Hai bunda,... berikut ini beberapa sikap yang perlu bunda hindari dalam pembentukan pribadi anak, semoga bermanfaat ya?
Menjadi orang tua dari seorang anak yang
sudah menginjak usia balita sepertinya gampang-gampang susah ya. Saat
anak masih balita, orang tua menjadi sangat toleran terhadap kondisi
tertentu, namun adakalanya ketika beberapa anak sangat nakal orang tua
akan kesulitan dalam menemukan situasi untuk menghadapinya dan bahkan
tak jarang anda dibuat pusing bagaimana menemukan solusi yang tepat
untuk mendidik anak balitanya.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa menjadi orang tua bukanlah perkara
yang mudah, anda sebagai orang tua dituntut untuk menghasilkan anak yang
mandiri dan penuh dengan tanggung jawab. Kesalahan kecil dalam mendidik
anak bisa berakibat fatal yang juga dapat berakibat pada pola hidup dan
kebiasaan anak itu sendiri.
Selain itu, anak balita belum
dibekali kemampuan untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk sehingga anak cenderung akan meniru dan mengadopsi cara-cara dan
perilaku yang sering terjadi di kehidupannya. Untuk itulah, mengapa
lingkungannya harus senantiasa dijaga. Bisa anda bayangkan, akan seperti
apa jadinya jika lingkungan tempat anak anda tumbuh dipenuhi dengan
hal-hal negative seperti halnya lingkungan yang ‘keras’. Meski tak
selalu demikian, namun lingkungan memang amat berpengaruh pada kehidupan
anak berikutnya, termasuk bagaimana pola orang tua dalam hal mendidik
anak.
Perbedaan akan terlihat mencolok pada anak yang tumbuh dan
dibesarkan dalam keluarga yang hangat dan penuh cinta dengan anak yang
selalu mendapatkan pola didikan ‘keras’ dari orang tuanya. Sayangnya,
tak banyak orang tua yang tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang
baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anakpun tumbuh tidak
sebagaimana yang diharapkan. Untuk lebih mengenalkan bagaimana pola
lingkungan yang baik untuk mendidik anak, berikut adalah beberapa hal
yang sebaiknya dihindari saat mendidik anak :
1. Menuntut Kesempurnaan Diluar Batas Kemampuan Anak
Sikap anda dalam menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap
atau target tertentu yang pada umumnya berada diluar kemampuan dan
jangkauan wajar yang dimiliki anak anda, hanya akan melahirkan anak yang
terlalu berambisi pada semua hal. Memiliki ambisi pada sebuah tujuan
memang hal yang baik, namun jika proses pencapaian itu sendiri tak
pernah dihargai dan anak hanya mengedepankan kuantitas. Hal ini tidaklah
baik untuk psikologisnya, bukan tidak mungkin saat anak beranjak dewasa
ia akan melakukan apa saja asalkan apa yang telah menjadi targetannya
bisa ia raih. Selain itu, menuntut anak dengan ‘keras’ hanya akan
membuatnya stress dan trauma. Untuk itu, berikan kesempatan pada anak
untuk mencoba-coba terlebih dahulu apa yang menjadi hobinya, dengan
begitu seiring berjalannya waktu, ia akan mulai memaknai bahwa prestasi
juga perlu diperhitungkan.
2. Mengancam
Menghadapi anak yang sedikit susah diatur memang memusingkan bahkan
tak jarang hal itu justru sedikit menjengkelkan. Namun perilaku
mengancam meski secara halus maupun kasar tidak dibenarkan. Misalkan
menghadapi anak yang sulit mengunyah makanan dengan menakuti bahwa
giginya bisa ompong dan sebagainya hanya akan berdampak buruk. Mengancam
dengan nada halus maupun tinggi tidak akan menyelesaikan masalah.
Ancaman memang efektif agar membuat anak mau menuruti semua perintah
kita, namun hal itu hanya bersifat sementara. Karena didasari pada rasa
takut bukan kesadaran anak semata. Dan kelak jika si anak sudah mulai
mengerti ia akan merasa dibohongi.
3. Waspadai Perilaku Anda
Anak-anak cenderung akan meniru segala perilaku yang dilakukan oleh
orang tuanya. Perilaku anda seperti berbicara dan berperilaku semuanya
akan ditiru oleh anak. Untuk itu, sebaiknya lebih berhati-hati dalam
berbicara dan bertindak ketika berada dihadapan buah hati. Salah-salah,
mereka akan malah meniru semua perilaku anda termasuk dengan kebiasaan
buruk anda.
4. Terlalu Menekan
Sikap terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak
anak untuk menentukan keinginan dan jalannya sendiri atau mengembangkan
minat dan bakatnya pada bidang yang mereka cintai. Akan berakibat pada
psikologisnya seperti akan menjadi lamban, tidak memiliki pendirian,
selalu bekerja sesuai perintah layaknya robot, dan bukan tak mungkin
menjadikan anak menjadi suka melawan saat ia mulai bisa membela diri
nanti. Untuk itu, akan lebih baik jika anda memberikan kesempatan anak
untuk memilih bidang mana yang mereka sukai. Misalkan saat anak senang
mencoret-coret berikan kesempatan untuknya untuk menikmati hobinya
tersebut dari sana anda bisa mulai mengarahkannya pada kegiatan melukis
yang mana bakat tersebut akan berguna untuk hidupnya kelak.
5. Terlalu Lemah
Terkadang saat anak rewel menginginkan sesuatu anda cenderung akan
mengalah dengan memberikan apa yang mereka inginkan meskipun hal
tersebut akan sedikit merepotkan anda. Namun pola didik seperti ini
sebenarnya menyalahi aturan. Anak-anak diusia balita belum mengenal hak
dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi penuntut, cenderung egois,
impulsive (gampang melakukan tindakan tanpa melalui perhitungan
panjang), dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain. Untuk itulah,
peran dan pola asuh orangtua yang baik amat dibutuhkan pada fase ini.
Namun bukan berarti anda harus keras terhadap anak, hal yang paling
penting untuk menumbuhkan kesadaran anak adalah sikap tegas anda
terhadap anak.
6. Melanggar Janji
Saat anda membuat janji pada anak kecil jangan pernah sesekali
menganggapnya sebagai hal yang sepele dan bisa dilanggar karena mereka
masih kecil. Anak di usia dini justru akan mengerti dengan lebih baik
daripada yang anda bayangkan. Mereka akan mengerti apakah anda
menunjukkan prioritas atau tidak terhadap mereka. Untuk membentuk
pribadi anak yang lebih baik, ada baiknya jika anda juga menepati apa
yang sudah anda janjikan pada anak.
7. Ucapan Kasar
Di usia balita, si kecil akan mulai belajar mencontoh apa yang ia
dengar dari orang-orang sekitar dan lingkungannya. Mereka akan menyerap
apa yang mereka dengar dan saksikan dengan tanpa menyaring mana hal baik
dan hal buruk. Untuk itu, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata
kasar di depan anak. Terkadang orang tua lepas kendali dengan melepaskan
kata-kata yang kurang pantas saat marah. Namun, akan lebih baik jika
anda tidak menyebutkannya di depan anak.
8. Mendorong Anak Terlalu Keras
Dukungan dan dorongan memang penting diberikan pada buah hati agar
anak terpacu dan termotivasi untuk melakukan beragam hal yang positif.
Namun ada hal yang harus anda waspadai adalah ‘mendorongnya’ secara
berlebihan. Mungkin saat teman-teman seusianya bisa melakukan sesuatu,
hal yang sama juga ingin dipaksakan pada anak sendiri. Alih-alih anak
menjadi termotivasi, mereka malah akan tertekan dan depresi dibuatnya.
Untuk itulah, sebaiknya sesuaikan porsi prestasi dengan kemampuan si
kecil agar ia tidak terlalu terbebani.
9. Terlalu Memanjakan Anak
Menghujani anak dengan terus-menerus membelikannya barang-barang
mewah dan mahal atau memberikannya pelayanan istimewa, tanpa
mempertimbangkan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Hanya akan
melahirkan anak dengan pribadi yang gampang bosan, kurang memiliki daya
juang, dan kurang inisiatif. Untuk itulah, cukupkan pelayanan dengan apa
yang dibutuhkan anak, sebelum ia terbiasa dengan perilaku anda yang
‘memanjakannya’.
Di usia balita anak-anak akan mulai menyerap
segala informasi dan juga meniru segala tindakan dari orang-orang
disekitarnya. Tentu ini masa-masa dimana seharusnya para orangtua
memberikan bimbingan dan dituntut untuk lebih berhati-hati dalam
bersikap.
Sumber : Bidanku.com