orang dewasa anak-anak sudah memiliki rasa malu jika semua orang-orang yang ada disekitarnya tiba-tiba menatapnya saat mereka dimarahi oleh ibu atau ayahnya dimuka umum.Apalagi untuk anak diusia yang sudah lebih besar, tentunya bukan hanya rasa malu yang akan mereka hadapi, namun juga kekesalan akibat amarah orangtua. Hal ini pada akhirnya akan mempengaruhi rasa percaya diri si anak di kemudian hari, dan juga bukan tidak mungkin hal ini akan dapat mempengaruhi rasa hormat si anak kepada orangtua.
Tentunya tidak ada anak yang suka dimarahi dan dipojokan. Jangankan dihadapan umum, tanpa ada oranglain saja anak-anak tidak akan suka dimarahi oleh orangtuanya.
Lagipula, pada umumnya kebanyakan orangtua yang melakukan hal ini pada anak-anak mereka dihadapan umum, bukan dilatar belakangi dengan tujuan agar anak bisa lebih disiplin. Akan tetapi, lebih kepada perasaan malu yang dirasakan oleh orangtua atas orangtua anak lainnya. Ketika anak-anaknya melakukan kesalahan, kebanyak orangtua takut bila dicap sebagai orangtua yang tidak bisa mendidik anak-anaknya.
2. Hilangnya Rasa Hormat Pada Orangtua
Menyambung poin yang diatas, tindakan orangtua yang begitu ekstrim dengan terburu memutuskan untuk memarahi anak-anaknya dihadapan umum akan membuat si anak melahirkan kekesalan dan kebenciannya terhadap orangtua. Hal ini tentu saja, dipengaruhi karena rasa malu pada diri anak yang dikarenakan oleh sikap orangtuanya. Jika anda menganggap hal ini akan dapat mendisiplinkan semua anak, anda keliru. Ingatlah, pribadi dan karakter setiap anak berbeda-beda.3. Ketakutan Si Anak Untuk Bersosialisasi
Ketika anda melontarkan amarah dan mungkin saja anda secara tak sadar mengungkapkan "Dasar kamu bodoh!". Apa efek yang akan dirasakan si anak dari kemarahan anda tersebut? Betul, si anak akan merasa yakin bahwa dirinya adalah orang yang benar-benar bodoh.Perhatikan setiap perkataan anda. Memberikan label "bodoh" pada si anak tidak sama sekali mendisiplinkan mereka dan membuat kenakalannya terhenti. Justru sebaliknya, hal ini akan membuat situasi semakin buruk.
Menghakimi anak dengan berbagai predikat tentu berdampak negatif untuk perkembangan dan pergaulan anak nantinya. Bahkan saat ia beranjak dewasa nanti, bukan tidak mungkin, anggapan bodoh ini akan terus melekat dalam diri anak, yang pada akhirnya membuat mereka menjadi kehilangan rasa percaya dirinya dan takut untuk bisa bersosialisasi dengan oranglain.
Ketika Amarah Memuncak dan Ingin Memarahi Anak, Ingat Kembali Hal ini
Anak adalah pribadi yang polos dan masih belum mengerti banyak hal. Terkadang mereka melakukan hal tersebut tanpa tahu makna sebenarnya bahwa perbuatan tersebut adalah hal yang merugikan dirinya dan oranglain. Selain itu, anak adalah anugerah besar yang Tuhan titipkan dalam kehidupan kita. Yang mana sudah seharusnya dan semestinya kita menjaga, mendidik dan melindungi buah hati kita dengan tulus.Bayangkan dengan orangtua lain yang mungkin saat ini tengah mengerahkan segala upaya dan usahanya untuk bisa memiliki anak. Untuk anda yang sudah diberkahi dan dianugerahi dengan buah cinta adalah tugas anda untuk membesarkan mendidik dan mencintai mereka dengan tanpa syarat.
Memang terkadang perilaku anak bisa sangat menyebalkan dan membuat kita kesal. Akan tetapi dengan rasa sabar yang tinggi dan kecintaan kita terhadap si anak akan dapat mengalahkan rasa kesal kita pada mereka. Selain itu, terimalah kondisi anak apa adanya, jangan pernah bandingkan mereka dengan oranglain. Karena sebaik-baiknya anak oranglain, tetap saja yang anda miliki adalah anak anda saat ini.
Kekesalan anda terhadap perilaku anak yang mereka lakukan didepan oranglain, terkadang membuat anda kesal dan malu. Namun tidak bijak pula melimpahkan kekesalan tersebut di muka umum sebab hal tersebut akan berdampak buruk untuk perkembangan psikologis si anak. Semoga beberapa hal diatas bisa mencegah anda memarahi buah hati di hadapan oranglain.
(Sumber : Bidanku.com)
3.11.15
Tips Menghadapi Balita Yang Bersikap "Bossy"
Hai bunda,... berikut ini tips menghadapi balita anda yang sering bersikap layaknya seorang bos, semoga bermanfaat...
Beberapa kali Anda mungkin mengerutkan dahi atau kaget mendengar atau menyaksikan balita Anda menyuruh mengatur bak seorang bos. Sikap bossy ini kadang tampak lucu, namun juga kadang menjengkalkan dan membuat malu. Sikap tersebut sebenarnya ada positif dan negatifnya. Positifnya adalah mengasah kepemimpinan anak, membuat anak menonjol dibanding teman-temannya, dan biasanya anak menjadi memiliki prinsip. Sisi negatifnya bisa membuat anak mengintimidasi, memanipulasi, dan ingin menang sendiri agar keinginannya terpenuhi. Bantulah anak untuk menjaga perilakunya ke arah yang positif. Beberapa perilaku bossy di bawah ini kerap dilakukan oleh anak.
Mengkritik penampilan
Saat Anda hendak mengantarnya ke sekolah ia berkata, “Bunda, jelek memakai baju itu! Hah? Anda tentu saja ternganga mendengar pernyataannya. Di benak Anda mungkin berpikir, “Tahu apa dia tentang gaya berpakaian orang dewasa!” Tapi, cobalah intropeksi diri. Mungkin saja anak berani untuk mengkritik penampilan Anda karena cara berpakaian Anda memang kurang pantas untuk dipakai ke sekolah. Jika, ya, kenapa tidak ganti baju saja. Bisa juga Anda bertanya apa alasan yang membuat ia menilai Anda jelek. Cara ini akan melatihnya untuk berargumentasi. Anda bisa saja tetap memakai baju itu atau menggantinya karena Anda merasa tidak nyaman.
Main suruh
“Mbak, aku haus. Ambilkan minum!” Sepulang main di luar ia berteriak meminta ART melakukan permintaannya. Tanpa kata tolong lagi. Padahal ia pun sudah bisa mengambil minum sendiri. Emosi Anda naik ketika mendengarnya? Tak perlu meresponnya dengan marah ketika mendengarnya. Tapi hampiri dan katakan padanya, “Ibu tidak mendengar kamu minta tolong” atau jika Anda melihat ART sibuk, Anda bisa mengatakan, “Ayo, Ibu antara kamu mengambil minum sendiri.” Anda tetap perlu melatihnya untuk mandiri dan bersikap sopan.
Juru atur
Saat mewarnai dengan temannya ia paling lantang suaranya. Terdengar ia mengatakan, “Kamu mewarnai pohon. Krayonnya warna hijau. Kamu mobil warna merah.” Begitulah, di antara temannya ia terkenal sebagai ‘si juru atur’. Selama temannya menurut, tidak masalah. Tapi ada juga yang tidak mau diatur. Terdengar ia mengancam, “Aku tidak mau main dengan kamu.” Dan bertengkalah mereka. Untuk mengasah kemampuan mengatur, Anda perlu bergabung saat ia bersama teman-temannya. Misalnya mengajak ia bermain menjadi bos dan anak buah secara bergantian.
Jurus pokoknya
Satu saat Anda menolak keinginannya membeli mainan dari seorang pedagang yang berhenti di depan rumah. Anda tak memenuhi keinginannya karena ia punya mainan itu, meski warnanya berbeda. Akibatnya ia menangis, guling-guling di lantai. Tujuannya agar Anda memenuhi keinginannya. Dalam keadaan seperti itu katakan dengan tegas “Ibu tidak akan membelikan mainan karena kamu sudah punya mainan itu.” Sambil menunjukkan mainan yang ia miliki. Dengan itu ia belajar bahwa tidak harus semua keinginannya dipenuhi.
(Sumber : ayahbunda.co.id)
Subscribe to:
Posts (Atom)


