4.12.14

Dampak buruk memberikan air putih pada bayi



 Hai bunda, ternyata memberikan air putih pada bayi 0-6 bulan berbahaya lho, berikut ini penjelasannya, moga bermanfaat.

Selain Air Susu Ibu (ASI), banyak orangtua memberikan air putih kepada si kecil yang masib berusia 0-6 bulan. Entah seusai menyusui maupun di waktu-waktu lainnya. Padahal, kebiasaan itu sangat keliru karena berisiko menyebabkan berbagai dampak kesehatan.
Apa bahayanya? Berikut penjelasan Dr. Utami Roesli, Sp.A., MBA., CIML, IBCLC, dari Sentra Laktasi Indonesia:
Infeksi Bakteri
* Pemberian air putih pada bayi 0--6 bulan berisiko membuat bayi terinfeksi bakteri jika air yang dipakai tercemar. Utami sendiri pernah mempunyai pengalaman, pasiennya yang berusia sekitar 1 bulan, ibunya melaporkan jika bayinya sering buang air besar hingga belasan bahkan puluhan kali dalam sehari.
Ibunya mengira anaknya mencret karena penyakit, sehingga yang tadinya diberi ASI, kemudian diberikan juga air putih dan susu formula. Hasilnya bayi yang tadinya mencret normal justru pencernaannya terinfeksi bakteri.
Hal ini diketahui dari feses bayi yang mengandung darah. Kemungkinan besar, infeksi itu muncul karena asupan air putih yang diberikan ibunya. Apalagi jika perlengkapan minumnya tidak higienis, juga cara memasaknya tidak tepat dan sudah tercemar bakteri.
2. Ganggu Otak Bayi
Ginjal bayi 0-6 bulan belum berfungsi dengan baik, sehingga jika ia diberi air putih maka air seni akan membawa serta elektrolit dalam darah, misalnya natrium, yang sebenarnya berguna bagi tubuh. Jika kekurangan zat itu, bayi berisiko mengalami kejang.
Semakin banyak elektrolit yang "terbuang", semakin banyak risiko negatif yang dapat dialami. Alhasil, kalau bayi mengeluarkan banyak elektrolit dari semua organ tubuhnya, baik jantung, ginjal atau paru, temasuk otak, maka aktivitas otak dapat terganggu. Gejalanya, bisa berupa suhu tubuh rendah hingga kejang-kejang.
3. Merusak Ginjal
Fungsi ginjal sebagai pengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh belumlah sempurna pada bayi usia 0-6 bulan. Memang pada usia kehamilan 35 minggu, ginjal bayi sudah terbentuk, tapi belum berfungsi dengan baik. Begitu pun setelah bayi lahir. Walau bentuk ginjal sudah sempurna. Hal ini bertahan hingga usia bayi 6 bulan.
Lain halnya pada anak dan orang dewasa, ginjal sudah mengatur asupan cairan masuk dengan yang dikeluarkan. Misal, kalau banyak minum, ginjal akan mengatur sehingga berkemihnya sering. Atau pada saat hawa dingin, akan lebih sering buang air kecil. Sebaliknya, pada cuaca panas, kita cenderung lebih jarang buang air kecil.
Intinya, ginjal mengatur keseimbangan cairan/elektrolit dalam tubuh, semisal natrium, kalsium, dan lainnya. Tapi jika kejadiannya saat ginjal belum sempurna kerjanya sudah diberi air putih, tubuh bayi akan kelebihan air atau "keracunan" air. Karena air yang masuk tidak bisa diseimbangkan dengan yang dikeluarkan.
4. Keracunan
Memang benar bayi harus cukup minum, tapi bukan minum air putih lo. Sebab bayi usia 6 bulan ke bawah minum air putih justru akan merugikan si bayi itu sendiri. Penelitian Dr. Jennifer Anders darijohn Hopkins Children's Center di Baltimore Amerika Serikat membuktikan, pemberian air pada bayi di bawah enam bulan berisiko mengakibatkan keracunan (intoksikasi).
Menurut Jeniffer, secara naluriah bayi memiliki refleks haus atau keinginan untuk minum. Karena itu, banyak orangtua yang memberikan bayinya tambahan air putih selain ASI. Padahal, ginjal si kecil belum berfungsi dengan baik. Akibatnya, air putih yang diminumnya itu dapat membuat tubuhnya melepaskan sodium (mineral yang dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh).
Padahal, kehilangan sodium dapat memengaruhi aktivitas otak. Ujungujungnya, bayi akan mengalami gejala keracunan, di antaranya suhu tubuh rendah, wajah membengkak dan bahkan kejang-kejang. Lantaran itu, Jennifer menegaskan, bayi yang minum ASI tidak perlu mengonsumsi air putih. Untuk bayi 0-6 bulan cukup ASI.
(Sumber : tribunnews.com)

3.12.14

Bayi Sembelit: Susah Buang Air Besar Pada Bayi



Pola buang air besar pada bayi memang berubah-ubah. Nah bagaimana Anda bisa tahu bahwa pola buang air besar pada bayi Anda masih tergolong normal?

Pola Buang Air Besar Bayi Pada Umumnya

Untuk bayi yang baru lahir, normalnya ia akan buang air besar hingga sebanyak 4 kali setiap hari. Ini akan berlangsung sampai ia berusia 7 hari. Untuk anak berusia 2 tahun, termasuk normal jika ia dapat buang air besar (BAB) 1-2 kali tiap harinya. Anak usia 4 tahun sudah sama pola BAB-nya dengan orang dewasa – 1 kali setiap hari.
Baca juga: Pola BAB pada Bayi

Nah, karena tidak setiap anak memiliki pola yang persis sama, maka umumnya seorang bayi atau anak akan dianggap mengalami sembelit, jika ia tidak BAB hingga 2 minggu atau lebih.

Oleh karena itu, Anda tidak perlu terlalu khawatir jika melihat bayi Anda sepertinya berjuang keras, bahkan terkadang sampai memerah ketika sedang BAB, padahal terkadang fesesnya encer dan tidak keras. Dia kan masih belajar! Anda juga harus ingat… bayi Anda melakukan BAB sambil berbaring lho, tidak seperti orang dewasa… Jadi, reaksi-reaksi seperti ini masih tergolong normal.

Kapan Situasinya Menjadi Gawat?

Jika Anda mendapati bayi Anda mengalami kondisi seperti berikut ini, maka segeralah periksakan ke dokter:
  1. Feses/kotoran yang keras
  2. Demam
  3. Terdapat darah pada kotorannya
  4. Berat badannya sulit naik
  5. Gagal BAB untuk pertama kalinya dalam 24 jam setelah kelahiran

Bayi dalam Periode ASI Eksklusif

Jika bayi Anda masih dalam periode ASI eksklusif -alias belum memperoleh asupan selain ASI- maka masih tergolong normal jika ia tidak BAB hingga 1 minggu. Bahkan terkadang setelah 1 minggu pun fesesnya sama sekali tidak keras.
Hal ini disebabkan oleh ASI yang masih sangat mudah dicerna oleh tubuh bayi Anda dan ini juga berarti sebagian besar ASI dapat diserap dengan baik oleh tubuhnya.(Suhttp://www.tipsbayi.com/bayi-sembelit-susah-buang-air-besar-pada-bayi.htmlmber )

Memandikan Bayi – Beberapa Tips Penting



Memandikan bayi bisa menjadi kesempatan bagi Anda dan bayi Anda untuk mempererat hubungan. Apa saja yang perlu Anda siapkan agar semuanya berjalan lancar dan aman?

Waktu dan Frekuensi

Untuk bayi yang baru lahir, sebaiknya ia dimandikan 2-3 jam setelah proses kelahiran, pada saat kondisi tubuhnya sudah stabil. Seiring dengan perkembangannya, biasa di negeri kita yang tropis ini bayi dimandikan dua kali dalam sehari. Waktu yang paling baik biasanya sebelum ia makan di pagi hari (untuk mencegah muntah) dan sebelum ia tidur di malam hari, agar ia dapat tertidur dengan lelap.

Peralatan

Siapkan semua yang akan Anda perlukan sebelum proses memandikan dimulai dan kumpulkan di tempat yang berdekatan dengan posisi Anda. Ini penting, karena bayi Anda harus terus berada dalam genggaman Anda hingga selesai, untuk menghindari resiko si kecil tergellincir dan tenggelam dalam air. Beberapa peralatan yang standar untuk memandikan si kecil antara lain:
  • Bak mandi
  • Waslap
  • Handuk
  • Sabun dan sampo (jika Anda ingin menggunakannya)
  • Kapas
  • Popok
  • Pakaian ganti
  • Mainan untuk mengalihkan perhatiannya
Hingga bayi usia 6 bulan (sudah bisa duduk tegak), sebaiknya Anda menggunakan bak khusus untuk bayi. Sebagian ahli menyarankan untuk menggunakan sabun hanya jika cuaca sangat panas dan ketika si kecil benar-benar kotor. Karena ini jarang terjadi, maka sebenarnya memandikan bayi hanya dengan air saja (tanpa sabun) merupakan kebiasaan yang justru positif.

Air

Gunakan air hangat bersuhu sekitar 36-37 C. Untuk bayi hingga usia 6 bulan, kedalaman air sebaiknya tidak lebih dari 10 cm. Untuk bayi yang sudah lebih besar, Anda bisa menuangkan air hingga ke seukuran pinggangnya ketika ia duduk. Memandikan bayi dengan air dingin masih menimbulkan kontroversi…

Langkah-langkah

  • Mulailah dari mata si kecil. Gunakan kapas untuk membersihkan matanya. Basahi kapas, dan bersihkan mata si kecil dari arah dalam keluar. Gunakan kapas baru untuk mata yang sebelahnya lagi.
  • Beralihlah ke bagian lain pada wajahnya; pipi, telinga, dahi dan seterusnya.
  • Selanjutnya bershikan kepalanya. Gunakan sampo sesekali. Ketika membersihkan kepalanya, gunakan cangkir/gelas kecil untuk menuangkan air ke atas kepala (jika Anda menggunakan gayung, khawatir air tertuang terlalu banyak sekaligus). Lindungi bagian matanya agar ia tidak merasa panik dan terganggu.
  • Lanjutkan membersihkan tubuhnya dari leher hingga ke ujung kakinya, namun bagian pantat sebaiknya diakhirkan.
  • Bersihkan bagian pantat si kecil ketika proses mandi sudah selesai. Berdirikan ia di baknya lalu bersihkan pantatnya.
  • Siapkan handuk dan segera lilitkan ke tubuhnya agar ia tidak kedinginan.
  • Baringkan ia dan kenakan pakaiannya. Saat ini juga merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pijatan jika Anda mau.

Catatan Penting

  • Posisi tangan yang baik ketika memandikan si kecil adalah tangan kiri di belakang tengkuknya, memegang kepala dan leher bayi. Tangan kiri ini harus selalu berada pada posisi seperti ini selama memandikan si kecil.
  • Gunakan mainan untuk mengalihkan perhatian si kecil, sehingga Anda tidak kerepotan.
  • Pastikan setiap lekuk tubuhnya dibershikan dengan baik.
  • Bagian-bagian sulit seperti lubang hidung serta telinga bagian terluar dapat dibersihkan menggunakan kapas basah.Sumber http://www.tipsbayi.com/memandikan-bayi-beberapa-tips-penting.html)

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Selama Masa Kehamilan



Melahirkan mudah dan memiliki bayi yang sehat adalah hal-hal yang diinginkan oleh setiap ibu. Namun bagaimanapun, tidak semua proses kehamilan berjalan dengan lembut. Untungnya, banyak faktor yang beresiko dapat diketahui sebelum hamil, atau pada awal hamil. Ketika beberapa faktor resiko tidak dapat diubah (contohnya tinggi badan, umur), perawatan yang ekstra dan perhatian yang khusus mungkin bisa mencegah komplikasi, atau setidaknya akan membantu dengan pendeteksian dan pengelolaan terlebih dahulu.
Banyak faktor yang beresiko untuk kehamilan yang serupa dan dengan mudah dapat diketahui. Jika satu atau lebih banyak dari resiko ini yang ada pada Anda, lebih baik untuk mendiskusikan hal tersebut dengan dokter bersalin Anda atau dokter sekarang - bahkan jika Anda belum hamil. Membuang resiko sejak awal akan membuat kandungan Anda lebih aman dan lebih sehat, memberikan bayi Anda permulaan yang terbaik di kehidupannya.

Sejarah masa hamil yang buruk
Komplikasi yang terjadi pada kehamilan yang sebelumnya sering menjadi ancaman meningkatnya resiko tersebut pada kehamilan yang berikutnya. Jika Anda berpikir bahwa Anda bisa saja terkena resiko tersebut, sangat penting untuk Anda untuk memulai perawatan sebelum melahirkan ataupun sebelum atau baru saja Anda hamil.  
Beberapa kejadian yang sudah terjadi yang penting untuk dibicarakan dengan dokter bersalin Anda adalah:
* Melahirkan secara premature  : Melahirkan terlalu cepat sebelum waktunya bisa saja menyebabkan beberapa hal, namun di beberapa kasus, dokter bersalin Anda atau GP bisa membantu memperkecil resiko melahirkan secara prematur lainnya dengan membantu Anda menghindari keadaan yang beresiko yang mungkin sudah terjadi sebelumnya.
* Berat badan bayi yang rendah sebelumnya  : Jika Anda memiliki byi yang berat badannya kurang dari 4.5 pounds, pastikan untuk memberitahukan kepada dokter bersalin Anda, karena dia memiliki ilmu kebidanan yang diperlukan untuk mengawasi Anda lebih dekat. Tes tambahan dan peninjauan akan memperlihatkan pertumbuhan bayi Anda.
* Keguguran dan bayi yang meninggal setelah dilahirkan: Memiliki tiga atau lebih dari pengalaman keguguran atau bayi meninggal setelah dilahirkan secara berurutan, berarti resiko meningkat sama.
Ketika penyebab dari kejadian yang tidak mengenakan ini tidak selalu diketahui, GP Anda dapat mengarahkan Anda untuk mengikuti tes, seperti peninjauan gen, membantu Anda untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi pada kehamilan Anda.

Bagian Perut Caesar (pembedahan perut untuk menolong melahirkan anak)
Wanita yang sudah mempunyai bagian perut Caesar, biasanya perlu dilakukan pada saat melahirkan selanjutnya. Oleh karena itu, jika Anda memiliki bagian perut Caesar, perencanaan untuk melahirkan bayi Anda harus disertai dengan  alat-alat kesehatan untuk melahirkan secara Caesar. Meskipun melahirkan secara normal mungkin terlihat menyenangkan untuk beberapa alasan, itu terlalu penuh resiko untuk Anda dan bayi Anda.

Badan yang lebih pendek
Wanita yang secara jelas terlihat pendek mungkin akan mendapat masalah saat melahirkan. Hal ini benar sekali terutama jika ayah dari bayi lebih besar - secara sederhana ini akan membuat bayi lebih besar. Jadi, jika tinggi badan Anda kurang dari lima kaki dan ayah bayi Anda tinggi, atau memiliki bentuk tubuh seperti pemain rugby, biarkan dokter bersalin Anda mengetahui hal tersebut!

Persoalan berat badan
Berat badan juga dipertimbangkan. Idealnya, Anda harus tertuju pada kenyataan bahwa Anda kekurangan berat badan atau kelebihan berat badan sebelum Anda mengandung. Bagaimanapun, jika Anda sudah mengandung dan berat badan Anda tidak berada di ukuran yang sehat - seperti yang ditentukan oleh dokter atau dokter bersalin (bidan) - Anda boleh mengacu pada penata diet. Jika dokter bersalin Anda memperlihatkan bahwa Anda kekurangan berat badan, Anda mungkin butuh peninjauan tambahan untuk mengawasi pertumbuhan bayi Anda.

Efek Usia
Saat ini, wanita yang hamil bisa disemua usia. Beberapa usia berhubungan dengan resiko kesehatan yang meningkat selama mengandung dan wanita-wanita tertentu membutuhkan perhatian khusus.
* Ibu remaja  : wanita yang melahirkan di usia remaja mereka memerlukan kebutuhan yang khusus. Contohnya, anemia (kekurangan sel darah merah) sering terjadi pada ibu usia remaja.                     
* Usia 35 keatas  : Banyak wanita memilih untuk memiliki bayi pada usia yang terlalu tua untuk hamil. Ketika ada kesempatan untuk menunggu, wanita yang lebih dari 35 memerlukan perhatian secara medis lebih teliti selama mengandung. Resiko melahirkan bayi cacat meningkat setelah usia 35, dan ketika Anda melahirkan dengan mudah, Anda akan memerlukan beberapa tes tambahan dan pengawasan yang lebih dekat.

Hamil Berturut-turut            
Jika Anda sudah memiliki empat anak atau lebih, Anda bisa saja beresiko tinggi untuk tekanan darah tinggi, melahirkan secara prematur, pendarahan yang banyak, retained placenta, melahirkan tergesa-gesa, dan setelah melahirkan, Anda akan mengalami anemia. Anda akan memerlukan nutrisi yang baik dan tes lebih banyak, dan dokter bersalin Anda harus menjelaskan tanda tekanan darah tinggi untuk berhati-hati

Posisi yang tidak normal
Jika bayi Anda berbaring miring atau terbalik di dalam perut Anda, resiko untuk melakukan Caesar lebih tinggi, meskipun ini tidak terlalu diperlukan untuk kelahiran bayi yang sungsang. Untungnya, sebagian besar bayi memutar tubuhnya ke posisi yang tepat sebelum 36 minggu; sebaliknya, Anda boleh mengacu pada dokter kebidanan Anda yang - jika hal ini aman untuk dilakukan - akan mencoba memutar si bayi. Jika memungkinkan, Anda akan ditawari untuk melakukan Caesar, namun pastikan untuk mendiskusikan pilihan ini terlebih dahulu secara detail dengan dokter bersalin atau ahli kebidanan Anda - ketahui alasan dan cara supaya Anda lebih rileks dan nyaman ketika waktunya memiliki bayi tiba!

Gangguan kejiwaan
Badan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (The World Health Organization) menyatakan bahwa semua wanita membutuhkan beberapa dukungan emosional selama mengandung. Bagaimanapun, Anda mungkin membutuhkannya sedikit jika Anda tidak bahagia atau sedih tentang sesuatu - mungkin Anda pengangguran, dan Anda khawatir tentang menjadi seorang ibu, atau sedang bermasalah dengan pasangan Anda. Bahkan pindah rumah baru-baru ini bisa berpengaruh secara signifikan kepada kemampuan Anda untuk menguasai tugas sehari-hari.
Tidak ada alasan untuk menutupi kesulitan yang sedang dialami. Berbicaralah dengan seseorang - seorang teman, doker bersalin Anda, seorang dokter - dapat membuat Anda mendapat pandangan yang baru dan segar. Dengan mengurangi kegelisahan, badan Anda akan fokus dalam membuat kehidupan baru di dalam diri Anda. (Sumber http://www.mothercare.co.id/id/thingsto-watch)

2.12.14

Ini Kelebihan Anak yang Diberi ASI


Pemerhati perempuan dan anak, Dr Giwo Rubianto Wiyogo, menyatakan, anak yang diberikan air susu ibu (ASI) mempunyai imunitas yang tinggi dibandingkan dengan anak yang diberi susu formula.

Karenanya, ASI wajib diberikan kepada buah hati, karena merupakan hak anak. "Hak anak itu sejak dalam kandungan, karenanya ibu harus memberikan ASI kepada bayinya," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (15/9).

Acara itu terkait dengan puncak Pekan ASI Se-Dunia 2014 yang dirayakan Kementerian Kesehatan dengan mengusung tema nasional yakni "Menyusui: Kemenangan untuk Kehidupan".

Giwo menjelaskan, ASI juga meningkatkan ikatan ibu dan anak dan tentu saja lebih hemat karena tidak perlu membeli susu formula. "Sebagus apapun susu formula, tetap ASI yang terbaik," kata perempuan yang juga aktivis Aliansi Pita Putih Indonesia (APPI) itu.

ASI juga praktis karena orang tua tidak perlu membuatkan susu sebelum diberikan kepada anak. Ia menuturkan, keluarga, pemerintah, dan perusahaan juga harus mendukung pemberian ASI pada anak.

"Ibu-ibu muda yang sibuk bekerja umumnya tidak memberikan ASI kepada anaknya, karena itu perlu ada pemahaman mengenai pentingnya ASI," katanya.

Selain itu, perusahaan juga perlu mendukung pemberian ASI dengan menyediakan ruang laktasi. Tidak hanya sekedar ruangan tetapi juga dilengkapi fasilitas penunjang.

"Kalau di luar negeri, fasilitas yang diberikan di ruang laktasi itu lengkap, ada tenaga kesehatan dan fasilitas penunjang. Bukan sekedar formalitas," terang dia.
(Sumber  http://www.republika.co.id)

13.11.14

Mau Jadi Bunda cerdas??? Biarkan Buah Hati Bermain Air Dan Lumpur Sesuka Hatinya :)


“ADE, nggak boleh main air, nanti bajunya basah,” bunda Ade tiba-tiba berteriak.
Saat itu ade yang berusia 2 tahun lebih beranjak menuju keran air. Ade menghentikan langkahnya, kemudian berkata “Mau cuci tangan, Nda.”
“Nggak boleh di situ,” tukas bunda. “Ayo bunda gendong, di dalam aja cuci tangannya.”
Saya pun menghampiri kemudian bertanya, “Bun, Ade kenapa kok digendong?”
“Biasa Mi, suka pura-pura cuci tangan padahal mau main air,” jawab bunda.
“Ooh begitu, memangnya kenapa kalau Ade main air?” tanya saya kemudian.
“Waduh repot Mi, nanti bajunya basah, terus semua jadi kotor, baju kotor, halaman kotor, kerjaan saya nambah, nyuci jadi banyak, harus ngepel pula, cape deh,” serunya sambil tertawa.
Di lain hari, saya dan keluarga berkunjung ke rumah nenek. Letaknya di pinggir sawah. Anak-anak asik bermain di pematang. Saya mengamati mereka. Tak biasa berjalan di pematang membuat anak-anak senang karena bisa berlatih keseimbangan. Tiba -tiba anak tetangga datang menghampiri. Akhirnya ikut bergabung.
Ketika hendak bermain bersama tiba-tiba mama mereka muncul. ”Jangan main di sini, ayo pulang, nanti bajunya kotor, Mama kan capek nyucinya!” seru sang mama.
Raut muka anak itu menunjukan rasa kecewa yang dalam. Namun ia tetap pulang bersama mamanya. Sedangkan anak-anak asyik bermain. Akibat kurang fokus akhirnya hilang keseimbangan. Kemudian terjatuh ke dalam lumpur sawah. Mereka tertawa riang.
Apa yang dilakukan oleh “bunda” dan “mama” di atas sepertinya lumrah terjadi di sekeliling kita. Melarang anak mereka melakukan sebuah kegiatan dengan alasan mama nggak mau repot. Padahal kegiatan yang dilakukan anak akan menambah pengetahuan baginya. Apabila anak diberi kesempatan untuk berhubungan dengan berbagai jenis bahan, berbagai alat main, juga bebas bergerak di halaman dengan aman dan nyaman, maka semua ini akan mendukung setiap tahap perkembangannya.
Anak – anak pasti senang bermain air, pasir atau lumpur. Seharusnya orang dewasa memberikan tempat yang aman dan nyaman untuk mereka bisa bermain. Orang dewasa menyiapkan wadah juga alat main yang berhubungan dengan air, pasir atau lumpur. Perlu diperhatikan juga pendampingan penuh orang dewasa saat mereka bermain air, pasir, atau lumpur.
Saat anak bermain air menggunakan teko dan botolair mineral bekas. Mereka menuang dari teko ke botol, mengisi botol penuh atau setengah. Orang dewasa yang mendampingi akan bicara, “Wah air dari teko berpindah ke dalam botol, sekarang tekonya kosong. Lihat, ada botol yang isi penuh, ada botol yang isi setengah.”
Anak-anak mengenal volume dari satu kegiatan main air. Lalu air dalam botol diberi warna. Satu botol berwarna merah. Satu botol berwarna biru. Kemudian anak menuang air berwarna merah dan menuang air berwarna biru ke dalam satu wadah.
“Wah, ada warna baru yang dihasilkan dari campuran air berwarna biru dan air berwarna merah, sekarang airnya berwarna apa ya?” orang dewasa yang mendampinginya pun bertanya. Anak pun melakukan percobaan sains sederhana.
Saat bermain pasir dan lumpur anak bisa mendapat pengetahuan tentang tekstur lembut dan kasar. Apabila lumpur dicetak kemudian dikeringkan, anak akan belajar tentang perubahan bentuk dari cair ke bentuk padat. Sains sederhana dari lingkungan sekitarnya.
Subhanallah, dari kegiatan main air dan lumpur yang terlihat sepele saja anak mendapat pengetahuan luar biasa. Masihkah akan abai pada perkembangan anak hanya karena tidak mau repot maupun kotor?
Bila campur tangan orang dewasa berlebihan dalam melindungi anak, maka anak tidak dapat mengembangkan perasaan mampu. Anak-anak kita mampu menjadi anak-anak yang cerdas. Lalu, mampukah kita menjadi orangtua yang cerdas?(Sumber : Islampos.com)

Kopi Bisa Mengurangi Peradangan akibat Obesitas


 Wow...ada berita menarik Bunda tentang kopi,monggo disimak info dari detik.com berikut ini...


Kopi biasa digunakan sebagai senjata ampuh untuk mengusir kantuk di pagi hari. Namun ternyata, khusus orang dengan obesitas, kandungan tertentu dalam kopi diyakini memiliki manfaat lain lho.

Peneliti dari University of Georgia melaporkan chlorogenic acid (CGA) dalam kopi bisa mengurangi resistensi insulin dan akumulasi lemak dalam hati tikus meskipun tikus-tikus tersebut diberi makanan tinggi lemak. Ketua peneliti, Yongjie Ma menuturkan studi sebelumnya menunjukan orang yang mengonsumsi kopi berisiko kecil terkena penyakit kronik seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular seperti jantung.

"Kami mengembangkan penelitian ini dengan melihat manfaat yang terkait dengan adanya kandungan senyawa tertentu, yang jumlahnya sangat besar di dalam kopi yakni asam chlorogenic. Zat ini juga terdapat di buah-buahan lain," tutur Ma dalam laporannya di jurnal Pharmaceutical Researchdan dikutip pada Kamis (13/11/2014).

Untuk menguji terapi CGA, para peneliti memberi sekelompok tikus dengan pola makan tinggi lemak selama 15 minggu. Sambil melakukan hal itu, peneliti juga menyuntik tikus-tikus tersebut dengan CGA solution dua kali per minggu. Hasilnya, ditemukan bahwa CGA tidak hanya membantu mencegah kenaikan berat badan tetapi juga membantu menormalkan kadar gula darah dan komposisi hati yang sehat.

"CGA adalah antioksidan yang dapat mengurangi peradangan. Banyak bukti yang menunjukan bahwa obesitas terkait erat dengan penyakit yang disebabkan peradangan kronis. Kami berharap dapat meringankan beberapa efek negatif dari berat badan yang berlebihan meski tetap penting bagi Anda untuk berusaha menurunkan berat badan," papar Ma.

Ma menekankan, studi tersebut tidak menyarankan orang-orang untuk mulai mengonsumsi banyak kopi. Sangat disarankan untuk menciptakan terapi yang menggunakan CGA. Sebab, terapi CGA bisa membantu mengurangi risiko timbulnya penyakit yang disebabkan obesitas.

Menurut penelitian Center for Disease Control, satu dari tiga orang Amerika dan 17% dari anak-anak adalah penyandang obesitas. Biaya berobat tahunan penyandang obesitas pun bertambah hingga lebih dari ratusan triliun.