10.8.15

Tips Mengajarkan Bahasa Asing Pada Balita


 Hai bunda,... berikut ini tips mengajarkan bahasa asing pada balita anda, semoga bermanfaat ya?


Ibu, ingatkah saat masih sekolah dasar dulu, ditingkat berapa kita diajarkan mengenal bahasa asing?
wah,,,wah,,,wah rasanya ingat tidak ingat yah jika harus bernostalgia dan mengingat masa-masa sekolah dulu. Namun yang pasti, pelajaran bahasa asing yang kita dapatkan di sekolah dasar dulu tidak diajarkan di tingkat pertama melainkan saat tingkat ke tiga atau di tingkat keempat. Namun tahukah ibu, jika kita melihat anak-anak jaman sekarang, pendidikan bahasa asing sudah diberikan saat mereka masih berusia dini, jadi tidak heran jika sewaktu kita pergi ke mall tak sengaja banyak kita jumpai anak-anak kecil bahkan anak-anak balita yang sudah mulai cas-cis-cus mengobrol dengan ibu mereka menggunakan bahasa Inggris.
Namun  bukan hanya itu. Ternyata si anak juga mampu berbicara bahasa Tanah air dengan baik. Dan ternyata, tak berapa lama kemudian, datanglah si ayah menghampiri yang ternyata berparas Indo dengan kulit putih dan tubuh jangkung yang tentu saja sudah bisa ditebak ayahnya berkewarga negaraan asing. Nah, ketika melihat pemandangan ini mungkin kita akan dengan mudah mengasumsikan, "pantas saja anaknya jago berbahasa Inggris, ayahnya saja bule!"
Eits, meskipun kita tidak menikah atau darah keturunan ibu tidak ada yang berdarah asing, bukan berarti hal ini membuat kita tidak dapat mengajarkan bahasa asing pada anak-anak. Selain itu, bahasa asing sepertinya telah menjadi pelajaran penting yang harus senantiasa dimiliki anak-anak sebagai bekalnya dimasa depan.

Seperti yang kita ketahui saat ini ya bu, dunia pekerjaan dan lingkungan masyarakat modern membutuhkan bahasa internasional yang bisa menghubungkan mereka dengan oranglain diberbagai dunia. Untuk itu, pendidikan bahasa asing juga menjadi pelajaran penting yang harus diberikan pada si kecil. Sebab jika pendidikan ini ditunda-tunda, maka akan semakin sulit bagi si anak untuk memahaminya. Selain faktor malas belajar pada anak, hal-hal lain yang juga bisa ibu jumpai adalah penolakan dari si anak karena mereka sudah memiliki keinganan tersendiri dalam hidupnya. Jadi rasanya akan sulit bagi ibu mengarahkan anak saat mereka sudah mulai beranjak remaja.
Nah, anak-anak khususnya di usia 2 hingga 3 tahun sudah cukup mendapatkan pendidikan dan pelajaran dari orangtuanya. Anak-anak dalam masa ini adalah masa periode emasnya dimana perkembangan otak pada anak masih begitu pesat, sehingga proses menangkap sesuatu pada diri mereka masih terbilang cepat dan mudah. Bukan hanya mampu menangkap pola kalimat yang pernah didengarnya sejak lahir, namun ia juga sedang "meningkatkan" kosa katanya.
Untuk itulah, mengajarkan bahasa asing pada anak balita tidak akan menjadi hal yang rumit dan tentunya apabila kita sungguh-sunggu dalam menerapkan tekhnik pengajaran yang baik, maka hal ini akan mampu menunjang kemampuan mereka dalam berbahasa asing.
Memang ada banyak anggapan yang mengatakan bahwa tidak sebaiknya anak-anak yang masi berusia dini diberikan dua pelajaran bahasa sekaligus. Hal ini dikhawatirkan akan membuat anak bingung sehingga dalam menghambat perkembangan bahasa "ibu" nya (bahasa asli anak), yakni bahasa Indonesia yang sedang ia pahami. Kekhawatiran tersebut memang beralasan, sebab bagaimanapun sudah seyoganya sebagai orang Indonesia anak mahir dan mampu menguasai bahasa "Ibu" nya dengan baik dan benar.
Hanya saja, jangan terlalu takut dengan anggapan anak akan menjadi bingung karena diperkenalkan dalam dua bahasa sekaligus saat mereka masih kecil. Sebab sebagaimana diungkapkan oleh seorang profesor Bilingual Education dari U.S bermana Dr. Yvonne Freeman, mengatakan bahwa pelajaran bahasa asing penting sekali diterapkan pada anak sejak mereka masih kecil, mengingat periode emas balita dimana otak anak dimasa ini akan dapat menyerap dan mengingat banyak hal termasuk kemampuan anak dalam berbahasa. Nah, yang perlu dicermati adalah ada beberapa hal yang haru diperhatikan dalam mengajarkan bahasa asing pada anak. Kita simak hal tersebut berikut ini.

1. Terapkan Bahasa Asing Dalam Permainannya

Dunia anak adalah dunia bermain, mereka tentu akan lebih senang diajak bermain dibandingkan dengan belajar secara serius yang begitu menegangkan. Nah, salah satu tekhnik terbaik memperkenalkan dan mengajarkan anak bahasa asing adalah lewat permainan, salah satunya adalah dengan membelikan educational toys yang dilengkapi dengan bahasa asing.
Contohnya membelikan papan bermain dengan gambar binatang yang dilengkapi bahasa asing atau membelikan papan bermain dengan angka yang dilengkapi bahasa asing. Setelah itu, mintalah anak untuk mengucapkannya bersama-sama dengan anda. Selain itu, berikan pelajaran ini secara bertahap. Jangan sampai anak merasa bosan karena ibu terlalu memaksakannya yang pada akhirnya anak akan merasa malas dan tidak ingin lagi bermain.

2. Pilihlah Bahasa Asing yang Kita Kuasai

Tidak mungkin rasanya mengajarkan sesuatu pada anak yang bahkan kitapun tidak menguasai atau bahkan memahaminya. Jadi demikian, ketika anda memutuskan untuk memberikan pelajaran bahasa asing pada anak, maka pilihlah bahasa yang benar-benar anda kuasai yang dapat anda ajarkan apada anak-anak. Setidaknya, kita harus mengetahui bagaimana cara mengucapkan kata berbahasa asing tersebut.

3. Ajarkan Satu dan Sekali Waktu

Menerapkan pendidikan bahasa asing pada anak tidak bisa dilakukan sekaligus dan mengharapkan anak mampu menguasai bahasa yang kita ajarkan pada mereka dengan seketika. Sebuah pelajaran dan pendidikan memerlukan kesabaran dan diberikan dengan bertahap. Begitupun pelajaran bahasa asing pada anak. Ajarilah anak satu dalam sekali waktu, yang terpenting adalah anak paham betul dengan apa yang ibu ajarkan. Misalkan, ketika ibu mengajarkan alphabet pada anak-anak, berikan sebanyak 3-5 kata dalam satu waktu dan mintalah anak menghafalnya. Baru setelah anak hafal betul, ibu bisa menambahkanya kembali.

4. Program Televisi Bahasa Asing

Tidak bisa dipungkiri, anak-anak modern jaman sekarang seringkali menjadikan televisi sebagai media hiburan yang sering mereka tonton. Untuk itulah, manfaatkan media ini untuk mengajarkan bahasa asing pada anak dengan membiarkan anak menyaksikan program kartun kesukaannya dengan bahasa asing. Di awal-awal, anak mungkin tidak akan memahami apa maksudnya, namun perlahan namun pasti apa yang mereka lihat akan secara tidak langsung mereka lakukan. Dengan begini anak akan mampu meniru bahasa yang mereka saksikan dalam film kartun kesukaannya.

5. Berkomunikasi dengan Anak Lewat Bahasa Asing

Cara terbaik dan paling efektif dalam menerapkan pendidikan bahasa asing pada anak adalah dengan berkomunikasi langsung dengan mereka menggunakan bahasa asing. Semisal ketika anda menginginkan anak untuk duduk, maka mintalah dia untuk duduk dengan menggunakan bahasa asing. Atau mintalah anak untuk meminta sesuatu dengan mengucapkan bahasa asing. Dengan begini perlahan namun pasti kosa kata bahasa asing pada anak akan semakin kaya setiap harinya dan diharapkan anak mampu menguasai bahasa yang kita ajarkan saat mereka besar kelak atau setidaknya saat anak masuk usia sekolah mereka tidaka akan kaget dengan pelajaran bahasa asing, sebab dasarnya sudah ibu ajarkan pada mereka.
Demikian beberapa hal yang bisa ibu terapkan pada anak-anak sejak mereka usia balita untuk memberikan pelajaran bahasa asing. Sebagaimana kita ketahui pelajaran bahasa asing adalah hal yang penting sebagai modal anak menyongsong masa depan yang lebih baik.

Sumber : Bidanku.com

Tips Membangun Karakter Positif Pada Diri Anak


Hai bunda,... Berikut ini tips membangun karakter positif pada diri anak, semoga bermanfaat ya?
 
Setiap orangtua tentu menginginkan buah hati tercinta mereka bisa tumbu menjadi seorang anak yang mandiri, cerdas dan senantiasa optimis dalam menjalani hidup guna mendapatkan masa depan yang cemerlang untuk generasi yang lebih gemilang.
Untuk itu, perlu sekali ditanamkan berbagai pendidikan pada anak sebagai bekal mereka menyongsong masa depan yang lebih cerah. Namun tahukah ibu, kecerdasan akamedis yang ada dalam diri anak saja tak cukup untuk membuat mereka menjadi calon penerus bangsa yang gemilang. Perlu sekali membentuk karakter positif dari dalam diri anak agar mereka dapat tumbuh menjadi anak yang cerdas dengan karakter yang berkualitas.
Seringkali kita sebagai orangtua bertanya-tanya kapankah waktu terbaik yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang terutama buah hati kita. Jawaban yang tepat tentu saja sejak mereka masih berusia dini. Mengapa demikian? Hal ini sudah banyak dibuktikan para ahli dimana mereka mengungkapkan bahwa usia anak dari 0 hingga 6 tahun perkembangan otak pada anak berkembang begitu pesat hingga 80%. Dimana pada usia inilah otak anak akan menyerap dan menerima berbagai macam informasi tanpa mampu melihat dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Disinilah masa-masa dimana perkembangan fisik, spiritual maupun mental pada anak akan mulai terbentuk. Untuk itulah, banyak yang menyebut usia ini merupakan periode emas anak-anak.
Begitu juga sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari US bernama Brazelton, ia mengatakan bahwa pada bulan dan tahun pertama pengalaman dalam kehidupan anak akan berimbas dan menjadi penentu apakah si anak tersebut mampu menghadapai rintangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan mampu menunjukan semangat yang tinggi utnuk belajar dan berhasil dalam apa yang ia kerjakan.

Nah, dengan demikian orangtua hendaknya mampu memanfaatkan masa emas ini untuk dapat memberikan pendidikan karakter guna membentuk karakter positif dari dalam diri anak-anak. Sehingga mereka mampu meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidupnya dimasa kelak.
Sebagai seorang manusia yang tak luput dari kesalahan kita sebagai orangtua seringkali mengalami hal yang keliru dalam mendidik anak. Meskipun tujuan kita baik dalam menasuh dan mendisiplinkan mereka, namun tanpa disadari ada banyak kekeliruan yang serig kita lakukan dalam menerapkan pola asuh pada mereka, seperti misalkan sering memarahi, memukul, terlalu kaku dan tidak bisa memahami anak dengan baik. Hal inilah yang pada akhirnya membuat pola asuh yang diterapkan pada anak tidak selaras dengan hasil kita harapkan. Sebenarnya ada beberapa hal penting yang bisa anda terapkan dalam hal mendidik anak guna membangun karakter positif dari dalam dirinya sejak ia masih dini. Nah, poin-poin berikut ini penting sekali untuk anda simak.

Beberapa Hal yang Patut Diterapkan Dalam Hal Membangun Karakter Positif Pada Diri Anak Sejak Usia Dini

Umumnya sebuah karakter akan terbentuk sebagai buah dari pemahaman yang ia dapatkan dari 3 hubungan yang pasti dialami oleh setiap manusia, hubungan inilah yang disebut dengan triangle relationship, yakni hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkuangan dan hubungan manusia itu dengan Tuhannya. Dimana setiap hasil hubungan ini akan memberikan pemahaman dan pemaknaan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah keyanikan pada diri anak. Cara anak memahami bentuk hubungan inilah yang  akan menentukan cara mereka dalam memperlakukan dunianya yang mana akan berlaku pola pemahaman postif akan berimbas pada perlakuan positif dan pemahaman negatif akan berlaku perlakukan negatif. Untuk itu, kita simak beberapa hal penting dalam menumbuhkan pendidikan karakter dalam diri anak sejak mereka berusia dini:

Bangun Pemahan Positif Dalam Diri Anak Sejak Mereka Masih Berusia Dini

Hal yang pertama yang paling penting dalam membangun karakter positif dalam diri anak adalah dengan menumbuhkan pemahaman positif pada diri anak-anak salah satunya dengan memberikan kepercayaan pada diri anak untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Bantu anak untuk mengarahkan potensi dirinya sendiri, dengan begitu mereka akan lebih mudah mengeksplorasi apa yang mereka miliki. Tidak bijak rasanya jika harus terus-terusan mendikte anak dan menekannya secara langsung demi memuluskan harapan anda pada mereka. Dengan memberikan anak-anak kesempatan untuk mengembangkan dan memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan, hal ini akan membuat anak merasa diberikan ruang untuk menjadi diri mereka sendiri.

Ingatlah Anak-Anak Adalah Peniru yang Baik

Apa yang mereka lihat itulah yang mereka tiru, tidak heran jika predikat anak adalah peniru yang baik amat melekat pada diri mereka. Untuk itu, sebagai orangtua perlu sekali kita memberikan contoh dan menjadi teladan yang baik. Tidak bijak rasanya jika harapan kita terhadap anak-anak tidak selaras dengan tingkah laku dan sifat kita sebagai orangtua.
 Ketika anda menginginkan anak-anak memiliki karakter yang baik dan positif dalam dirinya, maka penting sekali mengawalinya dari dalam diri kita. Berikan contoh yang baik dalam segala hal, dengan begini anda akan membuat anak-anak tidak memiliki alasan lain untuk menolak dan meyangkal nasihat yang anda berikan pada mereka.

Ajarkan Anak Bersosialisasi dengan Lingkungannya

Jika ruang lingkup kehidupan sosial anak hanya terbatas sekitar rumah dan keluarganya saja, hal ini tentu akan memuat anak tidak dapat mengenal dan merasakan kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, pilihan terhadap lingkungan akan dapat menentukan pembentukan karakter anak. Untuk itulah, sebagai orangtua kita dituntut untuk bisa lebih pintar dalam hal mendidik dan membesarkan mereka. Waktu yang lebih banyak dihabiskan dalam kehidupan anak-anak umumnya lebih cenderung dihabiskan dilingkungan dan keluarganya.
Untuk itu, menjadi pembimbing yang baik dengan memberikan pengarahan pada anak tentang hal apa yang boleh mereka lakukan dan tidak boleh mereka lakukan adalah pelajaran penting yang harus mereka dapatkan dari anda para orangtuanya. Dengan begini anak-anak akan memiliki batasan dalam berperilaku dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Berikan Pendidikan Keagamaan

Hal ini merupakan poin terakhir yang begitu penting, dalam hal menerapkan dan membangun karakter dalam diri anak terlebih dahulu mereka perlu mengnali siapa Tuhan mereka, dengan begini hidup seorang anak akan memiliki tujuan dan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata bukan untuk diri mereka sendiri namun juga untuk Tuhan mereka.
Selain itu, tunjukan pada mereka bagaimana beribadah kepada Tuhannya dan bagaimana caranya mengucap syukur. Untuk hal ini, anda bisa memberikan buku, gambar dan cerita-cerita yang bisa menginspirasi mereka yang tentunya berkaitan dengan keagamaan. Atau juga anda bisa mulai memberikan pendidikan keagamaan sejak mereka usia dini dengan mengenalkan mereka pendidikan agama.
Menumbuhkan dan membangun karakter positif pada diri anak-anak adalah hal penting untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas dan lebih cemerlang sebab pendidikan akademis saja tidak cukup membuat mereka menjadi benih unggulan.

Sumber : Bidanku.com

7.8.15

Tips Menjadikan Anak Pribadi Yang Menyenangkan Dalam Pergaulannya


 
Hai bunda,... berikut ini tips agar anak menjadi pribadi yang menyenangkan dalam bergaul, semoga bermanfaat...

Setiap orangtua tentunya menginginkan anak-anak mereka bisa dengan mudah diterima dilingkungannya yang baru.
Dengan begini, kekhawatiran orangtua pada anak-anak yang sulit beradaptasi akan sedikit berkurang dan membuat hati mereka lega. Ada banyak orangtua yang karena alasan tertentu, mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal dan membawa serta buah hati mereka ke tempat dan lingkungan yang baru dengan orang-orang yang baru yang tentunya membuat anak-anak harus memulai kembali kehidupan sosialnya dari awal dan meninggalkan teman-teman dekatnya dilingkungan sebelumnya.
Hal ini biasanya menjadi fase yang cukup menyulitkan anak-anak, apalagi mengingat jika anak-anak tidaklah seperti orang dewasa yang akan dengan mudah menyapa dan bergabung bersama dengan oranglain guna membangun kehidupan sosialisasi yang baru.
Ada banyak pertimbangan pada diri anak-anak yang membuat mereka kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hal ini tentunya akan lebih berat dialami oleh anak-anak yang pemalu, dimana mereka akan cenderung lebih diam dan tidak banyak berbicara dengan orang-orang yang tidak mereka kenali. Sementara itu, lingkungan mereka tentu tidak akan dengan mudah masuk kedalam kehidupan anak jika mereka tidak mampu mengambil langkah awal berinteraksi dengan mereka.

Setiap orang tentunya memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada yang tergolong supel dan ramah dan ada juga yang pemalu yang sulit sekali bergabung dengan orang lain, bahkan adapula karakter yang cenderung menyebalkan.
Mereka yang tergolong ramah dan supel yang biasanya dianggap sebagai orang yang menyenangkan dan akan disukai banyak orang. Lingkunganpun akan cenderung lebih mudah menerima orang dengan karakter seperti ini. Lantas, apakah pergaulan yang mudah didapat hanya terbatas pada orang-orang yang supel dan ramah saja? Tidak juga. Sebab seperti apapun karakter yang dimiliki oleh seseorang, ia akan tetap mampu menjadi pribadi yang menyenangkan, selama ada tindakan dan usaha dari orang tersebut. Inilah juga yang terjadi pada diri anak-anak.
Untuk itu, menjadi tugas orangtua dalam menumbuhkan kepribadian yang baik atau yang lebih tepatnya pribadi 'menyenangkan' dari dalam diri anak-anak. Sebab anak-anak masih terlalu kecil untuk memahami dan mampu mengatur serta membentuk sebuah pribadi baru dalam dirinya. Dengan demikian, peranan orangtua akan sangat membantu anak-anak dalam membantu mereka beradaptasi dan diterima dilingkungan mereka yang baru.
Anak-anak yang disenangi banyak orang tentunya akan membuat kita senang dan tenang sewaktu mereka bergaul dengan lingkungannya. Orangtua tak akan risau pada pertengkaran setiap kali anak mereka keluar dari rumah. Justru sebaliknya, anak-anak yang menyenangkan akan mampu diterima dan memiliki banyak teman sehingga mereka mampu menjalani masa kecilnya dengan riang dan gembira.
Nah, sebenarnya kriteria yang disebut dengan "pribadi yang menyenangkan" memiliki makna dan penilaian yang sangat luas dan berbeda-beda disetiap orangnya. Namun beberapa hal ini adalah hal utama dan menumbuhkan pribadi menyenangkan agar anak-anak mudah bergaul dengan lingkungannya.

Ajarkan Anak Untuk Selalu Berpikiran Positif

Orang-orang yang selalu berpikiran positif adalah mereka yang menyenangkan. Orang-orang yang seperti ini cenderung dianggap memiliki energi yang positif yang mereka tularkan dalam lingkungannya. Mereka yang selalu berpikiran positif adalah mereka yang senantiasa menghadirkan aura yang baru. Secara tidak langsung, orang yang selalu berpikiran positif seringkali mampu membangkitkan semangat dan mood yang baik pada orang-orang disekitarnya.
Hal ini tentunya tidak terjadi dengan orang-orang yang senantiasa berpikiran negatif. Sebaliknya, orang-orang yang selalu berpikiran negatif cenderung melemahkan dan memudarkan semangat orang lain. Hal inilah yang tentunya penting sekali diajarkan pada anak-anak. Meskipun mereka masih kecil, namun tidak ada batasan umur untuk mengajarkan hal ini pada seseorang. Hanya saja, pada anak-anak anda bisa mengajarkannya lewat sesuatu hal yang sederhana. Seperti misalkan, sewaktu anak bermain bersama dengan teman barunya dan ada teman lainnya yang tidak ingin bermain bersama anak anda dan temannya yang baru, berikan pengertian pada mereka, teman mereka mungkin saja masih malu berkenalan dengan anak anda atau mungkin teman tersebut akan berteman dengan anak anda dilain waktu.
Selain itu, daripada anak anda memusuhi temannya tersebut, mintalah anak anda untuk melakukannya terlebih dahulu, siapa tahu temannya sungkan karena malu bergabung dengan anak anda. Pendidikan yang satu ini tentunya penting sekali untuk terus ditanamkan pada anak karena mungkin kasus yang akan mereka hadapi setiap harinya akan berbeda-beda. Selama mereka masih belum bisa mengambil keputusan sendiri, maka dukung dan arahkan mereka dengan tanpa lelah dan rasa bosan.

Ajarkan Anak Untuk Mampu Mengontrol Emosinya

Dalam sebuah pergaulan, kepiawaian mengendalikan emosi adalah hal yang amat diperlukan, begitupun pada diri anak-anak. Lingkungan mereka yang baru adalah sesuatu yang asing bagi diri anak-anak dimana hal serupa yang mereka alami dilingkungan sebelumnya tidak mereka dapatkan dilingkungannya saat ini. Perasaan sedih, kesepian, kecewa dan kesal serta emosi-emosi lainnya mungkin mereka rasakan. Namun sewaktu si anak memiliki kesempatan untuk mendapatkan interaksi dan sosialisasi dengan temannya, maka berikan dukungan padanya untuk mencoba dan berikan pula pemahaman bahwa berteman tidaklah memilih dan bisa dilakukan dengan siapa saja.
Mintalah mereka untuk meredam emosi kesal mereka dan bujuk mereka untuk mencoba, siapa tahu temannya yang baru bisa menjadi sahabatnya. Selain itu, ajarkan pula anak-anak untuk bisa mengontrol amarah dan kekecewaanya jika suatu waktu harapannya tidak sesuai dengan kenyataan di lingkungan pergaulanya. Baru jika mereka berada di kamar seorang diri mereka boleh mengekspresikan emosinya seperti menangis atau kesal dengan jalan yang baik.

Ajarkan Anak Untuk Mudah Senyum

Seseorang yang mudah senyum akan lebih cenderung mudah disenangi banyak orang dibandingkan orang yang menampakan wajah masam atau bahkan judes. Senyum tak hanya menyenangkan dilihat oranglain, namun hal ini juga memberikan efek positif pada suasana hati anak-anak. Meskipun anda mengetahui karakter anak bukanlah seseorang yang ramah, namun tidak ada salahnya mengajarkan mereka untuk mudah senyum terutama saat oranglain menyapa dan mencoba untuk melakukan interaksi yang baik dengannya.

Ajarkan Anak Untuk Peduli Terhadap Sesama

Sebuah pergaulan merupakan hubungan timbal balik antara seseorang dengan oranglain yang memiliki kesamaan dalam beberapa pandangan. Meskipun masih anak-anak, namun disadari atau tidak hubungan yang mereka jalani tidak jauh berbeda dengan orang dewasa hanya saja pengaplikasiannya lebih sederhana. Menerapkan jiwa peduli terhadap sesama bukan hanya penting dalam hal pergaulan anak-anak saja. Namun hal ini penting sekali diterapkan dalam kehidupan disegala aspek.
Anak-anak yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama bukan hanya akan mudah diterima dilingkungannya, namun juga akan banyak disenangi oranglain. Mengajarkan kepedulian pada anak-anak bisa dilakukan dengan cara meminta anak untuk selalu  berbagi dengan teman-temanya, mengajarkan anak untuk peduli terhadap temannya yang sedang sedih dan mengajarkan anak tentang arti kesetian.
Nah, demikian beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan pribadi menyenangkan pada anak agar mereka mudah diterima dilingkungan pergaulannya. Namun selain itu, tentunya penting sekali bagi orangtua dalam mengawasi lingkungan pergaulan anak guna mengarahkan mereka pada kehidupan sosial yang baik.

Sumber : Bidanku.com

Anak Suka Iseng Dan Jahil? Ini Tips Untuk Menghadapi dan Mengatasinya....



Hai bunda,... anak anda suka iseng dan jahil? Nah berikut tips menghadapinya, semoga bermanfaat ya?

Dimasa kanak-kanak rasa penasaran dan ingin tahu pada diri anak begitu besar, tak heran karena ini adalah masa eksplorasi terhadap dunia yang ada disekitarnya.
Banyak bertanya, berlarian kesana-kemari, menyentuh barang-barang dan bahkan mendekati segala hal tak peduli hal tersebut bahaya atau tidak, inilah yang setidaknya dilakukan anak-anak. Hanya saja, perilaku anak dengan rasa penasarannya yang begitu tinggi tak jarang membuat kita orangtuanya dibuat pusing dan frustasi menghadapi perilaku mereka. Apalagi ketika perilaku anak ini sudah menganggu oranglain dan merugikan banyak orang, hal ini tentu saja akan membuat orangtua malu dan sungkan membawa kembali buah hati saat ada momen atau acara. Namun juga, tak sedikit acara sikecil yang melibatkan banyak orang yang membuat peluang mereka berinteraksi dengan orang banyak semakin besar. Jika saja si kecil tidak jahil dan suka iseng pada oranglain, sudah pasti anda akan dengan senang hati membawa mereka kemana saja.
Namun dipungkiri atau tidak, berinteraksi dengan lingkungan adalah sebuah kepastian. Saat si kecil masih balita anda mungkin bisa mengendalikan mereka dengan mengurungnya dirumah dan membatasi ruang bermainnya dengan oranglain. Namun, saat mereka tumbuh menjadi anak-anak diusia sekolah, hal inilah yang sulit anda cegah dan anda kendalikan. Bagaimanapun si kecil sudah memiliki teman dan lingkungannya yakni sekolahnya sendiri.

Namun, hal inilah yang semakin membuat anda pusing dan menuntut anda bekerja ekstra dengan harus menyertainya kemanapun anak anda pergi untuk menghindari perlakuan anak-anak yang bisa merugikan oranglain seperti suka iseng dengan mencolek, melempar, mendorong, mengancam, membuang barang, menyembunyikan barang, memukul dan bahkan mengigit. Tentu saja, hal ini akan membuat anak lainnya tak senang dengan perlakuan anak anda. Alhasil, anak-anak yang jahil dan suka iseng akan sulit mendapatkan teman dan tidak disenangi anak-anak lainnya.
Namun demikian, kejahilan dan kenakalan pada anak adalah hal yang wajar. Namun, jika hal ini dilakukan diambang batas normal. Sebab umumya hal ini dilakukan untuk menunjukan eksistensi dan ego si anak. Ada banyak penyebab yang sebenarnya bisa melatarbelakangi sikap anak yang jahil dan suka iseng. Nah, sebelum kita atasi sikap jahil dan suka iseng pada anak, sebaiknya kita kenali apa saja penyebab hal tersebut terjadi.

Kenali Penyebab Jahil Pada Anak

Rasa Ingin Tahu yang Besar Pada Diri Anak

Penyebab pertama yang mungkin terjadi pada anak-anak yang jahil dan suka iseng dengan melakukan tindakan tidak terpuji terhadap teman-teman sebaya atau orang lain bisa jadi dilatar belakangi karena faktor ketidak sengajaan akibat rasa ingin tahu mereka yang besar. Ketika seseorang mengatakan bahwa menjewer kuping itu sakit dan jika dilakukan pada orang lain hal ini akan membuat mereka marah, maka ekspresi marah inilah yang ingin mereka ketahui.

Ingin Menunjukan Agresitifitasnya

Hal lain yang juga jadi penyebab seorang anak jahil adalah perilakunya yang ingin menunjukan agresifitasnya terhadap orang lain. Ada beberapa tipe anak yang hadir dimasyarakat, mereka yang pemalu dan seringkali dijadikan objek dan ada pula mereka yang percaya diri namun terlalu mendominasi. Biasanya anak-anak yang jahil memiliki karakter terlalu percaya diri dan ingin menunjukan pada oranglain bahwa mereka bukanlah tipe pendiam yang lemah.

Dalam Rangka Menarik Perhatian

Ketika sang anak butuh perhatian dari teman, orangtua atau bahkan orang sekitarnya sementara mereka tidak memiliki cara lain untuk menunjukan eksistensi mereka, aak-anak akan cenerug melakukan hal-hal yang akan membuat perhatian kita tertuju pada mereka. Hal inilah yang meliputi perbuatan nakal anak, termasuk menjahili temanya. Ketika anak-anak berbuat jahil mereka mengasumsikan bahwa perhatian akan bisa mereka dapatkan segera.
Nah, beberapa penyebab diatas hanyalah segelintir sumber yang membuat seorang anak bisa menjadi jahil dan suka iseng. Sementara untuk menghadapi dan mengatasi anak-anak yang demikian, beberapa hal ini akan membantu anda menyelesaikannya.

Menghadapi dan Mengatasi Anak yang Jahil dan Suka Iseng

Kenali Sumber dan Penyebab Anak Menjadi Nakal

Seperti beberapa penyebab diatas, anda juga perlu mencari tahu jika anda sebab lain mengapa anak anda bisa menjadi iseng dan jahil pada teman-teman dan lingkungannya. Apabila kenakalan anak dilakukan atas dasar rasa ingin tahu, maka tanggapilah dengan positif selama perilaku yang ditunjukan anak masih dalam tahap yang wajar. Sementara jika dilakukan dalam rangka mencari perhatian, maka berikan perhatian yang ia inginkan. Luangkanlah waktu untuk mereka dan tanggapi apa keluhannya, bisa jadi anda kurang banyak menyisakan waktu berkualitas bersama dengan mereka.
Sebaliknya, jika anda menemukan kenakalan dan kejahilan anak dilakukan dalam rangka menyalurkan agresifitasnya, maka sebiaknya salurkan dalam hal-hal yang lebih baik seperti halnya mengajak anak melakukan aktivitas di luar ruangan seperti olahraga dan lai sebagainya.

Berikan Pemahaman Bahwa Jahil Bukan Perilaku

Ketika anda mendapati anak-anak susah sekali diatur dan sangat senang menjahili teman-temannya. Maka sampaikan pada anak anda dengan bahasa yang mudah mereka pahami bahwa perilaku jahil bukanlah perbuatan yang baik. Sampaikannya juga konsekuensi atau akibat dari perbuatannya tersebut akan membuatnya tidak memiliki teman dan tida disenangi oranglain.

Berikan Sanksi yang Tegas

Sewaktu anda telah memberikan pengertian pada anak-anak dan memberikan mereka nasihat, namun anak-anak masih sering iseng dna bertindak jahil terhadap teman-temanya. Maka inilah saatnya anda memberikan sanksi yang tegas pada mereka. Berikan sanksi yang akan membuat anak merasa jera dan tidak ingin mengulangi kesalahan tersebut. Misalkan "ambil" kesenangan anak sementara waktu dan segera kembalikan saat mereka menyesali dan tidak mengulangi perbuatan tersebut. Dengan begini anak akan berpikir dua kali saat mereka akan melakukan tindakan tersebut.

Hindari Memberikan Hukuman Fisik

Perilaku anak yang jahil dan senang iseng sudah merupakan tindakan yang nakal dan tidak terpuji. Tidak bijak rasanya jika anda menghadapi kondisi ini dengan memberikan kekerasan pada anak. Apalagi jika mengingat kreteria masing-masing anak berbeda. Anda mungkin mendapati anak teman anda menjadi penurut saat diberikan hubugat cubit oleh orangtuanya. Namun tidak berarti hal ini akan berhasil dengan anak anda, terutama jika watak anda keras. Alih-alih berhasil, hal ini malah akan membuat anak menjadi lebih keras dan membangkang pada nasihat anda.
Selain itu, jalan kekerasan bukanlah solusi terbaik dalam mendidik mereka. Untuk itulah, ada baiknya atasi dengan memahami karakter anak baru berikan sanksi tegas yang bisa membuat mereka jera untuk tidak mengulang kesalahan serupa.
Memiliki anak yang jahil dan suka iseng terhadap teman dan orang sekitarnya tentu saja akan membuat kita malu dan pusing menghadapinya. Untuk itulah, mengetahui hal apa saja yang mampu mendisiplinkan dan mendidik mereka akan membantu anda dalam mengatasi anak yang jahil dan suka iseng. Semoga tips kali ini bermanfaat untuk ibu dan semua orangtua dalam mendidik mereka buah hati kita tercinta.


Sumber : Bidanku.com

Menghukum dan Mendisiplinkan Anak Tidak Harus Dengan Kekerasan, Berikut Ini Tipsnya....


Hai Bunda... berikut ini tips menghukum dan mendisiplinkan anak dengan penuh cinta untuk menghindari kekerasan anak, semoga bermanfaat ya?

Seringkali perilaku anak-anak yang terlalu aktif dan terlalu lincah membuat para orangtua frustasi dalam mengatur dan mendisiplinkan mereka.
Apalagi, ketika perilaku anak sudah diatas batas normal dengan menyakiti atau merugikan oranglain. Hal ini tentu saja akan membuat orangtua pusing dan bingung menghadapi mereka. Sewaktu anak berperilaku terlalu aktif atau bahkan perilaku ini lebih condong menjadi perilaku nakal, perlu sekali bagi orangtua untuk mengupayakan segala cara agar membuat mereka tidak melakukan kesalahan yang serupa, salah satunya adalah dengan melakukan tindakan mendisiplinkan anak-anak.
Hanya saja, seringkali niat mulia ini bisa tergelincir menjadi kekeliruan yang membuat orangtua mengeluarkan respon yang berlebihan pada perilaku nakal yang dilakukan anaknya, semisal dengan melakuka kekerasan terhadap anak karena emosi yang tak dapat tertahankan. Lantas apakah benar satu-satunya jalan dalam menghukum dan mendisiplinkan anak yang berperilaku nakal hanya dilakukan dengan kekerasan? Jawabannya tentu saja tidak.
Sebuah aksi kekerasan, apapun bentuknya itu, seperti menjewer, mencubit, memukul atau bahkan dengan menampar anak dihadapan umumum adalah perilaku yang tidak seharusnya dilakukan para orangtua dalam hal mendidik anak. Karakter yang dimiliki masing-masing anak berbeda-beda, anda mungkin mendapati lingkungan tetangga anda berhasil membuat anak-anak mereka menjadi seorang penurut dan patuh terhadap orangtuanya setelah ayah atau ibunya menjewer dan memukul anak mereka sewaktu anaknya melakukan kesalahan. Namun ini bukan berarti hal yang sama bisa berhasil pada diri anak-anak anda.

Bisa jadi mental yang dimiliki anak anda tidak sekeras anak tetangga, sehingga ketika mereka melakukan kesalahan dan anda memberikan hukuman berupa tindakan kekerasan, hal ini malah akan membuat mental anak semakin ciut dan membuat jiwa mereka terguncang, alhasil anda akan menjadi sosok yang begitu ditakuti oleh anak anda. Hanya saja, ditakuti disini bukan dalam artian yang baik yang membuat anak-anak patuh dan menjadi penurut, namun lebih kepada melahirkan anak yang tertekan.
Sebaliknya, mungkin saja anak anda memiliki mental yang begitu keras, sehingga ketika anda memberikan tindakan kekerasan pada mereka sewaktu mereka melakukan kesalahan, alih-alih berhasil, justru malah akan semakin membuat anak menjadi pembangkang dan semakin sulit diatur.
Sebenarnya, makna dari mendidik dan mendisiplinkan anak berarti mengajari mereka untuk belajar mematuhi aturan dan tata tertib dalam kehidupan bersama, entah dalam lingkungan berkeluarga, bermasyarakat ataupun saat si anak berada disekolah. Dimana sikap ini penting sekali ditanamkan dalam diri anak-anak untuk membatasi perilaku anak dan menghindari anak yang bertingkah dan berperilaku semau gue.
Sikap disiplin yang ada dalam diri anak juga akan membuat anak belajar untuk mampu mengendalikan dirinya sendiri. Sayangnya, menerapkan sikap yang disiplin pada diri anak seringkali dikonotasikan dengan tindakan "hukuman" atau "ketegasan" terhadap pelanggaran yang dilakukan anak-anak.
Seringkali muncul keluhan anak-anak yang sulit disiplin senantiasa melakukan perlawanan dan berontak terhadap peraturan dan tata tertib yang dibuat. Namun sebuah tindakan kekerasan bukan hanya akan mampu mengubah perilaku anak, hal ini juga akan mampu memperburuk hubungan dengan anak.
Lantas bagaimana cara terbaik dalam mendisiplinkan dan memberikan hukuman pada anak? Jawabannya adalah dengan memberikan kasih sayang dan cinta bukan menganggap kesalahan yang anak perbuat adalah dosa mutlak yang harus ditindak dengan tegas. Nah, kita simak apa saja sih poin penting yang harus diperhatikan dalam mendisiplinkan dan menghukum anda dengan kasih sayang.

Perhatikan! Disiplin Bukanlah Kekerasan

Penanaman kedisiplinan terhadap anak-anak, sementara ini masih diidentikan dengan menerapkan perlakuan kekerasan terhadap anak. Setiap kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan anak, seringkali mengharuskan orangtua memberikan hukuman dan tindakan yang tegas yang berakhir dengan kekerasan. Padahal, tindakan kekerasan seperti menjewer, mencubit, menjambak sampai dengan mengurung anak dalam ruangan tertutup akan mengganggu perkembangan mental mereka yang terbawa hingga anak dewasa kelak.
Terganggunya mental dalam diri anak tidak dapat disembuhkan semudah dan secepat ketika anak mengalami luka gores atau lecet pada tubuhnya. Jika sakit fisik yang mereka derita membutuhkan waktu 1 sampai 2 bulan untuk sembuh, maka luka mental pada anak akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mereka dapat kembali dalam kedaan yang lebih baik, itupun kondisinya tidak akan kembali seperti sedia kala. Sebab gangguan mental akibat kekerasan biasanya akan berkaitan dengan memori pada anak yang mana hal ini akan senantiasa terkenang dan menghantui mereka jika memori tersebut lebih banyak bagian buruknya. Contohnya saja, sebagai orang dewasa kita mungkin masih ingat bagaimana kenangan buruk kita sewaktu masih kecil.

Berikan Contoh dan Jadilah Lingkungan yang Nyaman Untuk Anak-Anak

Sikap nakal dan perilaku kurang disiplin pada diri anak sering kali merupakan hasil dari sebuah proses peniruan yang mereka dapatkan dari lingkungan sekitarnya, termasuk lingkungan keluarga dimana sebagain besar waktu yang mereka habiskan adalah didalam rumah. Apabila contoh perilaku yang ditunjukan orangtua atau orang dewasa lainnya berupa sikap kekerasan, tindakan kejahatan atau bahkan berperilaku semaunya, maka secara tidak langsung hal ini yang akan membuat anak menirunya.
Sebaliknya, jika contoh yang ditunjukan orang dewasa pada anak-anak berupa perilaku positif dan kasih sayang, maka dampak psikologis terhadap anak adalah hal yang baik pula. Untuk itulah, sebisa mungkin jadilah contoh yang baik dan usahakan menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman untuk mereka. Hidup dengan dikelilingi orang-orang terkasih yang senantiasa menebarkan cinta, akan membuat anak merasa aman dan merasa terlindungi. Dengan begini, tidak ada alasan untuk anak bisa membangkang dan tidak mematuhi perintah orang yang mereka cintai.

Jalin Komunikasi yang Baik dengan Anak Untuk Hindari Kekerasan

Umumnya anak-anak dari mulai usia dua tahun sedikitnya mereka sudah mulai memahami perkataan dan pembicaraan yang disampaikan oranglain padanya. Sewaktu perilaku anak bandel dan sulit sekali disiplin, maka jangan terburu menghampiri anak dan memberikannya hukuman kekerasan dengan langsung memukul atau menjewernya.
Sebaliknya, hampiri anak dan peganglah pundaknya sambil berlutut untuk bisa meraihnya, lalu berikan pengertian pada merka bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang terpuji yang tidak boleh mereka ulangi. Selain itu sampaikan dengan halus dengan kata-kata atau bahasa yang mudah dipahami oleh si anak.
Ketika sikap dan perkataan anda halus, maka hal ini akan membuat si anak lebih tenang dan lebih siap mendengarkan dan mematuhi semua perkataan kita orangtuanya. Sebaliknya, tindakan kekerasan bukan hanya akan menyakiti anak, namun juga akan membuat mereka syok. Hal ini tentunya tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat anak menjadi disiplin seketika.
Mendisiplinkan anak memang merupakan pelajaran yang penting yang harus senantiasa ditanamkan saat anak masih berusia dini. Namun ini bukan berarti mengizinkan dan memperbolehkan anda untuk melakukan tindakan kekerasan pada praktek pengaplikasikan didikan kedisiplinan pada mereka.


Sumber : Bidanku.com

Awas...Jangan Suka Memukul Anak..!!! Ini Dampak Buruknya!!


 Hai bunda,... berikut ini penjelasan tentang dampak buruk jika orangtua suka memukul anak, semoga bermanfaat ya?

Seringkali orangtua merasa pusing menghadapi kenakalan dan perilaku yang tidak terpuji dari anak-anak mereka yang masih kecil.
Sulit dinasihati, berlarian kesana-kemari dan bahkan membangkang pada semua nasihat yang kita berikan, apalagi saat perilaku anak sudah mulai merugikan oranglain dan bahkan menyakiti teman-temannya, rasanya ingin sekali menjewer anak dan melampiaskan semua kekesalan kita dan berharap anak bisa seketika menurut dan patuh pada semua perintah yang kita berikan.
Namun ibu, tahukah anda memukul atau melakukan tindakan kekerasan pada anak bukanlah cara yang tepat dalam mendisiplinkan mereka dan membuat mereka mematuhi semua perkataan kita. Sebaliknya, hal ini justru dapat berdampak buruk dan memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan mental anak.
Sayangnya, masih ada banyak orangtua yang mengasumsikan hukuman dan kekerasan adalah solusi terbaik dalam mendisiplinkan anak mereka. Hal ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya berdasarkan pengalaman. Anda mungkin pernah melihat atau mendengar teman anda yang memiliki anak yang bandel, menjadikan pukulan pada anak sebagai hukuman yang membuat anak mudah jera dan rupanya hal tersebut memang berhasil. Namun benarkah demikian? Jawabannya tentu saja tidak.

Setiap anak memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Selain itu pola didikan dan asuhan yang diberikan oleh orangtua terhadap anak-anak masing-masingnya tidak sama. Dengan demikian sewaktu anda melihat teman anda mendisiplinkan anaknya dengan jalan kekerasan dan hal tersebut terbukti berhasil, tidak berarti hal yang sama bisa terjadi dengan anak anda. Mungkin saja, teman anda menerapkan pola didikan tersebut karena didukung dengan mental anak yang akan melemah sewaktu diberikan kekerasan atau bisa juga karena hal tersebut sudah merupakan peraturan turun temurun dalam keluarga teman anda, sehingga semua anggota keluarga sudah menjadikan hal tersebut sebagai peraturan mutlak yang harus dijalankan semua keluarga.
Sementara dengan anak anda, mungkin saja karakter yang dimiliki anak anda adalah karakter yang keras sehingga menghadapinya dengan kekerasan lagi tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, hal ini malah akan semakin menambah masalah dan membuat hubungan anda bersama dengan buah hati semakin memburuk.
Selain itu, para dokter anak memperingatkan oratua untuk tidak memukul anak-anaknya. Peringatan ini dilatarbelakangi dengan alasan bahwa jika sekali orangtua memberikan kekerasa pada anak, maka hal yang lebih buruk bisa mereka lakukan dilain waktu terhadap anak-anaknya. Para ahli juga mengungkapkan bahwa hubungan yang setara dengan serangan fisik merupakan perilaku buruk yang amat tidak efektif, sebab kekerasan yang dilakukan bukan malah mendisiplinkan anak dan membuat mereka merasa jera, justru malah akan memperburuk perilaku yang dimiliki si anak.
Perilaku memukul dan mempraktikan kekerasan terhadap anak bukan hanya dilakukan oleh orangtua. Meskipun orangtua sudah dengan berusaha keras tidak melakukan perlakukan ini pada anaknya dan dengan sekuat tenaga melindungi anak-anak mereka. Namun tidak bisa dipungkiri, perlakuan yang buruk yang diterima anak-anak terkadang datang dari orang terdekatnya yang setiap hari selalu bersama-sama dengan mereka, misalkan seperti kakak mereka yang sudah besar atau pengsuh mereka. Nah, jika anda mendapati hal ini terjadi pada anak-anak anda, maka segeralah atasi sebab ada begitu banyak dampak buruk yang bisa dihasilkan dari perlakuan memukul anak. Nah, guna membuat orangtua lebih waspada, berikut ini beberapa dampak buruk yang dihasilkan dari memukul anak.

1. Memukul Anak Malah Akan Melahirkan Anak yang Suka Memukul

Cukup banyak penelitian yang menunjukan bahwa anak-anak yang sering dihukum dengan kekerasan dan pukulan sering banyak melahirkan anak yang memiliki perilaku yang agresif dan menyimpang. Hal ini mungkin tidak akan berimbas pada anak seketika saat mereka masih kecil. Namun hal yang lebih buruk akan terjadi pada perilaku anak saat mereka menginjak usia remaja dan saat dewasa. Sebab hal ini terjadi sewaktu mereka masih kecil, anak-anak akan secara alami belajar bagaiman harus bersikap melalui pengamatan da meniru sikap orangtua mereka.
Jika ayah mereka seringkali memukul anak-anaknya saat mereka masih kecil, terutama anak tersebut adalah perempuan, maka akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak menghargai orang lain dan menganggap kekerasan adalah cara menaklukan seseorang.
Anda tentu tidak ingin jika hal ini terjadi pada putra dan putri anda bukan? Untuk itulah, hindari memberikan hukuman dan kekerasan yang bisa menyakiti anak-anak. Kami memahami betul, rasa kesal kita seringkali membuat kita tenggelam dalam amarah yang sulit dikendalikan. Namun  setidaknya, lihatlah dan pikirkan kembali betapa kerugian yang akan anda dapatkan dengan memukul mereka.

2. Tidak Menyelesaikan Masalah, Sebaliknya Memperburuk Hubungan Orangtua dan Anak

Ikatan antara orangtua dengan anak seharusnya didasari dengan cinta dan kasih sayang. Bukanlah kebencian bak musuh dengan musuh. Setiap kali anak anda melakukan kesalahan dan melanggar peraturan dan setiap kali itu juga anda memberikan pukulan sebagai hukuman, hal ini tentu saja menghilangkan cinta dan kasih antara anak dengan orangtua dan sebaliknya.
Daripada memberikan pukulan, menjewer atau mencubit anak saat mereka melakukan kesalah. Ada baiknya, jika anda menghampiri mereka dan menanyakan mengapa mereka sampai berbuat hal demikian. Setelah diketahui alasannya, baru pertimbangkan untuk memberikan hukuman pada anak jika kesalahan tersebut dengan sengaja mereka lakukan. Hanya saja, hindari memberikan hukuman yang menyakitkan dan sadis, sebaliknya berikan hukuman mendidik yang membuat anak jera untuk melakukan kesalahan yang serupa.

3. Membuat Anak Mengasumsikan Kekerasan Adalah Solusi Menyelesaikan Masalah

Ketika anda memberikan hukuman dengan jalan kekerasan, hal ini bukan malah menyelesaikan masalah dan membuat anak patuh pada anda. Malah mungkin sebaliknya, hal ini bisa saja ditangkap dan diasumsikan anak bahwa memukul dan menyakiti orang yang lebih kecil dari mereka adalah tindakan yang benar. Selain itu, anak juga akan mengasumsikan bahwa kekerasan adalah jalan terbaik dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah.
Nah, jika hal ini telah tertanam dalam diri anak, maka siap-siaplah dengan watak keras yang akan tumbuh dalam diri mereka. Jangan heran pula jika ketika anak besar nanti mereka seringkali bertengkar dan mengalami percekcokan dengan teman-temannya yang lain.

4. Pada Anak yang Mudah Marah, Hal Ini Akan Menumbuhkan Dendam

Perilaku anda yang sering menghukum dan memukul anak-anak anda, terutama anak-anak yang mudah marah bukan saja akan membuat mereka kesal. Hal ini juga akan membuat kemarahan yang tidak berani mereka ungkapkan akan dipendam dalam hati. Yang mana jika hal ini terus-terusan terjadi, amarah anak akan terus terakumulasi dan menjadi dendam terhadap orangtuanya.
Ketika mereka sudah besar nanti, bukan tidak mungkin mereka akan melakukan hal serupa dan memperlakukan orangtua mereka dengan tidak hormat karena mereka berpikir orangtua mereka adalah musuh yang harus dilawan.
Untuk itulah, memperhatikan pola asuh anda pada anak-anak sejak mereka masih kecil adalah hal yang haru senantiasa anda perhatikan. Anda tentu tidak ingin jika buah hati yang anda besarkan dengan susah payah malah berbalik menyerang anda dan membalas anda dengan tidak sepantasnya.
Demikian beberapa dampak yang bisa dihasilkan dari kebiasaan memukul anak. Beberapa dampak diatas hanyalah segelintir akibat dari kebiasaan sering memukul anak. Semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan orangtua untuk tidak mengaplikasikan kekerasan terhadap buah hati yang dicintainya.

Sumber : Bidanku.com

6.8.15

Tips Agar Anak Mudah Tidur



 Hai bunda,... berikut ini berbagai tips agar anak mudah tidur, semoga bermanfaat....

Tidak mudah membuat anak cepat tidur di waktu jam tidur. Dr.Richard Ferber, pendiri  Center for Pediatric Sleep Disorders di Children's Hospital Boston, mengatakan bahwa anak susah tidur, masalahnya bukan pada si anak, namun pada orang tua yang tidak konsisten. Keteraturan, kepastikan, konsistensi merupakan kunci utama dalam mendispinkan anak.  Dalam bukunya  Solve Your Children's Sleep Problems , Dr.Richard berbagai tipsnya:
  • Pertahankan jadwal tidur dengan konsisten. Buat jadwal tidur yang terkontrol dan sesuaikan dengan jam tidur anak.  Terapkan jadwal tersebut secara konsisten setiap hari.
  • Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman.  Anak harus tidur dalam kondisi yang sama setiap jam tidur tiba. Ciptakan suasana jam tidur yang tenang, sebagai tanda bahwa itu saatnya untuk tidur.
  • Hindari menyusui di malam hari jika tidak perlu. Menurut studi Dr.Ferber, kebanyakan gangguan tidur terjadi pada anak yang diberi makan berulang kali di malam hari. Kebanyakan ibu terus menyusui bayinya agar cepat tidur kembali saat terbangun tengah malam, jadi bukan berdasarkan kebutuhan gizi. Pola ini akhirnya terus berlanjut setiap malam.
  • Jujurlah pada anak Anda. Jangan suka menyelinap keluar kamar setelah ia tidur. Jika Anda akan pergi, biarkan anak melihatnya. Karena dalam banyak kasus, anak akan bangun pada malam hari dan menemukan Anda tidak di sisinya. Di sinilah masalah mulai timbul, anak jadi terbangun dan susah tidur kembali. Buat mereka aktif belajar melawan tidur.
  • Kompak. Kedua orang tua harus kompak menerapkan aturan yang telah disepakati. Karena konsisten adalah kunci penting dalam menerapkan aturan dan mendispinkan anak.
(Sumber : ayahbunda.co.id)