6.8.15

Tips Merawat Anak Yang Sedang Batuk



 Hai bunda,... berikut ini tips merawat anak yang sedang batuk, semoga bermanfaat ya?
 
Batuk sangat membuat anak tidak nyaman. Bahkan bisa mengurangi nafsu makan dan kurang tidur, karena  anak lebih ‘sibuk’ batuk-batuk. Lakukan perawatan ini saat anak batuk:
  • Jika batuknya berdahak, telungkupkan anak di pangkuan, kemudian tepuk-tepuk punggungnya agar dahaknya segera keluar. Jangan berikan obat-obatan yang menekan batuk, karena risiko infeksi akan meningkat jika dahaknya tidak keluar.
  • Jika anak batuk pada malam hari, tidukan dia dengan bantal yang cukup tinggi sehingga kepala dan bahunya tersandar pad abantal. Posisi ini menghindaro cairan dari hidung turun ke tenggorokan, sehingga bagian belakang tenggorokannya tidak teriritasi untuk batuk.
  • Untuk menenangkan tenggorokannya yang gatal, berikan air jeruk hangat yang diberi madu.
  • Beri anak banyak minum air putih sehingga dahaknya encer dan mudah keluar.
  • Jika batuknya “mengonggong,” bantulah anak bernapas lebih lega dengan penguapan sekitar 20 menit. Bisa dengan air panas di ember, atau dengan membuka bathtub air panas sehingga kamar mandi penup uap air panas.
Kapan ke dokter?
  • Batuk tidak reda setelah 3-4 hari.
  • Tidur malam terganggu.
  • Ada benda asing di tenggorokan yang tidak bisa dikeluarkan sekalipun dengan batuk-batuk yang kuat.
  • Batuk disertai mengi.
  • Batuk berdaah, kecuali jika ia baru saja mimisan, maka bisa saja batuknya disertai darah.
  • Mengalami kesulitan bernapas, sehingga bibir, wajah, dan lidah berwarna biru.
(Sumber : ayahbunda.co.id)

Tips Melatih Anak Agar Tidak Ngompol


Hai bunda,... berikut ini tips melatih anak agar tidak ngompol, semoga bermanfaat...
 
Bila balita masih sering ngompol,  terapkan latihan ini dimana pun Anda berada:
  • Buang air kecil sebelum tidur. Lanjutkan kebiasaan ini meski tidak sedang berada di rumah. Jelaskan pada anak bahwa dia tidak boleh ngompol -  apalagi di rumah kakek-neneknya.  
  • Bangunkan anak bila dia tampak gelisah. Anak-anak yang minum susu sebelum tidur, akan merasa ingin buang air kecil di saat tidur.  Anak-anak umumnya gelisah saat kandung kemihnya mulai penuh. Bangunkan anak, ajak dia ke kamar mandi. Atau, bila dia sulit membuka matanya, gendong dia ke kamar mandi dan minta dia buang air kecil.
  • Batasi makanan dan minuman yang manis. Batasi konsumsi gula berlebih pada anak.  Secara alami, tubuh akan membuang kelebihan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh, termasuk gula. Minuman dan makanan yang manis akan membuat anak sering buang air kecil.
  • Konsisten menerapkan toilet training. Tidak ada alasan Anda menghentikan toilet training. Tetap saja lakukan seperti biasa. Alat bantu seperti pispot dapat Anda bawa dari rumah atau Anda beli setibanya Anda di tempat tinggal orang tua Anda. Ajak anak ke kamar mandi setiap 1 jam sekali.
  • Beri pujian bila dia berhasil tidak ngompol. Dipuji karena tidak mengompol, membuat anak bangga. Dia juga merasa disayang saat dia mendapat pujian.
  • Hindari ancaman dan hukuman dengan mengatakan “nanti dimarahi nenek”. Lebih baik Anda mengatakan “malu sama kakek-nenek dan saudara lainnya kalau kamu masih ngompol”.
  • Gunakan perlak – alas karet -  saat tidur malam. Tingkatkan percaya diri Anda dengan melepas popoknya di malam hari dan alasi tempat tidur dengan perlak yang dilapisi kain. Jika ia tiba-tiba ngompol, akan mudah menyadarinya. Segera bawa ke kamar kecil jika ini terjadi.
  • Jangan permalukan dan memarahi anak bila dia mengompol. Anak tak ingin mengompol, karena sebetulnya dia pun malu bila ngompol. Memarahi anak di depan anggota keluarga lain akan membuatnya makin malu dan mengikis harga dirinya.  
  • Perlihatkan anak lain yang lebih besar yang sudah tidak ngompol lagi. Sepupu yang sudah tidak mengompol, dapat menjadi contoh bagi anak Anda. Tunjukkan bagaimana anak-anak yang sudah besar buang air kecil sendiri ke kamar mandi.
  • Ajarkan dia bicara saat merasa ingin buang air kecil. “Bunda, mau pipis.” Adalah kalimat pendek yang seharusnya sudah dapat diucapkan anak Anda di usia ini. Ajarkan anak mengucapkan kalimat ini setiap kali dia merasa ingin pipis. Atau Anda dapat bersikap peka bila anak sudah menunjukkan gelagat ingin pipis. Anak-anak yang merasa ingin buang air kecil biasanya menggerakkan kepalanya secara tak sadar. Segera bawa anak ke kamar kecil.
(Sumber : ayahbunda.co.id)

Tips Meningkatkan Nafsu Makan Bayi Dengan Variasi Makanan Bergizi



Hai bunda,... berikut ini tips meningkatkan nafsu makan bayi dengan variasi makanan bergizi, semoga bermanfaat ya?
 
Seringkali bayi memainkan makanan yang sedang dikunyahnya, bahkan beberapa bayi menolak pemberian makanan pendamping ASI dan lebih memilih ASI saja sebagai sumber untuk mencukupi kebutuhan gizi harian. Kondisi seperti ini seringkali ditangkap oleh orang tua sebagai hilangnya nafsu makan bayi terhadap makanan terutama menu MPASI. Salah satu cara yang aman adalah dengan memvariasikan makanan untuk bayi anda sehingga mengenal berbagai jenis rasa. Memasuki usia 6 bulan, bayi tidak saja membutuhkan asi dalam melengkapi kebutuhan nutrisinya melainkan makanan pendamping asi yang dapat melengkapi kebutuhan nutrisi sesuai dengan perkembangannya. Pemberian ASI pada bayi yang telah mendapatkan MPASI disesuaikan dengan keinginan bayi, hal ini dikarenakan kandungan gizi pada asi sudah dapat dibantu dengan adanya MPASI.
Peranan MPASI berpengaruh besar dalam perkembangan bayi terutama dalam memberikan energi dan zat gizi yang dibutuhkan bayi, kemudian juga membantu bayi beradaptasi dengan makanan yang mengandung kadar energi yang tinggi dan mengembangkan kemampuan makanan untuk mengunyah. Tantangan yang seringkali dialami oleh ibu dalam pemberian MPASI adalah penolakan bahkan kurangnya nafsu makan pada bayi. Hal ini dapat terjadi pada siapa saja, apalagi pada bayi yang baru saja sembuh dari sakit. Adapun cara yang bisa anda lakukan untuk meningkatkan nafsu makan bayi adalah dengan memberikan variasi makanan bergizi seperti berikut :
1.    Pada pertama pemberian MPASI, anda dapat memvariasikan makanan bayi sehingga bayi anda dapat mengenal rasa. Hindari penggunaan gula dan garam terlebih dahulu pada pemberian MPASI. Rasa dari sayur, buah, lauk pauk mampu memberikan rasa yang berbeda.
2.    Pada awal pemberian MPASI anda dapat menjadwalkan menu makan seperti pemberian bubur bayam, bubur buah, bubur saring. Anda dapat mengatur jadwal makanan dari tekstur yang lembek menuju makanan yang padat.Ketika bayi anda menolak bubur saring di usia 6 bulan, jangan berikan tim terlebih dahulu, yang bisa anda lakukan menambah rasa dari beranekaragam bahan makanan.
3.    Dalam pemberian variasi makanan sebaiknya anda mengenalkan sayuran yang lebih dominan, dikarenakan umumnya buah-buahan berasa manis bisa diterima oleh bayi. Bila memungkinkan pilihlah bahan makanan sayuran segar apalagi bila sayuran organik yang menyehatkan.
4.    Anda dapat menyediakan cemilan yang sehat untuk bayi yang anda olah dari salah satu bahan seperti yogurth, keju, buah, sayur. Sehingga meskipun makanan sedikit akan tetapi kebutuhan nutrisi bagi bayi anda dapat tercukupi dengan seimbang. Disarankan cemilan dibuat sendiri, adapun bila memang terdesak waktu seperti sedang diperjalanan maka dapat membeli cemilan khusus bayi.
5.    Sesekali ciptakan suasana makan bersama bayi anda dengan menyenangkan. Apalagi pada bayi yang sudah berusia 12 bulan dapat anda ajak untuk menyusun menu makanan.Tidak disarankan pada anak anak mendapatkan menu makanan yang sama dalam satu hari misalnya pagi hari dengan nugget, siang dengan nugget dan sore masih sama dengan nugget. Meskipun memiliki nafsu makan yang tinggi tapi anda sebaiknya mengimbangkan dengan cemilan jus buah dan sayur.

Sumber : Bidanku.com

Tips Menghadapi Anak Yang Rewel Saat Makan



Hai bunda,... berikut ini tips menghadapi anak yang rewel saat makan, semoga bermanfaat ya?
 
Menginjak usia 1.5  tahun, anak mulai tahu perbedaaan rasa dan tekstur makanan. Hal inilah yang menjadikan anak sulit makan. Agar jam makan tidak menjadi waktu yang menegangkan, praktikkan hal-hal berikut saat anak mulai rewel saat waktu makan tiba.

Berikan pilihan. Anak yang rewel dan tidak mau makan bisa jadi karena ia bosan dengan makanannya. Beri pilihan jenis makanan lain. Misalnya, jika saat itu anak sedang makan ikan, sediakan juga telur, yang memiliki tekstur atau warna yang berbeda. Lalu amati reaksi anak. Jika ia suka telur , masukkan dalam daftar menunya. Namun jika anak menolak, hentikan dulu acara makan dan coba lagi 1 jam kemudian.

Tidak memaksa. Jangan paksa anak makan atau menghabiskan makanannya. Sebab hal ini justru akan membuat anak benar-benar menolaknya. Cobalah terus secara perlahan dan sabar. Tawarkan makanan pilihan Anda padanya dua kali dalam sehari. Jika ia tetap menolak, coba lagi besok dalam bentuk yang berbeda dan lebih bervariasi. Misalnya Anda ingin anak mencicipi kentang rebus. Jika anak tidak suka, coba lagi dengan bentuk yang lain seperti membuatnya menjadi perkedel kentang yang dikombinasikan dengan daging giling.

Makan bersama. Ajak anak makan bersama keluarga sehingga Anda bisa memberinya contoh. Selain itu, suasana makan bersama lebih membangkitkan selera makan anak. Anda juga bisa memberi contoh dengan memakan makanan terlebih dahulu. Katakan “hmm, enak” usai mencicipi makanan. Jika ia tetap rewel saat jam makan, maka Anda perlu menghadirkan suasana baru saat jam makan. Misalnya, mengganti peralatan makan yang biasa dipakai dengan peralatan makan yang baru.

Potong lebih kecil. Memotong makanan dengan ukuran yang lebih kecil dapat membantu anak untuk memakannya dan mencegah dia tersedak. Jika potongan makanan yang lebih kecil tidak banyak membantu mengatasi anak yang sulit makan, buat kreasi makanan dengan membeli cetakan-cetakan makanan yang berbentuk lucu dan unik. Ajak anak untuk ikut memotong dan mencetak makanan. Pastikan ia sudah mencuci tangan ya, Bu.

Gunakan piring dan sendok yang unik. Selain warna, bentuk dan gambar yang tercetak dalam peralatan makan anak juga menjadi daya tarik tersendiri. Jika memungkinkan Anda bisa membelikan peralatan makan sesuai dengan tokoh yang diidolakannya. Jika anak tetap menolak makan, gunakan peralatan makan ini sebagai alat untuk bercerita saat Anda menemaninya makan.

Terapkan cara makan yang menyenangkan. Anda harus semangat lebih dulu sebelum mengajak anak makan. Jika Anda bersemangat, anak akan ikut bersemangat. Ciptakan kegiatan makan yang menyenangkan, misalnya,  dengan menceritakan asal bahan makanan yang akan dimakan sehingga anak  penasaran dan senang menyantapnya.

Beri pujian dan pelukan saat ia berhasil menghabiskan makanannya sebagai salah satu bentuk hadiah. Dengan begitu ia akan menjadi lebih bersemangat ketika waktu makan berikutnya tiba.

(Sumber : ayahbunda.co.id)

Tips Membantu Anak Bersosialisasi

Hai bunda,... berikut ini tips membantu anak bersosialisasi, semoga bermanfaat....

Balita juga butuh belajar bersosialisasi. Bantu dia mengasah ketrampilan sosialnya sejak dini. Ajak dia untuk beradaptasi dengan lingkungan baru di luar rumah.
  • Playdate. Ciptakan jadwal bermain bersama anak-anak sebayanya pada hari-hari tertentu sehingga balita berkesempatan untuk mengenal anak-anak lain.
  • Ajak ke baby gym atau arena bermain. Bergabunglah dengan kelompok baby gym, kelompok senam bayi, atau tempat bermain anak lainnya, seperti yang tersedia di sejumlah mal. Ini selain akan membuat balita berkenalan dengan anak-anak seusianya, dia pun dapat melatih berbagai keterampilan tubuhnya.
  • Ajak ke taman dekat rumah. Bawalah balita secara rutin ke taman di kawasan tempat tinggal Anda pada pagi hari atau sore hari. Biasanya  taman akan cukup ramai dikunjungi orang tua lainnya yang juga mengajak anaknya bermain di situ. Biarkan si kecil berkenalan dengan para tetangga, anak-anak lainnya, baik yang sebaya maupun yang lebih besar.
  • Ajak ke acara keluarga. Jangan segan membawa balita ke acara-acara keluarga. Misalnya pesta ulang tahun salah satu kerabat, arisan keluarga besar, pada saat hari raya, maupun acara keluarga lainnya. Anak akan belajar mengenal anggota keluarga besarnya yang terdiri dari banyak orang dengan berbagai rentang usia. Dia pun akan belajar memahami dirinya adalah bagian dari komunitas yang lebih besar.
  • Ajak ke tempat kerja. Sesekali tak ada salahnya membawa balita ke tempat kerja Anda maupun pasangan. Dia akan belajar mengenal suasana lingkungan yang berbeda. Selain mengenalkan anak kepada rekan-rekan kerja Anda, si kecil juga dapat Anda ajarkan untuk mempraktekan disiplin dan kepatuhan yang sudah diajarkan di rumah. Misalnya, boleh bermain tapi tidak rewel merengek minta gendong atau menangis.
  • Ajak bermain dengan permainan berbagi. Kenalkan balita pada jenis-jenis permainan yang dimainkan secara bergantian. Misalnya, permainan memukul bola yang dilakukan bergiliran. Ini akan menjadi sarana anak untuk belajar berbagi (sharing) dengan orang lain. Namun, menurut Leticia Lara, psikolog perkembangan dari Brigham Young University, Utah, (AS), kemampuan anak untuk berbagi akan berkembang melalui proses belajar hingga balita mencapai usia di atas 3 tahun. Jadi, tak perlu memaksakan balita untuk mau berbagi, tapi paling tidak Anda sudah mengenalkannya sejak dini. Lara menekankan, yang penting melalui kegiatan bermain, baik itu bermain soliter maupun bermain paralel, anak belajar untuk mengenal dunia.
(Sumber : ayahbunda.co.id)

5.8.15

Beberapa Sikap Yang Perlu Dihindari Dalam Pembentukan Pribadi Anak




 Hai bunda,... berikut ini beberapa sikap yang perlu bunda hindari dalam pembentukan pribadi anak, semoga bermanfaat ya?

Menjadi orang tua dari seorang anak yang sudah menginjak usia balita sepertinya gampang-gampang susah ya. Saat anak masih balita, orang tua menjadi sangat toleran terhadap kondisi tertentu, namun adakalanya ketika beberapa anak sangat nakal orang tua akan kesulitan dalam menemukan situasi untuk menghadapinya dan bahkan tak jarang anda dibuat pusing bagaimana menemukan solusi yang tepat untuk mendidik anak balitanya.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa menjadi orang tua bukanlah perkara yang mudah, anda sebagai orang tua dituntut untuk menghasilkan anak yang mandiri dan penuh dengan tanggung jawab. Kesalahan kecil dalam mendidik anak bisa berakibat fatal yang juga dapat berakibat pada pola hidup dan kebiasaan anak itu sendiri.

Selain itu, anak balita belum dibekali kemampuan untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga anak cenderung akan meniru dan mengadopsi cara-cara dan perilaku yang sering terjadi di kehidupannya. Untuk itulah, mengapa lingkungannya harus senantiasa dijaga. Bisa anda bayangkan, akan seperti apa jadinya jika lingkungan tempat anak anda tumbuh dipenuhi dengan hal-hal negative seperti halnya lingkungan yang ‘keras’. Meski tak selalu demikian, namun lingkungan memang amat berpengaruh pada kehidupan anak berikutnya, termasuk bagaimana pola orang tua dalam hal mendidik anak.

Perbedaan akan terlihat mencolok pada anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan penuh cinta dengan anak yang selalu mendapatkan pola didikan ‘keras’ dari orang tuanya. Sayangnya, tak banyak orang tua yang tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anakpun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan. Untuk lebih mengenalkan bagaimana pola lingkungan yang baik untuk mendidik anak, berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat mendidik anak :
1.    Menuntut Kesempurnaan Diluar Batas Kemampuan Anak
Sikap anda dalam menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang pada umumnya berada diluar kemampuan dan jangkauan wajar yang dimiliki anak anda, hanya akan melahirkan anak yang terlalu berambisi pada semua hal. Memiliki ambisi pada sebuah tujuan memang hal yang baik, namun jika proses pencapaian itu sendiri tak pernah dihargai dan anak hanya mengedepankan kuantitas. Hal ini tidaklah baik untuk psikologisnya, bukan tidak mungkin saat anak beranjak dewasa ia akan melakukan apa saja asalkan apa yang telah menjadi targetannya bisa ia raih. Selain itu, menuntut anak dengan ‘keras’ hanya akan membuatnya stress dan trauma. Untuk itu, berikan kesempatan pada anak untuk mencoba-coba terlebih dahulu apa yang menjadi hobinya, dengan begitu seiring berjalannya waktu, ia akan mulai memaknai bahwa prestasi juga perlu diperhitungkan.
2.    Mengancam
Menghadapi anak yang sedikit susah diatur memang memusingkan bahkan tak jarang hal itu justru sedikit menjengkelkan. Namun perilaku mengancam meski secara halus maupun kasar tidak dibenarkan. Misalkan menghadapi anak yang sulit mengunyah makanan dengan menakuti bahwa giginya bisa ompong dan sebagainya hanya akan berdampak buruk. Mengancam dengan nada halus maupun tinggi tidak akan menyelesaikan masalah. Ancaman memang efektif agar membuat anak mau menuruti semua perintah kita, namun hal itu hanya bersifat sementara. Karena didasari pada rasa takut bukan kesadaran anak semata. Dan kelak jika si anak sudah mulai mengerti ia akan merasa dibohongi.
3.    Waspadai Perilaku Anda
Anak-anak cenderung akan meniru segala perilaku yang dilakukan oleh orang tuanya. Perilaku anda seperti berbicara dan berperilaku semuanya akan ditiru oleh anak. Untuk itu, sebaiknya lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak ketika berada dihadapan buah hati. Salah-salah, mereka akan malah meniru semua perilaku anda termasuk dengan kebiasaan buruk anda.
4.    Terlalu Menekan
Sikap terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginan dan jalannya sendiri atau mengembangkan minat dan bakatnya pada bidang yang mereka cintai. Akan berakibat pada psikologisnya seperti akan menjadi lamban, tidak memiliki pendirian, selalu bekerja sesuai perintah layaknya robot, dan bukan tak mungkin menjadikan anak menjadi suka melawan saat ia mulai bisa membela diri nanti. Untuk itu, akan lebih baik jika anda memberikan kesempatan anak untuk memilih bidang mana yang mereka sukai. Misalkan saat anak senang mencoret-coret berikan kesempatan untuknya untuk menikmati hobinya tersebut dari sana anda bisa mulai mengarahkannya pada kegiatan melukis yang mana bakat tersebut akan berguna untuk hidupnya kelak.
5.    Terlalu Lemah
Terkadang saat anak rewel menginginkan sesuatu anda cenderung akan mengalah dengan memberikan apa yang mereka inginkan meskipun hal tersebut akan sedikit merepotkan anda. Namun pola didik seperti ini sebenarnya menyalahi aturan. Anak-anak diusia balita belum mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi penuntut, cenderung egois, impulsive (gampang melakukan tindakan tanpa melalui perhitungan panjang), dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Untuk itulah, peran dan pola asuh orangtua yang baik amat dibutuhkan pada fase ini. Namun bukan berarti anda harus keras terhadap anak, hal yang paling penting untuk menumbuhkan kesadaran anak adalah sikap tegas anda terhadap anak.
6.    Melanggar Janji
Saat anda membuat janji pada anak kecil jangan pernah sesekali menganggapnya sebagai hal yang sepele dan bisa dilanggar karena mereka masih kecil. Anak di usia dini justru akan mengerti dengan lebih baik daripada yang anda bayangkan. Mereka akan mengerti apakah anda menunjukkan prioritas atau tidak terhadap mereka. Untuk membentuk pribadi anak yang lebih baik, ada baiknya jika anda juga menepati apa yang sudah anda janjikan pada anak.
7.    Ucapan Kasar
Di usia balita, si kecil akan mulai belajar mencontoh apa yang ia dengar dari orang-orang sekitar dan lingkungannya. Mereka akan menyerap apa yang mereka dengar dan saksikan dengan tanpa menyaring mana hal baik dan hal buruk. Untuk itu, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata kasar di depan anak. Terkadang orang tua lepas kendali dengan melepaskan kata-kata yang kurang pantas saat marah. Namun, akan lebih baik jika anda tidak menyebutkannya di depan anak.
8.    Mendorong Anak Terlalu Keras
Dukungan dan dorongan memang penting diberikan pada buah hati agar anak terpacu dan termotivasi untuk melakukan beragam hal yang positif. Namun ada hal yang harus anda waspadai adalah ‘mendorongnya’ secara berlebihan. Mungkin saat teman-teman seusianya bisa melakukan sesuatu, hal yang sama juga ingin dipaksakan pada anak sendiri. Alih-alih anak menjadi termotivasi, mereka malah akan tertekan dan depresi dibuatnya. Untuk itulah, sebaiknya sesuaikan porsi prestasi dengan kemampuan si kecil agar ia tidak terlalu terbebani.
9.    Terlalu Memanjakan Anak
Menghujani anak dengan terus-menerus membelikannya barang-barang mewah dan mahal atau memberikannya pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Hanya akan melahirkan anak dengan pribadi yang gampang bosan, kurang memiliki daya juang, dan kurang inisiatif. Untuk itulah, cukupkan pelayanan dengan apa yang dibutuhkan anak, sebelum ia terbiasa dengan perilaku anda yang ‘memanjakannya’.

Di usia balita anak-anak akan mulai menyerap segala informasi dan juga meniru segala tindakan dari orang-orang disekitarnya. Tentu ini masa-masa dimana seharusnya para orangtua memberikan bimbingan dan dituntut untuk lebih berhati-hati dalam bersikap.


Sumber : Bidanku.com

Yukkkk... Kenali Faktor Pemalu Pada Anak Dan Cara Mengatasinya....


 Hai bunda,... yuk mengenali faktor pemalu pada anak dan cara mengatasinya, semoga bermanfaat ya?

Anak sulit berinteraksi dengan orang lain dan ia hanya bersembunyi dibalik punggung anda setiap kali dikenalkan di depan public, bisa jadi ini adalah tanda anak pemalu. Malu atau menjadi pemalu diusia tertentu, bukanlah bagian dari perkembangan. Bila anak tumbuh menjadi pribadi yang pemalu, sifat tersebut lebih sebagai hasil dari proses belajar dari lingkungannya.
Di usia tertentu termasuk usia balita anak akan belajar berinteraksi dengan lingkungannya. Response yang dihasilkan oleh setiap anak juga berbeda-beda, ada anak yang mudah mencair dan akrab dengan situasi baru, ada juga anak yang membutuhkan waktu untuk mengamati lingkungan baru sebelum akhirnya ia bisa mencair dan akrab dengan lingkungan barunya.
Meski memang belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan kalau anak pemalu mengalami kesulitan pelajaran atau gagal dalam pekerjaan. Namun menumbuhkan rasa percaya diri pada anak adalah hal yang paling mendasar bagi kehidupan sosialnya dimasa yang akan datang. Selain itu, rasa percaya diri juga ikut andil dalam membentuk pola pikir seseorang yang mempengaruhinya untuk melakukan tindakan. Dengan begitu, hal tersebut akan memudahkan anak dalam bergaul, menunjukan potensi diri dengan rasa percaya diri yang akhirnya berujung pada keberhasilannya nanti.

Sifat dan sikap pemalu pada anak bisa dipicu oleh beberapa latar belakang, seperti :

1.    Kurang Bermasyarakat
Sifat pemalu akan terjadi bila anak hidup dengan latar belakang dimana di abaikan oleh orang tuanya, atau dibesarkan pada keluarga yang mengasingkan diri, terlalu dikekang, sehingga mereka tak dapat menjalin dan mengalami hubungan social yang normal dengan masyarakat. Sehingga saat anak dikenalkan pada public, mereka akan cenderung lebih banyak diam dan ingin terus bersama anda.
2.    Pengalaman Buruk
Ketika anak mengalami banyak peristiwa yang menyebabkannya memiliki penilaian malu. Hal ini akan berpengaruh pada pola pikirnya yang berimbas pada perilakunya. Misalkan, saat ia tampil menyanyi di depan banyak orang dengan tatapan penonton yang hanya tertuju padanya, dengan begini anak akan beranggapan bahwa berdiri didepan orang banyak adalah hal yang memalukan sehingga ia akan berhenti melakukan hal tersebut karena perasaan malu yang dirasakannya.
3.    Anak Merasa Menjadi Sumber Perhatian
Anak pemalu terkadang kerap kali merasa dirinya diperhatikan banyak orang atau ia akan merasa malu bila dirinya menjadi bahan perbincangan banyak orang. Hal seperti inilah yang menyebabkan anak takut dan cemas untuk bertindak atau berpendapat karena khawatir apa yang dilakukannya salah dan menjadi bahan tertawaan orang-orang.
4.    Pola Asuh Awal Yang Keliru
Rasa malu pada anak kemugkinan bisa terjadi karena pola asuh awal yang keliru ketika anak masih bayi terutama di dua tahun usia pertamanya. Karena otak bayi di usia tersebut mengalami perkembangan yang amat pesat dan diusia ini adalah saat dimana bayi mulai mengembangkan pola mengasosiasikan sesuatu. Misalkan, kebiasaan anda yang akan langsung berlari dan menggendong bayi saat ia menangis. Bayi yang mendapatkan perlakuan seperti ini akan menjadi bayi yang manja dan merasa dicintai. Perasaan seperti ini tentu saja baik untuk bayi, namun jika diberikan secara berlebihan seperti memperlakukan anak bak puteri raja yang selalu dilayani setiap saat tidak terlalu baik untuknya. Anak yang selalu dimanja, akan merasakan kehilangan dan kesepian seolah tak ada pegangan dan tak tahu apa yang harus dilakukan saat mereka berada jauh dari orang tuanya. Sementara anak yang bayi yang tidak selalu dimanja oleh orang tuanya, cenderung mampu mengatasi rasa kesendirian dan mampu menampilkan rasa percaya dirinya dengan baik.
5.    Tidak Diberikan Kesempatan Berinteraksi
Salah satu factor yang memicu anak menjadi pemalu bisa jadi dipicu karena ia tak punya teman sebaya sebagai teman bermainnya. Sehingga ia menjadi jarang melakukan interaksi dengan orang lain dan ketika ia bertemu dengan orang baru di lingkungan baru, mereka tidak tahu bagaimana cara berinteraksi atau memperkenalkan dirinya dengan orang lain karena tak pernah diajak keluar main, pergi ke taman atau tidak bersekolah. Anak yang tidak diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan anak seusianya karena ruang geraknya hanya terbatas dengan keluarga di rumah akan membuat anak memiliki anggapan bahwa orang lain selain keluarganya adalah sebuah ancaman. Dan hal inilah yang membuatnya menarik diri dari keramaian dan tempat umum.
Berikut adalah beberapa factor pemicu yang bisa membuat anak menjadi pemalu. Namun jangan risau, sebagaimana dijelaskan diatas bahwa sifat pemalu pada anak bukanlah bagian dari perkembangan, melainkan sebagai hasil dari proses belajar dari lingkungannya. Dengan kata lain, anda para orang tua masih bisa mengatasi sifat pemalu pada anak anda. Seperti apakah cara menghadapi dan mengatasi anak yang pemalu? Berikut ini poin-poin pentingnya.

Cara Mengatasi Anak Pemalu

1.    Biarkan Anak Bereksplorasi
Terapkan  pola asuh yang baik pada anak sejak ia masih bayi, dengan cara memberikan kesempatan untuknya untuk melakukan eksplorasi terhadap segala hal yang ia inginkan. Yang tentunya ada dalam pengawasan anda apabila si kecil melakukan aktivitas, eksplorasi atau hal lainnya yang beresiko membahayakan untuknya. Biarkan bayi anda tumbuh dan berkembang membangun citra dirinya.
2.    Jangan Memberikan Anak Sebuah Predikat
Saat anda mengenali sikap dan mengetahui bahwa anak memiliki sikap pemalu. Jangan sesekali memberikannya predikat dengan menyebutnya sebagai pemalu. Memberikan predikat pemalu pada anak bukanlah tindakan yang tepat, karena anak tak pernah berpikir bahwa dirinya itu pemalu. Bila ia sering dikatai sebagai pemalu, bukan tidak mungkin ia menjadi sadar dan lebih malu yang akhirnya berujung pada  psikologis anak yang memilih menarik diri dari lingkungannya. Ada baiknya saat anak kurang percaya diri berkembang dilingkungannya, berikan ia dorongan dan kepercayaan bahwa ia bisa melakukannya. Dengan begini anak akan lebih termotivasi untuk lebih berani.
3.    Bawa Serta Anak Saat Melakukan Kunjungan
Saat melakukan kunjungan seperti kunjungan ke tetangga, arisan atau pernikahan. Ada baiknya, jika anda mulai membawa serta si kecil. Dengan mengajak si kecil berkunjung ke tempat-tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru akan membuatnya terbiasa dengan lingkungan dan orang-orang baru. Sehingga si kecil menjadi lebih berani dan percaya diri.
4.    Masukan Anak Ke Sekolah
Selain mampu mengasah kecerdasan social anak, memasukannya ke TK atau Taman Kanak-Kanak mampu menumbuhkan kepercaya dirian anak yang lebih tinggi. Karena dengan bersekolah anak akan menjumpai serta mengenal berbagai karakter orang dan mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan diluar rumahnya. Dengan begini anak akan bermain sambil mengasah kemampuan diri dalam bersosialisasi dengan teman seusianya. 
5.    Dukungan Orang Tua
Dukungan serta dorongan orang tua adalah hal paling penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak. Saat anak belum berhasil melakukan sesuatu, jangan pernah mengucilkan atau menganggapnya lemah, hal ini hanya akan membuat anak tertekan dan semakin tidak percaya diri. Untuk itu, tetap berikan motivasi dan kepercayaan anda bahwa anak bisa melewati dan melakukannya.
Sifat pemalu atau minder yang dimiliki oleh seorang anak dapat membuat bakat dan potensi yang dimilikinya tidak ditunjukan dan digali secara keseluruhan. Orang lain juga tidak bisa melihat kemampuan anak secara penuh, jika anak tersebut menarik dirinya dari pergaulan dan kesempatan sukses yang mungkin bisa terlewatkan begitu saja. Namun dengan mengetahui beberapa tips mengatasi anak yang pemalu, anda bisa menerapkannya pada anak sehingga ia bisa lebih berani dan percaya diri menunjukan potensi yang dimilikinya.


Sumber : Bidanku.com