3.7.15

Cara-cara Yang Efektif Memberikan Puijan Pada Anak



 Hai bunda... berikut cara-cara memberikan pujian pada anak  anda yang tepat, semoga bermanfaat ya?....

Pujian adalah motivator eksternal. Tujuan mendisiplin adalah membangkitkan motivasi internal. Karenanya, memberi pujian tidak semudah membuka mulut. Cara memuji yang tepat, agar buah hati Anda membangun motivasi internal:
  1. Puji perilaku anak, bukan si anak. Pujian seperti “anak baik”, akan disalah artikan oleh anak.  Bagi anak, pujian “anak baik” terasa berat, karena bila ia tidak berperilaku baik, ia anak jelek. Pujilah secara spesifik, “Hari ini kamu bangun tidur tidak nangis. Bagus itu.” Pujian ini membuat anak akan mengulangi perilakunya. Besok kalau bangun tidur tidak usah menangis, apalagi berteriak-teriak memanggil bunda. Pujian ini mengirim pesan pada anak, ia diperhatikan.
  2. Gunakan pujian untuk perilaku yang ingin Anda ubah. Misalnya berhenti merengek. Ketika anak bisa tidak merengek, beri dia pujian; “Kamu tidak  merengek. Bagus. Kamu sekarang punya mulut yang bagus untuk ngomong dengan baik.”
  3. Puji anak dengan tulus. Pujian kehilangan kekuatannya bila Anda  bertepuk tangan untuk perilaku yang biasa. Misalnya, anak bisa makan sendiri di usia 3 tahun adalah  wajar. Anda tak harus bertepuk tangan karena itu. Bila anak bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya menyapu ceceran gula yang ditumpahkannya, Anda boleh memujinya dengan tulus; “Bagus, kamu bertanggung jawab pada perbuatanmu.”  Atau, di usia 3 tahun anak Anda berhasil makan tanpa berantakan, Anda boleh memujinya; “Kamu pintar, makan tidak berantakan.”
  4. Gunakan standar yang nyata, misalnya “Kamu akan lebih bagus pakai pita kuning itu daripada yang ungu karena bajumu ada warna kuningnya.”  Bukannya, “Pita kuning akan membuatmu lebih cantik. Kalau pakai pita ungu itu kamu jadi nggak cantik.” Dijamin, anak selamanya akan menghindari warna ungu karena merasa tidak cantik dengan warna itu.
  5. Puji anak untuk sesuatu yang harus dia lakukan, bukan sesuatu yang dia suka lakukan.  Misalnya, memberesi mainan sudah seharusnya dia lakukan. Bila anak mau melakukannya, beri pujian; “Bagus, kamu bertanggung jawab pada mainanmu.”  
  6. Pakailah seni memuji. Biasakan anak untuk merasa nyaman memuji orang lain dan dipuji. Misalnya, “Ih, kamu ganteng lho.” Atau, “Cantiknya kamu pakai baju princess itu.”  Anak-anak dengan harga diri yang lemah sulit menerima pujian dan memuji orang lain.  Bahasa tubuh dan kontak mata saat Anda mengucapkan pujian ini memperkuat ucapan Anda. Pastikan Anda tulus mengucapkannya. Bila Anda mendengar anak-anak saling memuji, pujilah diri Anda sendiri karena berhasil memberi contoh.
  7. Hindari memberi pujian dengan maksud tersembunyi. Misalnya, Anda membelikan baju untuk si kecil tanpa persetujuannya dan dia tak suka memakainya. Hindari memuji dengan harapan ia mau memakai baju pilihan Anda. “Kamu pasti cantik dengan baju ini.” Pujian Anda akan terdengar tidak tulus.
  8. Pujian untuk membentuk perilaku yang baik, tidak untuk membandingkan dengan anak lain. “Kamu pintar lho, lebih pintar dari si X di umur kamu sekarang.”  Pujian ini mendorong anak untuk bersaing secara tidak sehat. Kalau pujian dimaksudkan untuk membandingkan, bandingkan anak dengan dirinya sendiri. “Sekarang banyak yang sudah kamu bisa. Apa-apa bisa sendiri. Semakin besar, kamu akan tambah lagi kepintaranmu.”
Pujian yang salah
1. Bila Anda memuji anak karena kemampuannya:
  • Anak akan fokus pada yang 'tampak bagus', bukan pada proses belajarnya.  
  • Anak yang dipuji karena kemampuannya cenderung menghindari tantangan. Ia akan memilih hal-hal yang mudah dilakukan karena hasilnya akan segera tampak dan mendapat pujian.
  • •Anak yang dipuji karena kemampuannya akan melihat kegagalan sebagai kebodohan. Anak yang dipuji karena usahanya akan termotivasi mencoba sesuatu yang baru dan menantang.
2. Bila Anda memuji anak karena kecerdasannya:
  • Anak melihat kegagalannya sama dengan kecerdasan yang rendah.
3. Pujian yang berlebihan:
  • Sama dengan kritik pedas yang belebihan, menghasilkan kepribadian narsistis.
  • Memberi pesan pada anak bahwa ketaatan dan perilaku baik adalah pilihan, boleh dilakukan boleh tidak.
  • Menumbuhkan rasa overconfident, merasa bisa melakukan apa saja.
  • Tidak realistis menilai diri sendiri.
  • Sombong, merasa diri paling hebat.
  • Kecanduan pujian, mengharapkan pujian setiap saat. Anak gelisah saat Anda tidak memuji karena anak tidak memperoleh sesuatu yang bisa membuatnya merasa nyaman.
4. Diberikan pada perilaku yang salah, memotivasi anak untuk berperilaku salah.
5. Untuk membandingkan  dengan anak lain. “Pintar. Kamu lebih pintar dari si X lho.”
(Sumber : ayahbunda.co.id)

9.6.15

Tips Menghadapi Anak Yang Suka Merengek




 Hai bunda,... berikut ini tips menghadapi anak yang suka merengek, semoga bermanfaat...

Ada banyak sebab yang bisa membuat balita jadi merengek. Tetap tenang dan sabar, jangan terpancing emosi, hadapi dengan mencari tahu penyebabnya.
  • Frustasi. Merasa tidak dipahami oleh orang dewasa di sekitarnya dapat membuat anak merengek sebagai ekspresi  “protes”. Jika itu terjadi, ajak ia berbicara untuk mengungkapkan keinginan atau kebutuhannya. Tatap matanya, gunakan nada bicara lembut tapi tegas, dan dengarkan perkataannya jangan dipotong. Jika anak belum mampu bicara jelas, ajarkan mengungkapkan perasaan dengan bahasa isyarat sederhana. Namun perlu diingat, mendengarkan atau mengetahui keinginan anak, tak selalu berarti memenuhi keinginannya itu.
  • Lelah atau lapar. Dua kondisi ini sering membuat anak merengek dan tak  berhenti sampai kebutuhannya dipenuhi. Ajukan pertanyaan langsung: kamu lapar? kamu capek? Dan langsung penuhi kebutuhannya. Misalnya, bila  dia lelah saat jalan-jalan di mal, segera bawa ke tempat istirahat atau pulang saja. Atau kalau dia merengek karena lapar, beri dia bekal yang dibawa dari rumah.
  • Merasa tak berdaya, juga bisa muncul pada anak 1-2 tahun, saat ia banyak dilarang orangtua untuk melakukan ini itu. Beri anak kebebasan bereksplorasi sehingga dia merasa memiliki wewenang atas dirinya sendiri dan rasa percaya dirinya tumbuh. Bila dia merengek karena sulit melakukan sesuatu, tanyakan apa kesulitannya dan beri dia semangat mencoba lagi.  
  • Bosan, kerap dialami anak-anak yang terlalu sering menonton TV atau sibuk menjalankan kegiatan edukatif. Anak pun menjadi pasif dan kurang insiatif menciptakan sendiri kegiatan yang dapat menyenangkan hatinya. Atasi dengan mengurangi dan membatasi tontonan atau  aktivitas terstruktur.  Beri anak kesempatan menciptakan kegiatannya sendiri, bahkan tidak melakukan apa-apa.
  • Mencari perhatian. Bisa terjadi pada anak yang orang tuanya sibuk sehingga ia kurang diperhatikan -padahal secara fisik anak di dekat orang tua, tapi diabaikan karena orangtua asyik ngobrol atau berbicara di telepon.  Hentikan rengekan anak dengan mengajaknya bicara. Gunakan posisi sederajat sejajar tinggi tubuhnya,  gunakan suara lembut, dan dengarkan kata-katanya. Beri anak  pelukan hangat.
  • Merasa cemas atau takut. Setiap malam menjelang Kevin rewel dan merengek, padahal sorenya ceria! Setelah diusut, ternyata ia takut pada malam hari karena sering ditakut-takuti pengasuhnya. Jika anak Anda  memiliki gelagat rajin merengek pada suasana atau waktu tertentu seperti Kevin,  coba cari penyebabnya. Beri penjelasan sederhana dan mudah dipahami bahwa dia tidak perlu takut atau cemas karena Anda akan menjaganya dan menyingkirkan apa yang ditakutinya.
 (Sumber : ayahbunda.co.id)

Tips Ayah Bermain Dengan Anak Perempuannya


Hai Bunda... ingin anak perempuan anda bisa bermain dan dekat dengan Ayahnya yang super macho? Berikut ini tipsnya, semoga bermanfaat.... 

Ayah yang macho dan aktif, berhadapan dengan si gadis kecil yang senang pakai baju princess warna pink? Tidak masalah! Pada dasarnya, ayah bisa bermain dengan semua anaknya, tanpa memandang jenis kelamin. Hanya saja, saat bermain dengan puteri kecilnya, ayah perlu membedakan perlakuannya sesuai dengan karakter fisik dan kepribadian umum anak perempuan.

Ajak putri kecil Anda beraktivitas ini:
1. Diskusi tokoh idola. Mulai usia 3 tahun, anak perempuan memiliki kemampuan untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan apa yang sedang ia rasakan. Sering terucap, Si Upik bercerita tentang tokoh idolanya, sebut saja Dora atau Sponge Bob.  Nah, ayah, lakukan ini:
  • Ajak anak berdiskusi lebih dalam tentang tokoh idolanya, pasti ia akan bercerita lebih banyak dan seru.
  • Temani anak menonton film yang diperankan oleh tokoh favoritnya. Anak perempuan, yang cenderung lebih mudah untuk bercerita dan mengungkapkan perasaan, senang melakukan aktivitas yang menuntutnya untuk berbagi dengan orang lain.
2. Berenang. Seperti anak laki-laki, anak perempuan juga membutuhkan aktivitas fisik di ruang terbuka. Ayah bisa mengajak si upik berolahraga dengan gerakan yang lembut atau ringan, misalnya berenang. Berenang bersama ayah, umumnya dianggap lebih menyenangkan dibandingkan berenang dengan ibu, sebab:
  • Ayah memberi kebebasan saat berenang misalnya, anak boleh lompat dari pinggir kolam - ditangkap ayah -  anak boleh berenang ke tengah mengenakan pelampung dan anak boleh berenang lebih lama.
  • Anak perempuan sering merasa ayah lebih bisa diandalkan untuk melindungi dan menyelamatkan dirinya dari risiko tenggelam.
3. Jalan-jalan ke taman bunga. Ingin menggabungkan aktivitas outdoor, eksplorasi dan belajar lingkungan  dengan unsur feminitas? Ayah bisa  mengajak anak perempuannya berjalan-jalan ke taman bunga atau kebun sayuran. Anak perempuan memiliki kemampuan lebih untuk menikmati keindahan serta keteraturan di sana. Selain itu, mereka akan memeroleh banyak ilmu manakala ayah  menerangkan nama-nama bunga atau buah, menjelaskan berbagai warna, aroma, rasa, dan proses tumbuh.
(Sumber : ayahbunda.co.id)

Tips Mengajarkaan Pengendalian Emosi Kepada Balita

 
 
 
Hai bunda...berikut ini tips mengajarkan balita mengendalikan emosinya, semoga bermanfaat...
 
Gejolak emosi seperti marah dan sedih, kerap dialami anak. Ada anak yang sudah mengerti perasaanya, ada pula yang belum. Ada anak yang belum paham emosi yang ia rasakan disebut marah, sedih, kesal atau kecewa. Cara mengungkapkannya pun belum tepat, sehingga mereka sering mengamuk, atau sebaliknya diam saja memendam kemarahan. Ajarkan dia mengelolah emosinya secara benar dengan melakukan langkah-langkah berikut ini:
  • Mengenali emosi. Bantu balita mengenali bermacam perasan yang dialaminya dan beritahu sebutan semua emosi itu. Anda bisa menggunakan alat bantu berupa stiker atau gambar sederhana yang mewakili emosi tertentu, seperti gambar mr.smiley sedang tertawa, sedih atau menangis. Setiap kali anak mengekspresikan salah satu perasaan itu, tunjukkan stiker atau gambar itu padanya.
  • Menentukan batas. Setelah anak mengenali jenis emosi yang dialaminya, langkah berikut adalah membantunya menentukan batas ketahanan emosi. Misalnya, ketika batas ketahanan emosi. Misalnya, ketika anak gagal melakukan sesuatu secara berulang-ulang, sehingga ia mulai terlihat putus asa, gerakannya semakin tidak terarah segera minta ia berhenti sejenak untuk beristirahat. Ia bisa melanjutkannya lagi setelah hilang rasa lelahnya.
  • Contoh nyata. Menurut teori pengasuhan anak oleh Denham, Zoller & Couchoud, anak tidak bisa belajar tentang pengedalian emosi secara baik jika ia melihat contoh orang tua yang meledak-ledak. Sebaliknya, menurut para ahli perkembangan anak, orang tua dapat membantu anak secara efisien mengelola kemarahan jika menunjukkan sikap tanggung jawab, tidak agresif saat mengekspresikan kemarahan.
  • Dorongan positif. Setelah mencontohkan bagaimana mengungkapkan kemarahan secara tepat yaitu mengungkapkan dengan jelas perasaan, tanpa merengek atau mengatur emosi sebelum meledak, maka orang tua sebaiknya konsisten memastikan hal ini sebagai sikap yang diharapkan dari anak. Setelahnya, setiap kali anak bisa mengendalikan emosinya secara tepat, kita perlu memujinya. Hal ini akan menjadi penguatan positif buat anak, sehingga dia akan mengulanginya untuk dijadikan kebiasaan.
  • Kesempatan berlatih. Sedetil apa pun teori Anda melatih balita mengelola kesabaran, tidak akan banyak berarti jika tidak dimbangi kesempatan mempraktikannya. Aturlah kesempatan anak bermain dengan teman dari berbagai usia, sehingga dia berinteraksi, menemui beragam sifat yang bisa mengasah pengendalian emosinya.
Kemarahan adalah emosi yang natural dan sehat untuk dipelajari. Tak perlu melarang anak tak boleh marah. Sebagai penyeimbang, latih ia untuk mengungkapkan kebahagiaannya secara tepat sehingga menjadi pribadi yang seimbang.
(Sumber : ayahbunda.co.id)

30.5.15

Makanan Bayi Perlukah Diberi Garam???


 Hai bunda sebenarnya makanan bayi belum perlu garam, berikut ini penjelasannya, semoga bermanfaat...

Hasil penelitian di Jerman menunjukkan bahwa makanan bayi tak perlu dibubuhi garam. Mengapa? Rasa ingin tahu Anda terjawab di sini.

Bolehkah menambahkan garam pada bubur bayi? Jangan! Karena, reaksi bayi terhadap garam sangat sensitif. Begitu dia menerima garam dari makanannya, tekanan darahnya akan melonjak tinggi. Hal ini dapat berdampak jangka panjang. Di satu tahun pertama, usahakan makanan yang diberikan pada bayi tidak diberikan garam sama sekali. Dalam ASI, sayuran, kacang-kacangan dan daging sebenarnya sudah terdapat kandungan garam alami yang mencukupi kebutuhan bayi.

Jadi, haruskah makanan bayi hambar? Kitalah yang merasakan bubur bayi hambar, karena selera makan kita sudah terbiasa dengan rasa asin. Sementara pada bayi, langit-langit mulutnya belum berkembang sempurna dan dia belum memiliki preferensi rasa asin! Jadi, makanan yang kita anggap hambar, untuk bayi enak-enak saja.

Apakah ginjal bayi belum dapat memproses garam? Ya, ginjal bayi belum dapat memproses garam dalam jumlah tinggi. Bayi memiliki sistem pencernaan yang masih sangat rapuh, dan ginjal adalah salah satu organ bayi yang paling rapuh. Terlalu banyak garam dari sumber selain makanan alami seperti ASI, susu formula, sayur dan buah-buahan, dapat merusak ginjal bayi, bahkan dapat menyebabkan kerusakan otak.

Apa yang terjadi pada garam di ginjal? Setelah tubuh mengambil sari-sari makanan yang dibutuhkan dari makanan yang dikonsumsi, sisanya akan dibawa darah menuju ginjal. Jika ginjal tidak membuang sisa sari makanan tersebut, maka akan menumpuk dan merusak tubuh. Tugas ginjal adalah memastikan zat-zat seperti natrium (salah satu unsur garam), fosfor dan kalium dilepaskan ke darah untuk diedarkan kembali dalam tubuh. Dengan cara inilah ginjal menjaga keseimbangan zat-zat tersebut.

Jadi, kapan makanan anak boleh diberi garam? Kebutuhan garam bagi anak usia 6-12 bulan hanya 1 gram per hari dengan kandungan natrium 0,4 gram. Jumlah ini sudah terpenuhi dari ASI dan makanan pendamping ASI. Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kebutuhan garam sedikit lebih banyak: usia 1-3 tahun butuh sampai 2 gram per hari (mengandung natrium 0,8 gram). Di usia ini Anda dapat manambahkan garam maksimal ¼ sendok teh garam dapur sehari.

Bagaimana dengan keju, margarin dan mentega sebagai penambah rasa? Keju, margarin dan mentega (butter) memiliki rasa yang dapat membangkitkan selera makan anak. Mengingat anak yang lebih besar yang sudah dapat mentolelir lebih banyak garam, maka akan lebih baik bila keju, margarin dan mentega diberikan pada anak yang sudah siap menerima produk ini, yaitu usia 8 bulan. Carilah keju, margarin dan mentega yang rendah natrium dengan memeriksa label kemasan. Biasanya, dengan keterangan unsalted pada kemasannya.

Lalu, bagaimana dengan kebutuhan kolesterol untuk tumbuh kembang otak bayi usia 6-8 bulan yang belum boleh mengonsumsi margarin dan mentega? Kebutuhan tersebut bisa diperoleh dari ASI yang memenuhi 80% kebutuhan bayi. Bila Anda akan menambahkan kolesterol “baik” (High Density Lipoprotein –HDL) pada bubur bayi, bisa dengan minyak extra virgin olive oil. Tambahkan setelah makanan bayi matang dan dalam kondisi hangat.

Apakah bayi mau makan makanan dengan tambahan rempah dan bawang putih? Bayi adalah kosumen makanan yang pasif. Artinya, dia akan menerima makanan apa pun yang kita hidangkan untuknya. Namun, perlakukan tambahan “perasa alami” berupa rempah-rempah dan bawang putih seperti makanan baru bagi bayi Anda. Berikan tambahan satu per satu setidaknya selama empat hari, untuk membantu Anda mengidentifikasi dan menghindari bayi alergi pada makanan tambahan alami ini.
(Sumber : ayahbunda.co.id)

11.5.15

Tips Agar Balita Aman Bergerak




Hai bunda,... berikut ini beberapa tips agar balita anda aman bergerak, semoga bermanfaat...

Selain menggemaskan, anak yang aktif berlarian, bergulingan, hingga melompat dari tempat satu ke tempat lain dianggap tengah menapaki tumbuh kembangnya dengan baik. Namun, karena koordinasi dan keseimbangan tubuh anak belum matang, balita kerap jatuh, terbentur dan menabrak apapun yang berada di dekatnya. Jangan langsung dilarang dan tidak perlu panik. Ikuti tip berikut ini, agar balita terhindar dari kecelakaan kecil ataupun besar saat beraktivitas.
  1. Amankan lingkungan. Singkirkan barang-barang yang berpotensi mengganggu ruang gerak anak, seperti meja, kursi, dan barang pecah belah. Tutup akses menuju tangga dengan memasang pintu yang dilengkapi kunci. Tinggi pintu tersebut harus melebihi tinggi badan anak agar tak bisa dilangkahi. Pilih perabot yang kokoh dan berat agar tidak mudah terguling ketika tersenggol atau menjadi tempatnya berpegangan. Gunakan pelindung perabot (rounder) yang tersedia di toko-toko furnitur, untuk membuat sudut tajam pada perabot menjadi lebih aman.
  2. Bantu anak bergerak. Di usia ini, wajar bila rasa ingin tahunya tinggi. Jika si kecil ngotot ingin menaiki tangga, biarkan saja. Namun, di langkah pertamanya jangan lupa untuk memegang tangan anak sambil terus mengikutinya turun-naik menapaki anak tangga. Bunda boleh melepaskan tangan anak jika sudah yakin keseimbangan dan langkahnya dalam berjalan sudah mantap.
  3. Kenakan pelindung saat main di luar. Biarkan anak bermain di luar rumah jangan dikurung terus. Untuk keamanan, siasati dengan menggunakan alat pelindung, seperti helm. Biasanya terbuat dari foam tebal yang telah teruji dapat melindungi kepala dari benturan yang menyebabkan cedera parah. Bahannya yang ringan dan elastis terasa nyaman di kepala, sehingga mendukung pertumbuhan kepala anak.
  4. Ajarkan anak bergerak dengan hati-hati. Beri contoh bagaimana seharusnya ia berjalan. Lakukan langkah kecil bersama dengan anak, akan lebih seru jika Ayah juga ikut. Agar tidak bosan lakukan sambil menyanyi lagu favorit anak. Beritahu anak untuk tidak berlari dan lebih baik berjalan perlahan hingga ia dapat  memerhatikan benda di sekelingnya. Tekankan pada anak, tak apa jika ia ingin berpegangan pada benda di dekatnya.
  5. Pilih sepatu yang tepat. Saat berada di rumah, anak tak perlu diberi alas kaki untuk mengasah kemampuan koordinasinya. Sementara itu, untuk aktivitas di luar rumah, sebaiknya Bunda jangan memilih sandal. Karena hanya tertutup di bagian depan saja, pemakaian sandal justru akan mempersulit anak dalam melangkah dan kerap tersandung.
  6. Pilih sepatu bersol datar dan lembut. Dan hindari sepatu dengan pengganjal di bagian lekukan kaki dan yang ujungnya meruncing karena akan menghambat ruang gerak jemari. Pastikan sepatu anak berukuran pas, tidak sempit dan tidak terlalu longgar. Pilih sepatu dengan tali, kancing atau perekat yang dapat mengatur kekencangan sepatu secara tepat.
  7. Pijat perkuat otot kaki. Dengan rekomendasi dokter yang kompeten, lakukan pijat yang bertujuan menguatkan otot-otot kaki anak. Jangan sembarang membawa anak ke tukang pijat tradisional, dengan berbekal rekomendasi dokter yang kompeten, akan lebih baik jika Anda membawa si kecil ke fisioterapis.
  8. Perhatikan berat tubuh anak. Anak dengan berat badan berlebih lebih sulit  menjaga keseimbangan tubuh saat berjalan atau berlari. Upayakan asupan makanannya seimbang, tidak berlebih dan tidak kurang. Fisioterapis dapat membantu anak yang memiliki berat berlebih dengan program yang tepat. Misalnya dengan teknik mendorong bola untuk melatih kemampuan motoriknya.
  9. Saat anak terjatuh dan perdarahan tak kunjung berhenti. Hal pertama yang dapat dilakukan saat anak terjatuh lalu mengalami luka terbuka yang menyebabkan perdarahan hebat adalah menekan dan membersihkan lukanya menggunakan handuk bersih. Jangan pernah mengoleskan gula ataupun pasta gigi, karena dapat menyebabkan infeksi. Secepatnya bawa anak ke rumah sakit. 
(Sumber : ayahbunda.co.id)

Beberapa Tanda Perubahan Pola Makan Anak Sesuai Perkembangan Usianya



 Hai bunda,... berikut ini beberapa tanda perubahan pola makan anak sesuai perkembangan usianya, semoga bermanfaat...

Secara alami, bayi konsumsi aneka makanan dari air susu ibunya. Awalnya, ketrampilan makan anak dikendalikan oleh berbagai refleks termasuk mengisap. Setelah usia 3 atau 4 bulan, refleks ini menghilang dan diganti oleh gerakan yang dikendalikan oleh aktivititas motorik. Bagaimana menandai perubahan ini?

Usia 4-6 bulan. Bayi mulai melakukan gerakan seperti mengunyah dan mulai tertarik makanan. Sudah  bisa menggerakkan lidah dan makanan dari depan ke belakang. Kesiapan bayi konsumsi makanan dapat ditandai dengan mulai memasukkan benda-benda ke dalam mulut, atau tetap merasa lapar setelah menyusu. Di usia 6 bulan, bayi sudah dapat dikenalkan makanan semi cair seperti bubur biskuit atau bubur beras satu rasa.

Usia 6-8 bulan. Kesiapan makan masih sama dengan usia sebelumnya. Namun sudah bisa dikenalkan dengan makanan padat lain, seperti buah avokad, pure apel dan pure kentang. Bila saat pertama kali diberi makanan padat, ia mengeluarkannya kembali, tak perlu buru-buru menyimpulkan ia tidak doyan makan. Ini hanya bagian dari proses perkembangan ketrampilan makan. Rasa dan tekstur makanan yang berbeda dari ASI, belum terbiasa di lidah bayi. Kemampuan lidahnya untuk mendorong makanan, yaitu proses menelan pun belum sepenuhnya dimilikinya, karena jenis makanan yang dimakannya lebih padat ketimbang ASI.

Usia 8-10 bulan. Ketrampilan makan bayi sama dengan usia sebelumnya. Dengan kemampuan memegang dan memindahkan benda dengan cara menjumput,  memindahkan benda dari satu tangan ke tangan satunya dan memasukkan benda ke dalam mulut, bayi usia ini sudah diberi finger food untuk dimakannya sendiri. Hingga usia 9 bulan, bukan menjadi masalah jika sesekali ia mengeluarkan makanannya dan itu bukan tanda ia tidak suka dengan makanannya. Jika anak sudah terampil menelan, ia butuh pembiasaan untuk beragam jenis rasa makanan. Secara alami, anak punya rasa takut pada makanan baru. Beri dia kesempatan untuk mengenalnya dengan mengulang-ulang mencobanya.

Usia 10-12 bulan. Gigi sudah mulai tumbuh lebih banyak sehingga ketrampilan mengunyah dan menelannya kian meningkat. Ketrampilan motoriknya berkembang dengan usahanya untuk makan sendiri menggunakan sendok. Di usia ini, bayi sudah dapat makan buah tanpa dihaluskan. Ia sudah bisa menggigit, mengunyah, dan menelan. Makanan seperti makaroni panggang atau kaserol, sudah dapat dimakannya dengan lancar.

Usia 12-18 bulan. Anak usia ini sudah dapat makan sendiri menggunakan sendok. Tekstur makananyapun sudah lebih kasar, seperti nasi, sayur brokoli, wortel, daging cincang, dan lainnya.
(Sumber : ayahbunda.co.id)